
“Kalau begitu, sekarang kami persilahkan kak Romi untuk tampil, dan menceritakan kesan dan pesan untuk kita semua bisa dengarkan bersama. Dan belajar dari pengalaman kak Romi.” Perwakilan dari Universitas X berkata sambil menyodorkan mic yang dipegangnya, ke arah Romi yang langsung menyambutnya dengan senyuman manis, membuat siswa siswi yang hadir memberikan tepuk tangan mereka.
"Selamat siang semuanya...." Romi menyapa para siswa dengan sikap hangat, dan tatapan matanya memandang ke arah Chiara yang tampak menghela nafasnya begitu melihat sosok Romi mulai tampil dan mengucapkan salamnya.
Dan dengan sengaja, Chiara justru mengalihkan pandangannya ke samping, sibuk mencari cara agar dia tidak perlu menatap ke arah Romi yang sedang bersiap untuk mulai berbicara.
"Siang...." Sebuah jawaban yang terdengar antusias langsung terdengar memenuhi aula sekolah, terutama suara dari para siswi yang dibuat kagum dengan penampilan Romi yang cukup mempesona, apalagi didukung dengan wajah tampan dan latar belakangnya sebagai pengusaha perhotelan yang cukup besar di negara ini.
Sedang bibir Jaka langsung berdecih begitu mendengar teman-teman perempuannya yang menatap kagum ke arah sosok Romi.
Begitu juga dengan Grace yang langsung menyenggolkan siku tangannya ke lengan atas Chiara yang langsung menghela nafas di depan Grace dengan posisi kepala menoleh ke arah Grace.
“Jangan melihat ke arahnya Chiara.” Grace berbisik pelan, disambut dengan sebuah anggukan kepala dari Chiara yang dari awal sudah merasa bad mood melihat kehadiran Romi di sekolahnya siang ini.
“Saya merasa beruntung berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu di Universitas X yang sudah mengajarkan banyak hal pada saya. Banyak ornag berpendapat bahwa Universitas lokal kadnag kurang baik. Mereka terlalu fokus pada gengsi terhadap universitas yang ada di luar negeri, yang kadang kualitas pendidikannya belum tentu lebih baik dari milik negara kita.” Suara Romi yang memang cukup merdu di telinga, apalagi senyum manis selalu tersunging di bibir Romi, membuat orang yang tidak mengenalnya langsung merasa tertarik dan kagum.
“Memang beberapa universitas di luar negeri seperti Oxford, Harvard, Stanford merupakan universitas hebat dengan sistem pendidikan yang bagus. Tapi seperti kita tahu, banyak siswa siswi SMA yang memutuskan kuliah di luar negeri di universitas yang kualitasnya tidak lebih baik dari yang dimiliki oleh negara ini, hanya karena ingin dianggap hebat, karena merupakan lulusan dari luar negeri, padahal belum tentu ilmu yang mereka dapat belum tentu bisa mereka praktekkan dengan baik.” Kata-kata Romi langsung disambut anggukan kepala dari kepala sekolah dan guru-guru yang lain, yang merasa sependapat dengan kata-kata Romi barusan.
“Yang pasti, saya bisa berdiri di sini, dan sukses dalam karir, hal itu merupakan ikut serta dari para dosen dari Universitas X yang mendidik saya dengan sangat baik. Mereka memiliki jasa yang sangat besar hingga saya bisa sampai di titik ini sekarang.” Ucapan Romi kali ini langsung disambut tepuk tangan meriah dari para siswa dan juga alumnus dari Universitas X, yang tampak bangga mendengar kata-kata Romi.
“Dan kedatangan saya kali ini bersama para alumni Universitas X, bukan sekedar untuk mempromosikan almamater saya. Tapi secara khusus, mewakili perusahaan yang saya pimpin, saya akan memberikan donasi tambahan kepada sekolah ini, dan juga hadiah, beserta beasiswa kepada siswa siswi berprestasi di sekolah ini.” Romi berkata sambil mengarahkan matanya kembali ke arah Chiara yang masih berusaha mengalihkan perhatiannya dari sosok Romi.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa arti almamater adalah perguruan tinggi atau akademi tempat mahasiswa pernah belajar dan menyelesaikan pendidikannya.
Sejarah penggunaan Istilah Almamater diambil dari kebiasaan para orang tua di Yunani dalam mengisi waktu luang untuk mengajak anaknya mengunjungi tempat yang mempunyai nilai pendidikan. Waktu yang digunakan secara khusus untuk belajar bagi anak-anak mereka diserahkan atau dititipkan kepada seseorang yang dianggap bijaksana pada suatu tempat tertentu. Di tempat itulah, dengan bimbingan orang yang bijaksana (pintar) anak-anak dapat belajar, bermain maupun berlatih melakukan sesuatu sebagai bekal untuk menjalankan kehidupan orang dewasa nantinya.
Tempat ini menjadi scola in loco parentis yaitu lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu mereka. Lembaga pengasuhan atau pendidikan ini disebut Almamater (alma mater) yang artinya “ibu pengasuh” atau “ibu yang memberikan ilmu”).
Wah, pantas saja kepala sekolah dan guru-guru yang lain terlihat begitu menghormati si Romi itu. Ternyata dia sudah berkontribusi besar sebagai donatur pada sekolah ini.
Chiara berkata dalam hati begitu mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh Romi.
Perkataan Romi membuat Chiara merasa tidak tenang, bukannya dia terlalu percaya diri, tapi seperti yang dibicarakan temen-temannya tadi di belakangnya, dia merupakan salah satu siswa berprestasi yang seringkali mendapatkan beasiswa.
Terutama beasiswa yang memang mengutamakan prestasi, bukan beasiswa untuk siswa siswi yang kurang mampu.
Dan bagi Chiara, membayangkan bagaimana dia harus berjalan ke depan aula, lalu berdekatan dengan Romi, dan juga harus bersalaman dengan Romi, membuatnya merasa begitu malas.
Jika saja memungkinkan, Chiara ingin pergi menjauh, keluar dari aula dan tidak kembali lagi, tapi dia juga memikirkan bagaimana tidak sopannya jika dia berani melakukan hal seperti itu.