
"Eh... Om Aaron... kan barang-barangku masih banyak yang di kamar ini? Tidak bisakah....?" Dengan suara gugup karena saat ini dada Chiara bergetar hebat akibat perlakuan manis dan juga mesra dari Aaron, Chiara berkata sambil memandang ke arah Aaron yang sedang melangkah keluar dari kamar yang biasa ditempati oleh Chiara, membawa Chiara ke arah kamarnya, tanpa perduli dengan kata-kata protes Chiara barusan.
"Tidak bisa. Mulai sekarang, sebagai nyonya Malverich yang sah, kamu harus tidur bersama dengan tuan Malverich. Saat ini, tidak adalagi alasan untuk kita tidur terpisah. Bukankah sudah seharusnya begitu nyonya Chiara Melverich?" Aaron langsung memotong perkataan Chiara yang hanya bisa menarik nafas panjang dengan wajahnya yang memerah karena kata-kata manis Aaron barusan yang kembali mempertegas hubungan mereka berdua saat ini.
Dan bagi Chiara, dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Aaron benar, tidak adalagi alasan lagi untuk dia dan Aaron tertidur secara terpisah, karena mereka adalah sepasang suami istri, yang mulai sekarang harus sehidup semati dalam segala keadaan, sampai maut benar-benar memisahkan mereka.
Lagipula, sebenarnya Chiara sendiri tidak mengharapkan tidur secara terpisah dengan Aaron, hanya saja, dia merasa malu jika harus dia yang lebih dahulu mengajukan usul untuk dia pindah ke kamar Aaron.
"Ya Om Aaron...." Akhirnya Chiara menjawab perkataan Aaron dengan suara dan wajah malu-malunya, membuat Aaron semakin gemas.
"Mmphh..." Sebuah suara kecil langsung terdengar dari bibir mungil Chiara karena dengan gemasnya, Aaron menciumi dan mengecup-kecup bibir itu tanpa berhenti.
Yang membuat Chiara merasa kaget, karena Aaron melakukannya tanpa perduli bahwa saat ini mereka masih berada di luar pintu kamar Aaron, dan bu Ida sedang membersihkan perabot yang ada di sekitar tempat itu.
Dengan sekuat tenaga Chiara berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Aaron dengan menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun Aaron tidak bergeming sama sekali, justru salah satu lengannya yang menahan tubuh Chiara di bagian punggung bergerak ke arah tengkuk Chiara, lalu sedikit menggerakkan tubuh Chiara ke atas, sehingga bibir Aaron semakin menempel pada bibir Chiara.
Mata Chiara dengan sikap salah tingkah, melirik ke arah bu Ida yang Chiara tahu baru saja menoleh karena suaranya barusan, tapi bu Ida langsung mengalihkan lagi pandangan matanya setelah melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Bu Ida sendiri langsung mengalihkan tatapan matanya dari kedua majikannya yang jelas-jelas sedang dimabuk asmara itu sambil mengulum senyum geli bercampur bahagia.
Dua tahun sudah bu Ida menemani Chiara tinggal di apartemen itu, sehingga dia tahu keseharian nyonya mudanya itu, termasuk bagaimana sebelumnya, antara Chiara dan Aaron tidak pernah terlihat mesra, meskipun mereka juga tidak pernah terlihat bertengkar, karena sangat jarangnya mereka berdua saling bertemu selama dua tahun ini.
Jika biasanya mereka selalu tidur terpisah, sekarang bu Ida merasa senang melihat bagaimana kedua majikannya itu terlihat begitu mesra, dan melihat bagaimana tuannya menggendong tubuh nyonya mudanya berjalan ke arah kamarnya, bisa dipastikan mulai saat ini, mereka tidak akan lagi tidur secara terpisah.
Tanpa memberikan Chiara kesempatan untuk melepaskan diri, Aaron membuka pintu kamarnya, dan langsung masuk dan menutupnya kembali, tanpa melepaskan ciuman bibirnya dari bibir Chiara.
Bukan hanya menciumi pipi Chiara, tapi Aaron sengaja sambil mengesek-gesekkan hidungnya ke pipi Chiara, sehingga Chiara tidak bisa menahan tawa gelinya.
"Ampun Om... ampun. Ha... ha... ha... ampun...." Begitu Chiara dengan susah payah mengatakan ampun dengan wajahnya yang merah padam karena menahan geli sekaligus tawanya, Aaron baru menjauhkan wajahnya, lalu meletakkan tubuh Chiara dengan begitu hati-hati ke atas tempat tidur, sambil membungkukkan tubuhnya.
"Aduh Om... rasanya capek sekali... padahal aku tidak berjalan ke sini, tapi digendong om Aaron. Om Aaron sih... sudah membuat Chiara terus tertawa...." Chiara mengomel sambil pura-pura memberengut.
Dan Aaron yang mendengar itu langsung tersenyum, berniat menegakkan tubuhnya kembali, namun kedua lengan Chiara tiba-tiba melingkar di leher Aaron dan Chiara menarik kepala Aaron untuk mendekat ke arahnya.
"I love you Om Aaron...." Chiara berbisik pelan sambil mencium leher Aaron yang tubuhnya langsung tersentak karena tindakan Chiara barusan.
Shiii...it... ternyata gadis kecilku ini bisa memikirkan cara untuk membalasku dengan begitu cepat....
Aaron berkata dalam hati sambil sedikit menggerakkan kepalanya ke samping, tapi Chiara justru semakin erat memeluk lehernya dan menciumi leher Aaron.
"Om Aaron mau kemana? Katanya mau menjadi gulingku?" Dengan suara manjanya, Chiara berkata tepat di telinga Aaron, dengan bibir yang menempel di daun telinga Aaron yang lansung tampak berubah warna menjadi begitu merah.
Jantung Aaron masih berdetak dengan begitu kencangnya, nafasnya sedikit memburu dengan wajahnya yang masih memerah, ketika Chiara dengan cepat melepaskan pelukan lengannya dari leher Aaron dan membaringkan tubuhnya, lalu langsung meringkuk sambil meremas perutnya yang terasa begitu nyeri.
Hah... hampir saja.... Syukurlah kekuatanku tidak sampai melukai Chiara.
Aaron berkata dalam hati sambil melihat ke arah nakas di samping tempat tidur yang terlihat hampir patah karena kekuatannya yang tiba-tiba keluar, tanpa dia sadari barusan, membuat dadanya terasa bergejolak, karena rasa khawatir yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.