Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PESAN TENGAH MALAM



Cukup lama Chiara berjalan mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan lain yang ada di apartemen itu, bahkan sudah dua gelas air putih yang dia habiskan, tapi rasa kantuk tidak juga datang untuk menyapanya.


“Kalau begini terus, bisa-bisa besok aku tertidur di kelas. Amit-amit deh… pasti akan sangat memalukan. Apa aku minum obat tidur ya? Tapi di apartemen ini? Apa mungkin ada obat tidur?” Chiara bergumam pelan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tempat penyimpanan obat, karena tidak mungkin selarut ini dia membangunkan bu Ida dan Tia.


Setelah beberapa saat berusaha mencari dan tidak menemukannya, akhirnya Chiara kembali berjalan mengelilingi apartemen, sampai langkah kakinya membawanya di depan pintu kamar Aaron, dan membuatnya berdiri termangu di sana.


Dengan gerakan pelan dan terlihat ragu-ragu, Chiara meraih handle pintu kamar Aaron dan membukanya, lalu meraba dinding di sebelah kanannya untuk menyalakan lampu kamar itu.


Begitu Chiara melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa maskulin itu, Chiara bisa mencium bau harum khas parfum yang biasa dikenakan oleh Aaron, membuat Chiara tersenyum dan menarik nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya.


Dengan langkah pelan, Chiara duduk di atas tempat tidur Aaron, sambil menatap ke arah dinding kaca di kamar Aaron yang tirainya sudah tertutup rapat.


“Om Aaron pasti juga akan kesepian seperti aku saat tinggal sendirian di apartemen ini. Tapi kata pak Zac, om Aaron memang suka menyendiri, sehingga lebih betah tinggal di apartemen daripada di rumahnya sendiri.” Chiara berkata sambil menepuk-nepuk pelan tempat tidur yang sedang didudukinya itu.


“Oahem….” Tanpa disangka-sangka oleh Chiara, tiba-tiba saja rasa kantuk mulai menyerangnya, namun dia merasa begitu enggan kembali ke kamarnya.


Bau harum dari ruangan yang sedang dikunjunginya saat ini, sungguh membuatnya nyaman, bahkan membuatnya merasa tidak sendirian.


Dengan gerakan secepat yang dia bisa, Chiara langsung mengambil handphone yang ada di saku baju tidurnya yang berupa setelan kaos longgar dan celana pendek.


Om Aaron sudah tidur?


Chiara mengirimkan pesan kepada Aaron di tengah-tengah rasa kantuk yang sudah menyerangnya.


Sambil menggigit bagian bawah bibirnya, Chiara memandangi layar handphone di tangannya tanpa henti, menunggu jawaban dari Aaron, sungguh berharap kalau Aaorn memang belum tidur dan membalas pesannya.


Belum. Ini sudah lewat tengah malam. Apa kamu belum bisa tidur Chiara?


Pesan jawaban dari Aaron membuat Chiara tersenyum, sambil menggerakkan tubuhnya, dalam posisi berbaring di atas tempat tidur Aaron, yang membuatnya menarik nafas panjang, karena baginya, tempat tidur itu terasa begitu nyaman.


Om… bolehkan malam ini aku tidur di kamar om Aaron? Supaya aku merasa kalau ada om Aaron yang menemaniku di sini.


Cukup lama Chiara harus menunggu pesan jawaban dari Aaron kali ini, tidak seperti ketika dia menuliskan pesannya yang pertama tadi.


Karena Chiara tidak sadar, bahwa pesannya barusan, sudah membuat laki-laki tampan yang sedang duduk berselonjor di atas tempat tidurnya memegang dadanya yang berdetak dengan begitu kencang setelah membaca pesan dari Chiara yang dengan begitu polosnya mengatakan hal seperti itu padanya, yang merupakan seorang laki-laki normal, dengan usianya yang sudah cukup matang, mendekati kepala 3.


“Aduh… apa om Aaron marah karena permintaanku? Apa om Aaron emrasa terganggu?”


“Chiara… kamu ini benar-benar deh…. merepotkan om Aaron terus!”


“Kalau terus aku bersikap seperti anak-anak terus, bagaimana om Aaron akan menyukaiku?”


“Akh…! Benar-benar membuatku frustasi!”


“Dan aku tidak bisa menghapus pesan itu karena sudah terlanjur dibaca oleh om Aaron!”


“Benar-benar memalukan!”


Chiara mengomel-omel pada dirinya sendiri, merasa menjadi seorang anak yang sudah bersikap menyebalkan pada Aaron, karena sudah lebih dari 2 menit, Chiara menunggu pesan balasan dari Aaron yang tak kunjung tiba, membuatnya berpikir kalau Aaron merasa terganggu, atau bahkan marah karena pesan yang dikirimnya tadi.


Padahal di tempatnya, wajah Aaron sudah memerah dan menelan ludahnya dengan susah payah setelah membaca pesan Chiara yang membuat pikirannya melayang kemana-mana.


“Kenapa udara tiba-tiba terasa panas?” Aaron berkata lirih sambil mengipas-kipaskan telapak tangannya di depan wajahnya, dan membuka kancing teratas dari piyama tidurnya.


Dengan gerakan cepat, akhirnya Aaron bangun dari tidurnya, berjalan ke arah salah satu sudut ruangan kamarnya, dimana terdapat sebuah kulkas mini berisi minuman dingin, baik air mineral dan beberapa minuman kaleng dengan berbagai jenis.


Sebotol kecil air mineral dingin langsung tandas diminum oleh Aaron yang beberapa kali menghela nafasnya, saat mengingat pesan dari Chiara yang meminta ijin padanya untuk bisa tidur di kamarnya malam ini.


Hanya dengan membayangkan sosok mungil Chiara tidur meringkuk di atas kasur miliknya, membuat Aaron harus menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan keras, sebelum akhirnya Aaron kembali berjalan ke arah tempat tidur, dan kembali meraih handphone yang tadinya dia geletakkan begitu saja di atas tempat tidur setelah membaca pesan Chiara yang membuat jantungnya sampai saat ini terus berdebar-debar.


“Akh…. Apa permintaanku barusan benar-benar sudah keterlaluan dan membuat om Aaron tersinggung?” Chiara berkata sambil mengacak-acak rambut dengan kedua tangannya, dan kakinya bergerak cepat dengan gerakan menghentak-hentak di atas tempat tidur dengan wajah frustasi dan juga malunya.


Sebuah suara notifikasi adanya sebuah pesan baru yang masuk, membuat Chiara langsung menghentikan tindakannya dan segera membuka layar handphonenya.


Tidur saja di sana selama kamu mau. Toh sampai hari pernikahan kita, mungkin aku baru akan menggunakan kamar itu, dan itupun hanya 2 hari sebelum aku berangkat ke Amerika. Kalau kamu suka, selama aku tidak ada di sana, pakai saja kamar itu untukmu.


Pesan dari Aaron benar-benar membuat Chiara terharu dan hampir saja membuatnya menangis, tidak percaya kalau Aaron tidak menolak permintaannya sama sekali, apalagi sampai menegurnya, bahkan memberikan ijin lebih dari apa yang dimintanya.


Chiara hanya meminta ijin untuk malam ini, akan tetapi Aaron justru memberinya ijin untuk memakai kamar itu sesuka hatinya, selama dia ingin.


Terimakasih om Aaron. Terimakasih.


Chiara langsung membalas pesan Aaron dengan sikap haru.


Sama-sama. Sekarang tidurlah dengan nyaman, besok kamu harus pergi sekolah. Jangan lagi melihat handphonemu, segera letakkan dan tidur.


Pesan dari Aaron selanjutnya membuat Chiara langsung meletakkan handphonenya ke atas nakas yang ada di samping tempat tidur Aaron.


Setelah itu, Chiara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, yang sudah kembali merasakan kantuk dan membuatnya menguap beberapa kali.


"Selamat malam om Aaron, semoga tidur nyenyak malam ini...." Chiara yang sudah berada bersiap untuk tidur, berbisik pelan sambil membayangkan wajah tampan Aaron yang sedang tersenyum padanya.


Setelah itu, tidak butuh waktu lebih dari satu menit untuk membuat Chiara memasuki alam mimpinya.