Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KEMARAHAN MONA



Bahkan dari sikap Aaron, Zachary bisa melihat kalau Aaron tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada Chiara.


Melihat mereka berdua ini, sebenarnya aku merasa kasihan. Harus saling menahan rasa rindu dan cinta mereka entah sampai kapan, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena semuanya berada pada tangan mereka berdua. Aku sebagai orang luar tidak berhak ikut campur. Aku hanya bisa mengamati dan melindungi mereka berdua sebisaku.


Zachary berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, sebelum akhirnya Zachary mencoba bersikap biasa lagi dan memulai pelajarannya pada Chiara.


Baru 10 menit Zachary mulai membahas masalah management dengan Chiara, sebuah nada dering yang merupakan nada panggilan telepon dari handphone Chiara membuat Zachary menghentikan penjelasannya dan gerakan tangannya untuk menulis di papan tulis.


"Pak Zac, maaf ya, aku terima dulu." Chiara langsung meminta ijin untuk menerima panggilan teleponnya, meskipun dari wajahnya Chiara merasa terbeban dengan menghela nafasnya.


"O, iya. Silahkan Nona...." Zachary langsung mempersilahkan Chiara.


Jika saja yang menghubunginya bukan Mona, Chiara sebenarnya ingin membuat handphonenya dalam mode silent, karena dia ingin fokus pada pelajaran yang diberikan Zachary untuknya.


Tapi ketika Chiara melihat nama Mona di layar handphonenya, mau tidak mau Chiara mengangkat panggilan teleponnya agar Mona tidak membuat masalah dengan memaki-makinya jika panggilan teleponnya tidak segera diangkat oleh Chiara.


"Hallo, selamat sore Tante." Chiara menyapa Mona dengan suara terdengar ceria, namun justru dibalas Mona dengan sebuah dengusan yang menunjukkan kekesalannya.


"Tidak perlu basa-basi Chiara! Jangan bersikap sok manis!" Tanpa menjawab sapaan dari Chiara, Mona langsung memaki Chiara dengan suara tinggi.


Bahkan karena terlalu kerasnya, suara Mona di telepon bisa didengar sayup-sayup oleh Zacahary yang berdiri tidak jauh dari Chiara, sedang merapikan lembaran kertas hasil pekerjaan Chiara yang diberikan oleh Zachary kemarin sore.


"Maaf Tante, kenapa tiba-tiba Tante Mona marah-marah pada Chiara?"


"Jangan bersikap sok polos! Pura-pura tidak tahu apa-apa, tapi ternyata kamu menusuk tante dari belakang! Kamu sudah seperti kacang lupa pada kulitnya!" Mona kembali berteriak, membuat Chiara yang awalnya duduk di kursi kerja milik Aaron, langsung bangkit dari duduknya.


Sedari awal, Aaron memang memberikan perintah pada Zachary, agar memberikan pelajaran untuk Chiara di ruang kerjanya yang ada di apartemen, yang sejak perginya Aaron juga menjadi ruangan yang biasa digunakan Chiara untuk belajar.


"Apa maksud Tante?" Chiara berkata sambil menyandarkan tubuhnya di salah satu sisi meja kerja Aaron.


"Tenang Tante... tenang.... Kenapa Tante tidak mencoba menghubungi om Aaron sendiri? Sepertinya tidak pada tempatnya Tante menghubungiku, karena Tante tahu usiaku belum 17 tahun, belum memiliki KTP. Jadi mana mungkin aku bisa mengatur hal-hal seperti itu untuk diriku sendiri?" Perkataan Chiara dengan nada suara tetap biasa-biasa saja justru membuat Mona bertambah marah.


"Kalau suamimu yang kurang ajar itu bisa tante hubungi! Aku tidak perlu menelponmu sekarang! Suamimu itu sejak kemarin bahkan tidak mau menerima satupun panggilan telepon dari Tante!" Pernyataan dari Mona cukup membuat Chiara kaget, sekaligus senang, karena ternyata Aaron ternyata juga tidak mau menerima panggilan telepon dari Mona.


"Waduh Tante... om Aaron kan memang sibuk sekali, karena Tante kan tahu, dia seorang pemilik Grup Malverich. Tidak akan ada banyak waktu luang untuk om Aaron bahkan untuk sekedar menerima telepon kalau itu tidak benar-benar penting. Jangan samakan om Aaron dengan laki-laki penggangguran yang bisa sewaktu-waktu menerima panggilan telepon dari sembarang orang Tante." Mendengar kata-kata Chiara yang diucapkannya sambil menahan senyumnya, membuat di seberang sana Mona yang sedang duduk di sofa, menancapkan jari-jari tangannya di sandaran lengan sofa dengan wajahnya yang kesal, dan hampir saja dia mengeluarkan suara geraman karena merasa begitu emosi.


"Atau begini saja Tante, coba Tante hubungi kantor resmi om Aaron di Amerika, minta dibuatkan janji dengannya. Kalau Tante beruntung, mungkin sebulan, dua minggu, atau paling cepat seminggu Tante bisa diberi kesempatan untuk menghubungi Om Aaron. Atau Tante langsung pergi saja ke Amerika? Datang ke kantornya langsung? Mungkin customer service di sana bisa membantu." Chiara kembali berkata dengan sikap santai, sambil melipat salah satu tangannya, sedikit menahan perutnya agar dia tidak kelepasan tertawa di depan Mona.


Zachary yang berdiri tidak jauh dari sana, langsung mengalihkan wajahnya, sambil ikut menahan senyum gelinya mendengar bagaimana cara Chiara mencoba mengerjai Mona.


"Sembarangan saja kamu bicara!" Mona langsung berteriak mendengar ide Chiara yang dianggapnya tidak masuk akal itu.


Pergi ke Amerika bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak persyaratan dan juga banyak dana yang diperlukan.


Bukannya Mona tidak mampu membayar biaya kepergiannya ke Amerika, tapi mengingat bagaimana sekarang dia akan sulit mendapatkan uang milik Chiara, dia merasa sayang kalau harus mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menemui Aaron, yang bisa-bisa sesampainya Mona di sana tetap tidak mau menemuinya.


"Lalu bagaimana dong? Aku sendiri sedang sibuk sekali Tante, makan saja kadang aku tidak sempat karena sibuknya, bahkan untuk menghubungi om Aaron aku belum ada waktu. Apalagi kalau Tante berencana mengajakku ke Amerika, aku tidak punya waktu, juga uang... Tante tahu kan seberapa besar uang bulanan yang biasa aku terima dari Tante selama ini. Bahkan buat uang jajanku saja terlalu pres...."


"Chiara! Kamu....!" Kali ini Mona tidak bsia menahan emosinya, karena kata-kata sindiran Chiara padanya, tentang uang jatah bulanan, yang memang tidak pernah diberikan seluruhnya oleh Mona kepada Chiara.


Anak kurang ajar! Apa karena dia sudah menikah dengan Aaron dia jadi berani melawanku? Aku harus segera melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka secepatnya.


Mona berteriak dalam hati dengan tangannya yang mencengkeram sandaran lengan kursi terlihat semakin erat, bahkan mulai terdengar gemeretak gigi dari dalam mulutnya.


"Maaf ya Tante... lagipula urusan wali, aku bisa apa? Aku kan masih anak di bawah umur, jadi tidak berhak mengeluarkan pendapat sedikitpun. Hanya om Aaron yang bisa memutuskan semuanya karena sekarang aku adalah istri om Aaron. Dia yang berhak mengatur semuanya untukku." Chiara kembali mengucapkan kata-katanya, untuk mempertegas posisi Aaron yagn sudah memiliki hak penuh atas perwalian Chiara, membuat Mona langsung bangkit berdiri dari duduknya dengan wajah memerah karena begitu marah.