
"Itu yang sedang kami selidiki Pak Arya. Hanya saja sedari tadi tidak ada suara apapun dari dalam lift, yang didengar oleh bagian front office maupun bagian kemanan. Kami juga baru tahu ada kerusakan lift setelah seseorang melaporkannya kepada kami. Dan dia adalah salah satu penghuni apartemen yang kebetulan akan menggunakan lift nomer 4 ini." Petugas keamanan itu kembali memberikan penjelasan kepada Arya yang terlihat menarik nafas panjang, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oke kalau begitu, selamat bekerja, semoga bisa segera diperbaiki liftnya, juga segera diketahui penyebab kerusakannya, juga segera bisa ditemukan siapa pelakunya." Arya berkata sambil menepuk pelan bahu petugas keamanan yang langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Arya.
"Ayo kita ke atas, sudah malam ini." Arya berkata sambil berjalan ke arah lift lainnya, diikuti oleh Brandon dan Chiara yang mau tidak mau ikut dalam lift yang sama dengan mereka kalau tidak ingin dianggap sombong dan tidak sopan, kalau dia memilih naik ke lift yang berbeda.
"Kamu ke lantai berapa Chiara?" Setelah dia memencet lantai 5, Brandon bertanya kepada Chiara yang sedikit tersentak kaget.
"Eh.... anu... lantai 8." Dengan asal-asalan, Chiara menyebutkan lantai 8, karena tidak ingin Brandon maupun Arya mengetahui bahwa di lantai paling atas dia tinggal, apartemen yang merupakan milik Aaron, pemilik gedung apartemen mewah ini.
"O, berarti kami turun duluan. Sampai ketemu lagi ya." Brandon berkata sambil melangkah keluar dari pintu lift yang sudah terbuka karena lift sudah berada di lantai 5.
"Iya, terimakasih, selamat malam Kak Brandon, Pak Arya." Chiara berkata sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Baik Brandon dan Arya langsung tersenyum sambil melambaikan tangan mereka ke arah Chiara yang dengan buru-buru langsung menutup pintu lift kembali, dan memencet nomer lantai yang sebenarnya dia tuju.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta." Arya berkata sambil membuka pintu apartemennya, dan tersenyum ke arah Brandon sambil mengerlingkan matanya.
Brandon yang sedang digoda oleh Arya, hanya tersenyum simpul tanpa mengiyakan atau menyangkal perkataan Arya.
"Kalau memang begitu tertarik, kenapa tidak meminta nomer teleponnya tadi?" Perkataan Arya membuat Brandon tertawa kecil.
"Aku kan ketua panitia ospek, pastilah sudah aku simpan nomer handphonenya. Hanya saja, sepertinya dia gadis yang sulit didekati. Meskipun terlihat ramah dan ceria, kebanyakan teman-temannya perempuan semua. Cuma satu teman laki-lakinya yang selama ini pernah aku lihat cukup dekat dan sering bercanda dengannya. Beda kampus, dan sikapnya... ampun, sudah seperti induk ayam yang galaknya amit-amit deh." Brandon berkata sambil menghempaskan tubuhnya di samping Arya yang sudah duduk di sofa sambil melepaskan kancing kemejanya yang paling atas, dan juga menarik bagian bawah kemejanya yang sebelumnya terlihat rapi dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya.
Perkataan Brandon membuat Arya tersenyum, ikut merasa senang karena sepupunya itu mulai tertarik dengan yang namanya perempuan, padahal biasanya dia dikenal dingin bahkan kejam kalau itu urusannya dengan perempuan, apalagi yang merupakan juniornya.
Karena Brandon merupakan anak tunggal yang selalu dipenuhi keinginannya oleh kedua orangtuanya, membuatnya mau menang sendiri, apalagi dia belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta dengan seseorang, dimana itu membuatnya harus rela berkorban dan mengalah.
# # # # # # #
Begitu sampai dan masuk ke dalam apartemennya, dengan bergegas, Chiara segera berlari ke kamarnya, melemparkan tasnya ke atas tempat tidurnya, dan segera mengambil posisi duduk di tepian tempat tidur, untuk bisa segera membuka pesan dari Aaron yang sudah membuatnya sangat penasaran.
Setelah sekian purnama, baru kali ini Aaron membalas pesannya, membuat Chiara merasa begitu bahagia, bahkan dadanya saat ini bergedup dengan kencang karena begitu gugup, memikirkan apa yang dituliskan atau dikirimkan Aaron padanya.
Sudah selarut ini, kenapa kamu masih berada di luar?
Chiara cukup tersentak kaget begitu membaca pesan dari Aaron yang menegurnya karena sudah larut dia masih berada di luar, seolah-olah Aaron benar-benar ada di dekatnya saat ini.
"Apa mungkin karena om Aaron melihat foto yang aku kirimkan beberapa waktu lalu ketika aku sedang di toserba ya? Makanya om Aaron tahu aku sedang diluar tadi?" Chiara bergumam pelan sambil melihat ke arah foto yang sekitar satu jam lalu dia kirimkan kepada Aaron, saat dia mengantri di toserba dan Brandon tanpa sengaja ikut terfoto.
Iya om. Aku belanja di toserba tadi, membeli gula dan sabun, juga jajanan dan minyak kayu putih.
Chiara segera membalas pesan dari Aaron, meskipun kali ini, dia tidak berharap Aaron membalas pesannya, karena seperti biasanya, Aaron hanya akan membacanya tanpa membalasnya.
Tapi sebuah pesan masuk kembali dari Aaron yang belum ada satu menit dari Chiara mengirim pesan balasan, membuat Chiara sedikit melongo dengan mata menatap ke arah layar handphone dengan tatapan tidak percayanya.
Kali ini Chiara berkata dalam hati dengan sikap bingung, meskipun di sisi lain, dia merasa senang sekali Aaron mau membalas pesannya.
Lain kali suruh bu Ida atau Tia untuk belanja. Tidak perlu kamu sendiri yang berbelanja, apalagi sampai selarut ini.
Balasan pesan dari Aaron membuat Chiara merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan hati terasa galau.
Kenapa dengan om Aaron hari ini? Kenapa pesan-pesannya terlihat seperti orang yang sedang marah? Lalu... kenapa om Aaron harus marah? Apa om Aaron marah padaku karena ada hal buruk yang sudah aku lakukan?
Berbagai pertanyaan langsung timbul silih berganti di dalam otak Chiara.
Om Aaron... apa om Aaron marah padaku? Apa Chiara sudah berbuat salah om?
Chiara mengirimkan pesan lagi kepada Aaron. Dan kali ini, sampai seperempat jam kemudian, Chiara tidak lagi mendapatkan pesan balasan dari Aaron.
Hal itu membuat Chiara akhirnya menyerah untuk menunggu, dan meletakkan handphonenya ke atas nakas, lalu pergi membersihkan diri di kamar mandi, bersiap untuk tidur.
# # # # # # #
Aaron yang sedang duduk di kursi kerja yang ada di kantornya, tampak mengepalkan tangan kanannya yang bertumpu di atas meja kerjanya.
Sesekali Aaron tampak menarik nafas dan menghembuskannya, untuk mengatur kekuatan pada dirinya yang cukup terkuras setelah dia melakukan teleportasi dari Amerika ke Indonesia, dan dalam waktu kurang dari 30 menit, dia kembali melakukan teleportasi dari Indonesia ke Amerika.
Aaron yang sekarang sedang memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya, teringat kembali tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.
Begitu melihat foto Chiara yang sedang tersenyum manis di depan kamera yang dikirimkan oleh Chiara tadi, mata Aaron langsung menatap tajam ke arah Brandon yang tidak sengaja ikut terfoto, dimana Brandon sedang tersenyum dan menatap ke arah Chiara, dengan tatapan kekaguman dan penuh cinta, yang bisa dengan jelas dilihat oleh Aaron sebagai sesama pria.
Foto itu membuat tanpa berpikir panjang, Aaron langsung melakukan teleportasi ke tempat Chiara berada, membuat Aaron melihat bagaimana Brandon yang sengaja mendekati Chiara, bahkan menunggu Chiara yang mengantri di kasir, dan juga Brandon yang tetap menunggu Chiara yang kembali lagi ke toserba untuk membeli minyak kayu putih untuknya.
Begitu melihat pemandangan Brandon yang sedang berjalan keluar toserba bersama Chiara, dengan gerakan cepat, Aaron masuk ke gedung apartemen dan naik ke lift nomer 4, bukan lift pribadinya.
Sambil memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang mulai memburu dengan detak jantungnya yang terasa cepat karena rasa cemburu yang sedang membakar hatinya, tangan Aaron yang terkepal, tanpa sengaja mendorong dan menekan salah satu sisi lift sehingga membuatnya penyok.
Karena dipenuhi dengan rasa cemburu yang tidak dapat dia kendalikan, tanpa sadar, Aaron mengeluarkan kekuatan supernya sehingga merusak bagian dalam dinding lift itu.
Tindakan Aaron itu sempat membuat lift macet, dan dengan kekuatannya, Aaron memaksa membuka pintu lift, sehingga beberapa kabel jadi terputus.
Dan tanpa perduli, Aaron melesat ke arah ruang cctv, dan memanfaatkan kelengahan petugas untuk dia dengan cepat menghapus beberapa rekaman yang menunjukkan rekaman saat dia masuk dan keluar dari lift apartemen nomer 4.
Setelah itu Aaron sempat masuk ke apartemennya untuk menunggu kepulangan Chiara, dengan wajahnya yang terlihat masih terlihat jelas emosinya.
"Hah...." Mengingat kejadian dalam lift itu membuat Aaron mend... esah pelan.
Dia tadi hampir saja memutuskan untuk menunggu Chiara di dalam apartemen, di ruang tamu, sehingga saat Chiara masuk ke dalam apartemen, dia bisa langsung menegurnya dengan alasan pulang terlalu larut, bahkan jika memungkinkan, ingin sekali Aaron menjewer telinga Chiara atau memukul pant... tatnya, begitu gadis itu pulang.