
Aduh my little girl, kenapa kamu selalu memiliki ide untuk menanyakan sesuatu yang begitu sulit untuk aku jawab? Akan sangat memalukan sekali kalau dia tahu aku melakukan itu karena cemburu terhadap seniornya yang sok akrab dan tidak sadar diri kalau dia tidak memiliki kesempatan untuk mendekati istriku.
Aaron berkata dalam hati dengan senyum dipaksakan di bibirnya, menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Chiara yang Aaron yakin tidak akan berhenti di situ.
"Eh itu... kenapa kamu berpikir kalau aku adalah pelakunya?" Pertanyaan balik dari Aaron membuat Chiara meringis.
"Ya kira-kira saja sih Om, karena dari yang aku pikirkan, hanya Om yang bisa melakukan hal seperti itu. Manusia normal, mana sanggup melakukan hal itu?" Chiara berkata sambil meringis menahan senyum gelinya.
"Sebenarnya memang aku pelakunya...." Jawaban Aaron membuat mata Chiara membulat sempurna, denganĀ bibir sedikit terbuka karena melongo.
Meskipun selama ini Chiara curiga Aaron adalah pelakunya, tapi mendengar pengakuan Aaron, tetap saja membuat Chiara merasa terkejut.
"Lalu... kenapa Om Aaron melakukan itu? Setahuku... Om Aaron bukan orang yang mudah tersulut emosi, justru beberapa orang bilang Om Aaron tidak memiliki emosi karena sikap dingin Om Aaron. He he he...." Kata-kata Chiara membuat Aaron tersenyum tipis.
Hah... mana mungkin aku mengatakan terus terang kepada Chiara kalau aku melakukan itu karena marah setelah melihat bagaimana si Brandon yang terus berusaha menempel padanya. Bahkan tiba-tiba muncul di foto yang dikirimkannya untukku malam itu.
Aaron berkata dalam hati sambil berdehem kecil, dan berusaha bersikap setenang mungkin, sebelum menjawab pertanyaan Chiara.
"Mmm... masalah lift itu... sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya." Akhirnya Aaron berusaha untuk berkelit juga dari pertanyaan Chiara.
"Lho? Tidak sengaja? Yang benar Om?" Chiara berkata sambil menatap ke arah Aaron yang jadi salah tingkah dengan sikap Chiara yang seperti seorang polisi yagn sedang berusaha mengorek keterangan dari seorang pelaku kejahatan.
"Hah... tapi yang pasti bukan karena aku kan Om? Om Aaron bilang jika didekatku, kadang kekuatan Om Aaron jadi tidak terkendali. Maaf ya Om, sepertinya aku jadi biang masalah untuk Om Aaron..."
"Eh, jangan berkata seperti itu Chiara. Kamu bukan sumber masalah buatku, tapi sumber kebahagiaanku. Dimana Chiara yang tadi sangat optimis bisa menjalani semuanya dengan baik?" Aaron berkata sambil tersenyum dan menepuk pelan pipi Chiara yang tersenyum tipis.
"Waktu itu, aku memang tidak sengaja merusak liftnya karena kurang bisa mengendalikan hati dan pikiranku, tidak ada hubungannya dengan kedekatan fisik antara kita berdua. Ketika kejadian itu, kamu juga tidak ada di dekatku kan?" Perkataan Aaron membuat senyum Chiara semakin lebar.
"Benar juga Om. Pasti bukan karena aku. Hanya saja... waktu kejadian itu, adalah sebelum Om Aaron pulang ke apartemen. Berarti Om melakukan teleportasi waktu itu? Yah... kenapa waktu itu aku tidak sadar Om Aaron datang ya? Sayang sekali aku tidak bertemu Om Aaron waktu itu. Tapi apa mau dikata, waktu itu aku juga tidak tahu kalau Om Aaron ternyata punya kemampuan untuk berteleportasi. Keren sekali...." Perkataan Chiara dengan suaranya yang terdengar ceria, membuat wajah Aaron sedikit memerah.
Bisa berada di sisi Chiara tanpa perlu menyembunyikan kenyataan tentang siapa dirinya yang sebenarnya, dan tanpa ketakutan yang selama ini menderanya, takut jika tiba-tiba saja Chiara tidak bisa menerima kenyataan tentang kondisinya, dan keadaan mereka berdua yang belum bisa terlalu intim dalam sentuhan fisik.
"Oahem...." Suara Chiara yang menguap lebar dengan tangan yang berusaha menutupi mulutnya, membuat Aaron langsung menolah ke arah Chiara yang sudah kembali menjauhkan tubuhnya yang bersandar dari lengan Aaron.
"Chiara, ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur sekarang. Besok kita bisa teruskan obrolan kita." Aaron yang baru saja melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu sudah dini hari.
Terlalu banyak yang dibicarakan mereka berdua, sehingga tanpa sadar membuat Aaron maupun Chiara tidak sadar bahwa pembicaraan mereka cukup lama hingga hari dini hari.
Disamping itu, rasa enggan untuk berpisah satu dengan yang lain, membuat mereka saling berdiam diri di posisinya yang sekarang, sampai Chiara tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya.
"Iya Om... aku sudah mengantuk sekali." Chiara berkata lirih dengan pandangan matanya yang terlihat begitu sayu karena memang sudah sangat mengantuk, apalagi Chiara di usia remajanya, merupakan gadis remaja yang biasanya sudah tidur saat jam belum menunjukkan waktu tengah malam.
"Kalau begitu pergilah ke kamarmu sekarang, supaya bisa segera beristirahat." Aaron berkata sambil bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan ke arah Chiara, berencana membantunya bangkit dari duduknya.
"Oahem... iya Om. Tapi... Om Aaron mau kemana? Apa Om Aaron mau pergi lagi?" Chiara yang awalnya masih menguap, berusaha menahan kantuknya, karena tiba-tiba sebuah pemikiran takut Aaron tiba-tiba pergi lagi membuatnya bertanya dengan wajah terlihat memelas.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu dengan tiba-tiba tanpa pamit." Aaron berkata sambil mengacak pelan rambut Chiara yang langsung tersenyum meski matanya tinggal terbuka setengahnya saja karena rasa kantuk sudah begitu menguasainya.
"Tidurlah sekarang.... selamat malam, semoga mimpi indah...." Aaron berkata pelan sambil menepuk-nepuk lembut pipi istrinya.
"Selamat malam Om Aaron." Chiara menjawab perkataan Aaron dengan senyum manisnya.
Chiara sudah membalikkan tubuhnya dan bersiap melangkah ke kamarnya, namun tiba-tiba saja Chiara kembali membalikkan tubuhnya, dan tiba-tiba bergerak cepat ke arah Aaron kembali.
"Selamat tidur Om. Mimpikan aku ya.... I love you...." Chiara berkata lembut dan berniat mencium pipi Aaron yang kaget dengan kata-kata Chiara sehingga menggerakkan kepalanya, mengakibatkan bibir Chiara mendarat dengan sempurna ke bibir Aaron, meski hanya sekilas, karena Chiara buru-buru meanrik mundur tubuhnya, dan dengan wajah memerah berlari ke arah kamarnya, meninggalkan Aaron yang diam terpana sambil menatap ke arah Chiara.