
Chiara… my little girl… my wife… kamu begitu dekat denganku, tapi begitu sulit untuk aku jangkau…. Kenapa itu harus kamu? Yang menjadi kriptonit bagiku? Kenapa harus ada dinding pemisah diantara kita sedangkan aku begitu mencintaimu, dan tidak bisa hidup tanpamu….
Aaron berkata dalam hati, memaksa dirinya untuk tidak terbawa emosi yang akan membuatnya tidak mampu menahan airmatanya untuk turun, karena rasa nyeri di dadanya saat ini.
Bagi Aaron, rasanya sungguh menyakitkan, menyadari bahwa Chiara yang begitu dicintainya tepat berdiri di depannya sekarang dengan jarak yang begitu dekat, sebagai istrinya yang sah, sebagai miliknya.
Tapi Aaron tidak bisa membiarkan dirinya untuk memeluk, mencium, dan menyentuh istrinya itu untuk menunjukkan betapa dia mencintai wanitanya itu.
Bahkan demi wanita tercintanya itu, suatu saat Aaron tahu dia harus merelakan dirinya untuk melepaskan Chiara dari sisinya, dan sungguh membuat Aaron selalu tersiksa saat memikirkan kenyataan itu,
Sekilas Aaron melirik ke arah Chiara yang sedang tersenyum-senyum sambil menggoyang-goyangkan lengan Aaron, dengan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Chiara… sebaiknya kita berangkat sekarang… sebelum kamu terlambat.” Dengan susah payah Aaron berkata sambil melangkah keluar dari kamar Chiara, sehingga mau tidak mau, Chiara harus melepaskan pegangan tangannya di lengan Aaron.
“Ah ya, maaf Om Aaron, aku sampai lupa.” Tanpa menyadari bahwa Aaron sengaja menghindari bertatapan dengan Chiara agar gadis kecilnya itu tidak melihat perubahan pada wajahnya, Chiara berkata dengan santai.
Bagi Chiara, keberadaan Aaron di dekatnya, sungguh membuatnya hampir melupakan segalanya, karena perasaan bahagia dan berbunga-bunga yang memenuhi hatinya.
# # # # # # # #
Zachary yang mendengar perintah Aaron di telepon barusan hanya bisa melongo sambil menutup panggilan telepon dari Aaron.
“Aku baru saja mengantar nona Angelina dan harus ke kantor untuk menyimpan berkas-berkas tadi, sekaligus mengurus tentang kepindahan Restu sebagai sopir pribadi nona Chiara. Tapi kenapa tiba-tiba pak Aaron memanggilku ya? Apa ada hal yang lebih penting yang sudah terjadi?” Zachary yang masih berkonsentrasi memegang kemudi mobil bergumam pelan sambil mengenyitkan dahinya.
Sebelumnya, Aaron yang sudah selesai mengantarkan Chiara untuk kerja kelompok di rumah Burhan, memutuskan untuk pergi ke café, menikmati secangkir kopi, untuk menenangkan pikirannya, sambil menunggu Chiara menyelesaikan kerja kelompoknya.
Dan di sela-sela waktunya menikmati secangkir kopi, Aaron ingat tentang tiket konser yang diberikan Romi kepada Chiara, sehingga dia segera menghubungi Zachary dan meminta asisten pribadinya itu untuk datang menyusulnya ke café tempat dia berada sekarang.
Butuh waktu lebih dari 30 menit untuk Zachary datang ke café yang sudah disebutkan oleh Aaron tadi.
“Selamat sore Pak Aaron.”
“Ooo, kamu sudah datang Zachary. Duduklah…” Aaron langsung menjawab sapaan Zachary sambil memeberikan kode kepada pelayan agar mendekat ke mejanya.
“Tolong catat pesanan Bapak itu.” Aaron langsung berkata kepada pelayan yang segera bergerak mendekat ke arah Zachary.
Wah… melihat tanda-tanda ini… pasti aku akan lembur lagi ini. Padahal tadi aku terlanjur bilang ke anakku kalau hari ini aku akan pulang tepat waktu dan membantunya mengerjakan tugas sekolahnya. Kira-kira tugas apa yang akan diberikan pak Aaron padaku kali ini ya?
“Aturkan agar kamu mengembalikan ini ke orang yang bersangkutan.” Zacharyd baru saja menghentikan perkataannya dalam hati, ketika Aaron langsung menyodorkan sebuah amplop bewarna merah muda kepadanya dan tanpa basa basi langsung memberinya perintah.
“Ini….”
“Tiket konser musik yang diberikan Romi kepada nona Chiara sebagai hadiah ulang tahun.” Aaron lansung memotong perkataan Zachary.
Aist… pak Romi ini, benar-benar cari masalah dengan pak Aaron. Sepertinya pak Romi belum menyerah tentang nona Chiara, padahal waktu itu aku berpikir kehadiran pak Diego bersamaku bisa membuat pak Romi sadar diri dan tidak lagi mengejar nona Chiara.
Zachary langsung mengejek kebodohan Romi dalam hati, merasa heran dengan sikap keras kepalanya Romi, sampai-sampai tetap berniat untuk menarik hati Chiara dengan cara memberinya tiket konser music seharga puluhan juta itu, karena sengaja membelikan tiket kelas VIP untuk Chiara.
“Pastikan kalau tiket itu diterima oleh Romi. Dan juga, belikan dua lagi tiket VVIP lainnya sebelum kamu mengembalikan kedua tiket itu pada Romi.” Zachary langsung tersenyum mendengar perintah Aaron.
(Sebutan VIP dan VVIP sering disebutkan dalam sebuah konser atau sebuah pertunjukan, meskipun diluar itu, juga bias digunakan untuk menyebutkan tingkatan ruangan rumah sakit, hotel dan gedung pertemuan. Yang lebih tinggi kelasnya adalah VVIP dengan fasilitas super lengkap dan istimewa.
VIP adalah salah satu akronim yang berasal dari bahasa inggris dengan kepanjangan Very Important Person. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti orang yang sangat penting.
Sedangkan untuk VVIP merupakan singkatan dari Very-Very Important Person, yang memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan VIP.
Hal ini sudah biasa ditemukan di tengah masyarakat untuk membedakan sebuah tingkatan untuk menyesuaikan apa yang dibutuhkan nantinya, seperti pelayanan dan fasilitasnya, ruang VVIP jauh lebih lengkap, lebih mahal, lebih mewah, dan pastinya lebih nyaman dibandingkan dengan VIP).
“Apa kedua tiket itu untuk nona Chiara Pak Aaron? Karena ini memang grup band kesukaan nona Chiara.” Zachary langsung menebak.
“Tidak! Bukan untuk nona Chiara.” Aaron menjawab dengan cepat.
“Berikan kedua tiket VVIP itu bersama dengan kedua tiket VIP di dalam amplop itu. Agar Romi tahu, bahwa nona Chiara tidak berhutang apapun padanya terkait tiket konser itu. Meskipun jika dipikir-pikir bukan salah nona Chiara mengembalikan tiket itu. Aku hanya ingin memberikan peringatan agar Romi sebaiknya berhenti mengejar nona Chiara mulai sekarang, atau peringatan berikutnya tidak akan selembut ini. Pastikan Romi tidak tahu kalau grup Malverich ada di balik semua ini. Biarkan dia berpikir bahwa Chiara memang sudah menolaknya mentah-mentah.” Meski Zachary tidak melihat aura marah di wajah Aaron, tapi dari kata-katanya, Zachary bisa tahu kalau Aaron merasa tersinggung dengan tindakan Romi yang berusaha menarik perhatian Chiara, yang merupakan istrinya.
“Dan seperti katamu tadi Zachary, belikan lagi tiga tiket VVIP untuk nona Chiara agar dia tetap bisa menikmati konser hari itu.” Dibalik senyumnya karena perintah Aaron barusan, Zachary sedikit mengeryitkan dahinya.
“Kenapa tiga? Bukannya dua Pak Aaron?”
“Tiga, biarkan Chiara menikmati konsernya bersama Grace dan Jaka. Aku tidak bisa menemaninya karena konser itu masih lama diadakannya. Dan waktu itu mungkin aku sudah kembali ke Amerika.” Aaron berkata sambil mengalihkan wajahnya, dan menyeruput kopi di cangkirnya, agar Zachary tidak bisa melihat bagaimana diapun tidak rela karena harus kembali ke Amerika dalam waktu dekat.
“Ooo, iya Pak Aaron.” Zachary berkata dengan suara pelan, seolah dia sedang berada pada posisi Chiara yang pastinya akan sedikit bersedih mendengar Aaron akan kembali ke Amerika lagi.