
Hah? Hidup dengan normal dan aman? Mask men benar-benar seorang yang naif dan terlalu percaya diri. Selama manusia normal hidup di sekeliling kita masih ada dan memimpin dunia... dengan keegoisan dan sifat serakah mereka, kita manusia korban mutasi pasti akan tetap tersisih dan menjadi bulan-bulanan mereka." Aldrich berkata dengan sikap dan wajah meremehkan.
"Dimanapun, yang lemah harus menurut dan tunduk pada yang kuat. Termasuk para manusia bodoh dan lemah yang ingin menjadikan kita obyek percobaan karena menginginkan kekuatan kita. Mereka harusnya memang menjadi budak kita!" Aldrich kembali mengucapkan kata-katanya dengan wajah terlihat kesal.
"Aaron Malverich? Dengan kekayaannya yang tidak terbatas adalah mask men? pantas saja selama ini kita begitu sulit untuk melacak keberadaannya. Dia bukan hanya memiliki kekuatan fisik, tapi secara finansial, dia juga sangat kuat. Tidak heran perasaanku selalu mengatakan kalau mask men, bukanlah manusia biasa di dunia manusia normal. Ternyata...." Aldrich berkata sambil m,enarik nafas panjang.
"Kita harus segera menyusun rencana untuk menemukan keberadaannya. Hanya dua pilihan untuknya, bergabung dengan kita, atau kita hancurkan dia bersama dengan seluruh pengikutnya, entah itu mutan atau manusia biasa!" Suara Aldrich terdengar sedikit tinggi saat menyampaikan keinginannya itu.
"Sudah begitu lama, mask men dan kelompoknya selalu menjadi penghalang bagi kelompok kita saat beraksi. Sudah saatnya, kita menghadapinya secara langsung. Segera kumpulkan semua kekuatan kita yang ada. Kita akan segera menyusun strategi untuk berperang secara terbuka dengan mask men dan kelompoknya. Kalau dia menolak untuk bergabung dengan kita, segera kita hancurkan mereka semua, sehingga kira mejadi satu-satunya kelompok manusia super yang akan menguasai dunia!! Aku Aldrich! Tidak akan menerima penolakan dan kekalahan!" Aldrich mengakhiri perkataannya dengan menggebrak meja yang ada di depannya.
“Dan untuk melumpuhkan seseorang, kita perlu mencari kelemahan terbesar dia. Aaron Malverich…. Kita-kita, apa dia pria yang setia dan mencintai istrinya yang masih remaja itu? He… he… he….” Aldrich mengakhiri kata-katanya sambil tertawa nyaring dengan wajah terlihat menyeringai, dengan suara yang terasa tidak enak didengar di telinga, membuat bulu kuduk berdiri.
“Kumpulkan semua anggota kita, termasuk manusia-manusia hasil mutasi yang sudah kita ciptakan dengan penemuan kita. Aku sendiri yang akan melatih mereka dengan baik dalam beberapa waktu ini. Sebelum kita semua pergi mennyusul mask men, dan melumpuhkannya!” Aldrich berkata sambil memutar-mutar kursi kebesaran tempatnya duduk, merasa senang, untuk saat ini dia merasa lega akhirnya berhasil mendapatkan info tentang siapa mask men sebenarnya, yang sudah begitu lama di acari.
Dan ternyata, mask men adalah seorang pengusaha sukses yang nama besar keluarganya seringkali disebutkan karena kekayaan dan kesuksesan mereka dalam dunia bisnis, keluarga Malverich.
# # # # # # #
“Apa maksudnya dia melakukan ini padaku?” Revina berteriak dengan wajah terlihat begitu frustasi sekaligus khawatir.
Sudah seminggu ini Richard begitu sulit untuk dihubungi dan lama sekali dalam membalas pesan-pesan dari Revina.
Terakhir Revina menanyakan kapan dia akan kembali ke Indonesia, karena pernikahan mereka sudah tinggal menunggu hari, dan Richard hanya menjawab beberapa hari lagi dia akan segera terbang kembai ke Indonesia.
Jika beberapa hari lalu, Revina masih menerima pesan balasan dari Richard tentang janjinya untuk segera kembali dan menyelesaikan semuanya, termasuk pengembalian uang muka apartemen yang dia pinjam dari Mona, pembayaran sisa harga apartemen, juga penggantian semua biaya yang keluar untuk persiapan pernikahan mereka…..
Akan tetapi, sejak pagi tadi, Revina selain tidak bisa menghubungi Richard, semua pesan teks yang dia kirimkan pada Richard, tidak ada satupun yang terkirim.
Dan baru saja Revina mencoba menghubungi Richard, tapi nomer yang ditujunya justru tidak aktif.
Puluhan, mungkin sudah ratusan kali Revina berusaha untuk menghubungi Richard, tapi yang dia dapatkan hanyalah pesan dari operator yang menyatakan bahwa nomer telepon Richard tidak aktif atau di luar jangkauan area, membuat Revina semakin frustasi.
“Kenapa denganmu Revina? Jangan berteriak-teriak seperti orang gila, ingat anak dalam kandunganmu.” Mona yang kebetulan lewat di depan kamar Revina dan mendengar teriakan Revina, langsung masuk ke kamar Revina dan menegur anak perempuannya itu.
“Ma….” Revina langsung berjalan mendekat ke arah mamanya dengan yang terlihat hampir menangis karena rasa kesalnya yang sangat besar.
“Kamu kenapa? Wanita hamil tidak boleh terlihat emosi seperti dirimu. Memang siapa yang sudah membautmu marah seperti itu? Apa Chiara?” Mona bertanya dengan mencibirkan bibirnya, karena mengingat sosok Chiara yang selalu membuat dia dan Revina merasa iri setelah menikah dengan Aaron.
“Tidak… sudah lebih dari seminggu ini aku bahkan tidak pernah menghubungi Chiara. Terakhir aku pergi mengunjunginya sambil mengantarkan undangan pernikahanku untuknya. Dan kami tidak banyak bicara waktu itu.” Revina berkata sambil menghela nafasnya, mengingat bagaimana indah dan mewahnya apartemen tempat Chiara dan Aaron tinggal.
Awalnya dia hanya menahan nafasnya melihat apartemen yang ditinggali Chaira untuk kedua kalinya itu, karena Revina sudah membayangkan bagaimana apartemennya sendiri yang akan ditinggali olehnya dan Richard, akan dia buat semewah dan seindah mungkin agar para kenalannya terpukau dengan pandangan mata kagum dan takjub saat nanti mereka berkunjung ke apartemennya.
Namun sekarang, justru Richard benar-benar membuatnya khawatir karena tidak bisa dihubungi sama sekali.