
“Eh… Nona Chiara….” Suara Imelda terpaksa terhenti karena dilihatnya Chiara sudah benar-benar tidak perduli dengannya, dan tidak mau mendengar apapun tentang kata-katanya.
“Ah, sudahlah, kan aku sudah berusaha mengingatkan nona tentang perintah pak Aaron. Dan juga, seperti kata nona Chiara, di lingkungan ini memang dikenal aman, karena dijaga langsung oleh orang-orang di bawah perusahaan jasa keamanan milik pak Aaron sendiri.” Imelda berkata pelan dengan matanya memastikan kalau Chiara benar-benar masuk ke dalam supermarket yang dia katakan tadi.
Setelah yakin Chiara benar-benar hanya ke supermarket, akhirnya setelah menunggu cukup lama, Imelda memutuskan untuk melakukan perintah Chiara.
Mengembalikan mobil Chiara ke parkiran mobil yang ada di apartemen, dan dia sendiri bisa pulang ke rumah.
Sedangkan Chiara sendiri, sengaja tidak perduli dengan panggilan Imelda meski dia bisa mendengarnya tadi, karena yang diinginkan Chiara sekarang, segera membeli beberapa snack dengan rasa gurih kesukaannya dan beberapa minuman dingin untuk bisa dia nikmati, agar pikirannya yang kusut sedikit tenang.
Entah kenapa, meskipun tadi Aaron sudah menjelaskan bahwa dia tidak bisa menjemput Chiara karena ada hal penting dan mendesak harus dia selesaikan di kantor, tapi karena tadi ketika Aaron mengantarnya Chiara sempat mendengar rencana kedatangan Angelina, Chiara jadi berpikir bahwa kesibukan Aaron hari ini karena suaminya itu sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan Angelina.
# # # # # # # #
“Setelah sekian lama, akhirnya kita punya waktu untuk berdua juga.” Dani berkata dengan senyum di wajahnya, sambil menatap dengan tatapan penuh kerinduan kepada Revina yang duduk tepat di sampingnya saat ini, di sebuah restoran sederhana yang biasanya memang mereka kunjungi berdua.
Selama dua minggu ini, Dani memang seringkali lembur, untuk menyelesaikan semua tugas di posisinya sekarang, sebelum dua hari lagi, dia mendapatkan promosi sebagai supervisor, yang membawahi beberapa staff administrasi di bawahnya.
Dan pertemuan hari ini bersama Revina, Dani ingin memberitahukan kepada Revina tentang promosi yang sudah didapatnya, sekaligus membicarakan tentang masa depan mereka.
Setelah bertahun-tahun menjalin hubungan tanpa Revina mengijinkannya untuk bertemu dengan kedua orangtua Revina, dengan posisi jabatannya yang baru, Dani memiliki sedikit rasa percaya diri untuk mulai menunjukkan diri di depan Mona dan Raksa.
Hah… kalau saja kamu bukan seorang pegawai kantoran biasa, dengan wajahmu yang tampan dan selalu murah senyum itu, pasti menjadi perebutan banyak perempuan cantik, dan aku bisa bangga berdiri di sampingmu sebagai kekasihmu, bahkan istrimu. Sayangnya, itu tidak mungkin terwujud, karena takdirmu, tidak memberimu kesempatan untuk kamu menjadi laki-laki kaya.
Revina berkata dalam hati sambil membalas senyum Dani, berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan Dani.
“Maaf ya, sejak beberepa waktu ini aku sibuk sekali, jadi tidak bisa menemuimu. Tapi jangan khawatir, semua kesibukan yang aku lakukan, demi masa depan kita.” Dani berkata sambil menyodorkan sesuatu kepada Revina, sekotak coklat Ferrero rocher yang begitu disukai oleh Revina, apalagi saat moodnya sedang tidak baik.
(Cokelat Ferrero rocher diproduksi oleh perusahaan cokelat asal Italia, bentuknya yang bulat dan kecil membuat cokelat ini praktis dimakan hanya dalam satu kali gigitan saja.
Ferrero Rocher adalah merek permen cokelat yang dibuat oleh perusahaan manisan Ferrero SpA, yang juga membuat Tic Tac dan Nutella. Cokelat ini dibuat dari wafer yang diberi kacang hazelnut dan diisi dengan krim hazelnut dan di luarnya dilapisi oleh cokelat susu dengan kenari dan hazelnut yang dihancurkan. Permen ini mengandung 72 kalori (304 kJ), cokelat ini dijual dengan kotak dan dibungkus dengan bungkusan berwarna emas.
Ferrero Rocher diperkenalkan pada tahun 1982 di Eropa. Ferrero Rocher diproduksi oleh bisnis keluarga di Italia yaitu Ferrero Group. Michele Ferrero, penemu Ferrero Rocher, menamai cokelat itu dengan nama sebuah gua di kuil Katolik Roma di Lourdes. Rocher berasal dari bahasa Prancis dan berarti batu atau bebatuan).
Mata Revina memandang ke arah kotak coklat berharga ratusan ribu itu dengan tatapan mata terlihat ragu.
Jika biasanya Revina akan langsung mengambil dan menikmati coklat itu, kali ini Revina hanya bisa memandangnnya sambil menarik nafas panjang, membuat Dani mengernyitkan dahinya dengan wajah heran.
‘Kenapa denganmu Revina? Apa kamu marah padaku karena selama beberapa minggu ini tidak bisa bertemu denganmu karena kesibukanku?” Dengan nada suara terdengar merasa bersalah, Dani langsung bertanya kepada Revina yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan untuk menjawab pertanyaan Dani.
“Lalu kenapa denganmu hari ini? Apa kamu sedang dalam masalah? Apa mamamu kembali memaksamu untuk menghadiri acara kencan buta lagi?” Dani mulai merasa khawatir melihat Revina yang tidak seperti biasanya hari ini, terlihat jadi pendiam dan terlihat seperti orang bingung.
Karena Mona memang ingin Revina menikah dengan laki-laki kaya, sehingga seringkali meminta Revina untuk menghadiri kencan buta dengan para pria kaya, dan Dani tahu itu.
Meskipun secara resmi, diantara Revina dan Dani mereka memang sepasang kekasih, tapi dengan alasan belum siap untuk memperkenalkan Dani sebagai kekasihnya, membuat Dani harus selalu siap menelan pil pahit saat mendengar rencana kencan buta dari Revina, meskipun Revina selalu menepati janjinya kepada Dani untuk sekedar menghadiri acara kencan itu, tanpa benar-benar menerima laki-laki yang ditemuinya sebagai kekasihnya.
“Permisi, apakah Anda berdua sudah siap untuk melakukan pemesanan?” Suara pelayan restoran yang mendekat ke meja mereka, membuat Revina dan Dani spontan menoleh ke samping, dan menghentikan pembicaraan mereka.
“Ooo, iya.,.. sebentar….” Dani berkata pelan sambil tersenyum dan melihat buku menu yang sedari tadi tergeletak di depannya.
Meskipun saat ini perasaan Dani sedang merasa tidak enak, tapi bagaimanapun, mereka harus memesan makanan, minimal minuman, karena sudah terlanjur masuk dan duduk di dalam area restoran itu.
“Aku pesan satu porsi nasi goreng seafood dan segelas jus jambu merah. Kamu pesan apa Revina?”
“Segelas jus alpukat.” Revina berkata singkat.
Dan pesanan Revina yang hanya berupa segelas minuman, sedangkan biasanya Revina pasti memesan makanan dan beberapa snack, membuat Dani langsung mengerutkan keningnya.
“Cukup hanya itu pesananmu Revina? Apa kamu tidak lapar?” Dengan sabar, Dani berusaha membuat suasana tetap tenang, meskipun saat ini di dadanya begitu banyak pertanyaan yang mengganjal tentang sikap Revina padanya yang berubah 180 derajat hari ini.