Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RASA KHAWATIR REVINA



Bagaimana Revina tidak khawatir, jika uang yang mereka pinjam dengan anggunan berupa satu-satunya rumah yang mereka tempati sekarang harus segera dibayar, dan juga rencana pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dalam waktun dekat.


Revina tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia dan keluarganya jika sampai membatalkan pernikahan itu.


Apalagi bayi dalam perutnya yang akan semakin membesar, dan tidak akan lagi bisa dia sembunyikan algi keberadaannya.


"Ma... tolong hubungi mama Richard, tanyakan tentang keberadaannya." Perkataan Revina dengan wajah memohonnya, membuat mata Mona langsung terbeliak kaget.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai kamu meminta mama melakukan itu? Apa kamu tidak tahu dimana Richard sekarang?" Mona mulai memperlihatkan wajah khawatirnya.


"Iya Ma. Sejak dari pagi tadi, pesanku tidak terkirim satupun. Aku sudah berusaha menghubunginya berkali-kali, tapi nomernya tidak aktif." Revina berkata sambil menggigit bagian bawah bibirnya dengan sikap tidak tenang.


Mendengar itu dengan cepat Mona meraih handphone yang dia simpan di saku pakaiannya, dan mencoba untuk segera menghubungi mama Richard, berusaha bersikap setenang mungkin.


Setelah bunyi tut beberapa kali tidak ada respon meski panggilan itu sebenarnya tersambung, membuat Mona mulai terlihat gelisah dan tidak tenang.


"Bagaimana Ma?" Revina yang sedari tadi melihat beberapa kali mamanya berusaha untuk terus menghubungi mama Richard dan tidak juga tersambung, mulai tidak sabar dan bertanya.


"Terhubung, tapi tidak diangkat. Mungkin dia masih sibuk. Nanti akan mama coba untuk menghubunginya lagi." Mona berusaha memberikan penjelasan agar Revina tidak terlalu khawatir, meskipun dalam hati, Mona benar-benar khawatir saat ini.


"Ma, bagaimana kalau kita ke apartemen kami dulu, mungkin dia ada di sana?" Revina mencoba menyampaikan idenya, meskipun dia tidak yakin kalau Richard benar-benar ada disana, tapi siapa tahu saja memang ada di sana seperti yang diharapkannya.


Mungkin Richard ingin memberinya kejutan dengan kembali ke Indonesia jauh lebih cepat dari jadwal seharusnya, dan sedang menyiapkan semuanya dengan baik di apartemen baru mereka untuk merayakan hari pernikahan mereka.


"Kalau begitu, mama akan siapkan mobil terlebih dahulu, kamu ganti saja dulu pakaianmu. Masak kamu mau memakai pakaian tidur ke apartemen mewahmu. Bisa-bisa dikira kita adalah pemulung dan diusir dari sana. Tidak lucu kalau sampai terjadi seperti itu." Mona berkata dengan nada bercandanya, karena dilihatnya wajah Revina yang tampak tegang dan khawatir.


"Iya Ma." Revina menjawab singkat dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti untuk dikenakannya, sedang Mona langsung berjalan keluar dari kamar Revina untuk menyiapkan mobil yang akan mereka kendarai.


Begitu sampai di kawasan apartemen, sebelum benar-benar masuk ke area parkir, Mona harus menghentikan mobilnya di depan kantor keamanan yang langsung terlihat dua orang dengan pakaian keamanan berjalan mendekat ke arah kaca mobil Mona yang sudah dibuka setengah oleh Mona.


"Selamat sore Bu, ada yang bisa kami bantu?" Sebuah sapaan hangat, tapi dengan sikap terlihat tegas terdengar dari salah satu petugas keamanan, menyapa Mona.


"Selamat sore Pak. Kamu mau mengecek kondisi apartemen kami."


"Bisa minta tolong kartu tanda pengenal dan nomer apartemen milik Ibu?"


"Apartemen dengan nomer xxy...." Revina segera menjawab pertanyaan petugas keamanan itu sambil menyerahkan kartu tanda pengenal penghuni apartemen yang dia miliki, setelah beberapa waktu lalu dia mendapatkannya begitu menyelesaikan pembayaran uang muka pembelian apartemen itu.


Mendengar jawaban dan melihat kartu tanda pengenal yang diberikan Revina padanya, petugas keamanan itu tampak mengernyitkan dahinya dengan tatapan mata terlihat sedikit bingung.


Sebentar kemudian, petugas keamanan itu tampak mendekati temannya yang tadi ikut mendekat ke arah mobil yang dikendarai Mona, dan berbisik-bisik di telinga temannya yang tampak sesekali menganggukkan kepalanya sambil melirik ke arah Mona dan Revina.


Mona dan Revina sendiri tampak saling berpandangan karena heran melihat sikap kedua petugas keamanan tersebut, yang sedang saling berbisik satu sama lain dengan tatapan mata menyelidik.


"Selamat sore Bu. Maaf, tapi tanda pengenal yang ibu berikan pada kami, bukan resmi milik penghuni apartemen ini. Dan juga... untuk unit apartemen yang Ibu sebutkan tadi, dua hari lalu sudah dibeli oleh orang lain. Jadi dari data kami, nama pemiliknya bukan nama Ibu." Penjelasan salah satu dari petugas keamanan itu membuat mata Mona dan Revina sama-sama melotot, bahkan Mona yang merasa dipermalukan, wajahnya tampak mulai memerah.


"Kenapa kalian bicara sembarangan seperti itu? Meskipun kami masih membayar uang mukanya saja, tapi seharusnya apartemen itu sudah menjadi milik kami. Mana boleh ada orang lain yang tiba-tiba membelinya dengan begitu saja? Apalagi semua perabotan mewah yang baru kami beli sudah dikirimkan ke unit tersebut." Mona langsung menyatakan protesnya dengan sura yang cukup keras, diiringi dengan mata yang melotot ke arah kedua petugas keamanan tersebut.


Bahkan dengan gerakan cepat, Mona langsung membuka pintu mobilnya, dan keluar dari mobil dengan wajah merah padam karena marah.


"Memang siapa nama pemiliknya yang sekarang? Beraninya kalian menyampaikan berita tidak benar seperti itu kepada kami sebagai pemilik aslinya!" Mona berkata sambil berkacak pinggang di depan kedua petugas keamanan itu.