Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
SIKAP CHIARA



"Eh... aku merasa aneh. Kenapa pesan balasan yang dikirimkan oleh om Aaron terasa seperti orang yang tidak ingin aku mengiriminya pesan lagi. Dan seolah-olah, pesanku selama ini hanya menggganggunya saja. Apa aku sudah melakukan suatu kesalahan besar yang membuat om Aaron marah padaku?" Chiara berkata dengan suara pelan, sekaligus nada suara terlihat bingung.


Bagi Chiara, kata-kata Aaron, yang memberitahukan keinginannya untuk sementara waktu ini Chiara tidak lagi mengirimkan pesan pada Aaron, membuat Chiara cukup kaget.


Dan pertama kali yang terbersit dalam pikiran Chiara begitu membaca pesan Aaron adalah bahwa dia pasti sudah melakukan sesuatu yang membuat Aaron marah atau kecewa, sehingga Aaron meminta Chiara untuk tidak lagi mengirimkan pesan padanya.


Mendengar perkataan Chiara, dengan cepat Grace meraih handphone Chiara, dengan wajah yang terlihat bertambah penasaran.


"Sini... biar aku lihat...." Chiara yang masih sangat kaget karena pesan Aaron, bahkan langsung melamun sehingga tidak sadar kalau hanpdhonenya sudah berpindah tangan ke tangan Grace.


“Aduh…. Apa maksudnya ini?” Wajah Grace ikut berubah tegang begitu membaca pesan dari Aaron.


Dengan gerakan pelan dan lemas, Grace memberikan kembali handphone milik Chiara dengan cara menyodorkan ke arah Chiara.


Namun, Chiara masih saja terdiam, tanpa menerima handphone yang sedang tersodor di depannya.


Melihat Chiara yang melamun, akhirnya Grace menarik tangan Chiara, dan meletakkan handphone ke atas telapak tangan Chiara, lalu menggerakkan jari-jari tangan Chiara agar menggenggamnya agar benda itu tidak terjatuh.


“Chiara….” Akhirnya Grace berkata pelan menyebutkan nama Chiara yang dilihatnya masih melamun.


“Eh, iya….” Dengan tergagap Chiara segera menjawab panggilan dari Grace.


“Lebih baik, kamu kirimkan pesan balasan ke om Aaronmu, tanyakan dengan jujur, dan minta penjelasan kepadanya, tentang pesan aneh yang dia tuliskan padamu itu. Apa maksudnya dia menuliskan pesan yang menyebalkan seperti itu. Bisa-bisanya dia memperlakukanmu seperti orang yang tidak dikenalnya.” Grace berkata dengan emosi.


“Benar-benar menyebalkan om Aaron itu. Kalau bisa bertemu dengannya, aku pasti akan langsung protes padanya, dan menanyakan apa maksud semuanya ini."


“Aku pikir om Aaron adalah laki-laki yang paling baik yang pernah aku kenal.”


“Sungguh tidak bisa dipercaya, om Aaron tega-teganya melakukan hal seperti ini padamu Chiara. Sebentar terlihat begitu perduli padamu seperti sikap seorang laki-laki yang mencintaimu, tapi baru beberapa hari kalian menikah, dia sudah terlihat seperti seorang pria yang membencimu dan tidak ingin ada hubungan apapun lagi denganmu.”


Grace terus saja mengomel, sedang Chiara masih tetap dalam posisi diam.


Mendengar bagaimana Grace yang terus mengomel beberapa saat, bagi Jaka sudah cukup, dan dia tidak ingin membuat Grace terus mengomel sepanjang hari ini.


“Jaka! Bagaimana sih? Kamu kok tidak berkomentar apapun tentang hal ini? Apak amu tidak setuju dengan pendapatku? Apak amu sebagai sesame laki-laki mau membela om Aaron?” Teriakan Grace padanya membuat Jaka terlihat salah tingkah, dengan salah satu tangannya memegang bagian tengkuknya.


“Aku harus berkomentar apa Grace?” Jaka berkata pelan dengan sikap kikuknya.


“Ya…. Sebagai teman dekat Chiara, kita harus membela Chiara. Jadi menurutmu, sebagai laki-laki, apa pendapatmu tentang pesan dari om Aaron pada Chiara itu? Apa yang terjadi sampai om Aaron bisa menuliskan pesan yang menyakitkan seperti itu?” Grace bertanya dengan mata sedikit melotot ke arah Jaka, membuat Jaka melenguh dalam hati.


Kok Grace sepertinya jadi menganggap aku om Aaron sih? Dasar Grace, bisa-bisanya dia bersikap padaku seperti aku yang sudah menuliskan pesan seperti itu pada Chiara. Hih! Perempuan seperti Grace, kalau sudah mengomel dan marah, sungguh mengerikan.


Jaka berkata dalam hati sembil menghela nafasnya, menahan dirinya untuk tidak bergidik setelah mendengar omelan Grace yang panjang dan lebar.


“Sudahlah… kalian jangan ribut sendiri. Memang aku dan om Aaron belum terlalu saling mengenal, kami berdua masih asing satu sama lain untuk bisa disebut sebagai orang yang saling kenal apalagi dekat. Aku tidak masalah kok dengan pesan om Aaron.” Grace langsung melotot tajam mendengar perkataan dari Chiara.


“Apa maksudmu tidak masalah Chiara? Pesan om Aaron itu benar-benar bersamasalah….”


“Jangan salah paham dengan om Aaron Grace. Kamu tahu kalau pernikahan kami bukan seperti pernikahan pada umumnya. Daari awal pernikahan kami hanyalan sebatas pernikahan kontrak, yang akan berakhir 4 tahun lagi. Om Aaron berbaik hati mau menikah denganku karena ingin menyelamatkanku dari tangan Romi dan juga tante Mona. Jadi tidak salah kalau dia menuliskan pesan seperti itu….” Perkataan Chiara, mau tidak mau membuat emosi Grace mereda, dan berganti dengan rasa simpati sekaligus ikut sedih mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Chiara dengan nada suaranya yang terdengar pasrah itu.


“Dari awal om Aaron memang ingin aku menyelesaikan pendidikanku dengan baik, agar aku bisa menjadi wanita sukses di masa depan. Dia hanya ingin aku fokus mengejar impianku. Dari awal om Aaron memang mengatakan keinginannya agar aku menikmati masa remajaku meskipun sudah menikah. Tidak masalah… aku akan belajar dengan sungguh-sungguh, dan menjadi wanita yang layak bersanding dengannya di masa depan. Tenang saja… aku akan menunggu saatnya dimana aku bisa menunjukkan pada om Aaron tentang semua hasil kerja kerasku.” Chiara menghentikan kata-katanya sejenak.


“Dan jika saat itu tiba, aku ingin dia benar-benar jatuh cinta padaku, sehingga kami tidak lagi terpisahkan.” Chiara melajutkan kata-katanya dengan nada terdengar begitu optimis.


Grace yang awalnya merasa sebal dengan Aaron, dan juga merasa kalau Chiara terlalu membela Aaron, tapi begitu melihat nada optimis dari perkataan Chiara, dan juga wajah Chiara yang terlihat begitu bersemangat saat mengatakan tentang semua itu, membuat Grace mengurungkan niatnya untuk menyanggah kata-kata Chiara barusan.


“Berarti, kamu tidak akan lagi menuliskan pesan pada om Aaronmu? Tidak akan bertanya apapun kepada om Aaron kenapa tega-teganya dia menuliskan pesan seperti ini padamu?” Grace kembali bertanya, kali ini dengan nada suara terdengar biasa-biasa saja, tidak lagi seemosi tadi.


“Tidak… aku akan berusaha menahan diriku untuk tidak menuliskan pesan pada om Aaron. Toh masih ada pak Zac, aku bisa menanyakan kabar om Aaron lewat pak Zac. Dan aku yakin jika om Aaron ingin mengetahui kabarku, pasti pak Zac akan menjadi sumber informasinya…. Untuk sementara ini, aku akan menuruti perkataan om Aaron untuk tidak mengganggunya.” Chiara berkata sambil tersenyum, membuat Jaka dan Grace saling berpandangan untuk kemudian memandang ke arah Chiara, membalas senyuman Chiara, meski sebenarnya Grace merasa tidak puas dan masih kesal dengan pesan Aaron pada Chiara itu.