Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PERCAYA SEPENUHNYA PADAMU



"Kita lihat saja beberapa waktu ke depan. Setelah kamu benar-benar menikah dengan Aaron. apa dia akan tetap memperlakukanmu sebaik seperti sekarang ini. Coba saja kamu pikir dengan logikamu… dengan usianya yang selisih 12 tahun denganmu yang tidak lagi memiliki kedua orangtua, mana ada laki-laki normal, tampan, mapan, yang memilih menikah dengan gadis ingusan yang bahkan masih sekolah di kelas 2 SMA." Revina berkata sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya, dengan bibir mencibir, dan wajahnya yang terlihat mengejek dan merendahkan, walaupun sebenarnya dalam hati Revina cukup dibuat kagum dengan penampilan Aaron sejak awal pertemuan mereka.


Dan jika saja dia yang waktu itu dipilih Aaron untuk menikah dengan laki-laki itu, belum tentu juga dia bisa menolak Aaron yang sangat mempesona bagi kaum hawa itu.


Chiara yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Revina, sedikit tertegun.


"Orang sehebat Aaron, jika dia normal, dia pasti selektif dalam memilih seorang gadis sebagai calon istrinya. Ynag pasti harus gadis baik-baik, berkarakter, dan juga mungkin pertimbangan tentang keberadaan orantua masih dianggap penting. Harusnya dia memilih wanita yang sudah dewasa dan siap menikah, bukan justru anak kecil sepertimu, yang bahkan belum mengerti apa-apa sepertimu. Paling-paling Aaron hanya sekedar ingin menjadikanmu mainan. Jangan-jangan om Aaronmu memiliki kebiasaaan tidak normal sebagai seorang laki-laki. Kalau begitu nikmati saja pernikahanmu yang pasti akan mengerikan bersama Aaron." Revina kembali melanjutkan kata-katanya dengan wajah terlihat mengejek Chiara.


Chiara yang mendengar kata-kata Revina itu, mau tidak mau jadi terdiam mendengar kata-kata Revina yang jujur saja cukup terdengar mengerikan baginya yang tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki dalam kaitannya dengan urusan cinta.


Meskipun tidak sepenuhnya Chiara menganggap serius kata-kata Revina, tapi mau tidak mau dia juga sudah mendengar itu keluar dari bibir Revina sehingga sedikit banyak, dia jadi memikirkan kata-kata Revina.


Apalagi sebagai gadis yang masih sangat muda, Chiara memang seorang gadis polos yang tidak mengerti sedikitpun tentang dunia orang dewasa, apalagi tentang arti sebuah pernikahan.


"Ah, anak kecil sepertimu, mana mengerti dengan apa yang aku bilang. Kalau setelah menikah dengan Aaron, ada apa-apa denganmu di masa depan, jangan sampai pulang ke rumah ini sambil menangis." Revina berkata sambil membalikkan tubuhnya, dan berjalan keluar dari kamar Chiara yang sedang termenung, dengan wajah terlihat galau.


Sial! Ternyata Aaron tidak seperti yang aku bayangkan. Aku pikir dengan sikap dingin dan wajah datarnya, dia hanya seorang laki-laki iseng yang ingin menikahi Chiara entah untuk tujuan apa. Tapi sepertinya dia benar-benar serius dengan rencana pernikahannya, sampai-sampai dengan mudahnya mengeluarkan sedemikian banyak uang untuk keperluan Chiara saat menikah.


Sambil berjalan keluar dari kamar Chiara, Revina mengomel dalam hati, karena merasa tidak rela Chiara bisa mendapatkan hal-hal baik bersama Aaron.


Huh! Enak sekali gadis ingusan itu bisa mendapatkan suami seperti Aaron. Sepertinya, jika ada kesempatan, aku harus mencari cara untuk menarik perhatian Aaron. Masalah cantik, aku juga tidak kalah cantik dengan Chiara. Dan aku tidak percaya Aaron akan lebih tertarik dengan anak kecil dibandingkan wanita sepertiku yang sudah siap dalam segala hal, termasuk menikah, dan mengerti bagaimana harus melayani suami dengan baik. Tidak seperti anak Chiara yang masih anak-anak.


Revina berkata dalam hati sambil berjalan ke arah kamarnya kembali.


Setelah kepergian Revina, Chiara yang awalnya diam termenung dengan tangannya masih memeluk sepasang sepatu untuk acara pernikahannya, akhirnya menarik nafas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.


Meskipun untuk beberapa saat Chiara sempat diam terpaku karena kata-kata kasar dari Revina tentang hubungannya dengan Aaron, dan tuduhannya terhadap Aaron.


Namun beberapa saat kemudian, Chiara bergerak kembali kea rah meja riasnya, lalu meletakkan kembali sepatunya di atas meja riasnya, dan mengamati sepasang sepatu itu sambil mengelusnya.


Chiara berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyum di bibirnya, setelah dia memantapkan hatinya untuk tidak goyah terhadap Aaron, apapun kata orang lain tentang Aaron.


Setelah itu, dengan wajah yang sudah terlihat ceria kembali, Chiara naik ke atas tempat tidurnya, dan duduk berselonjor dengan santai di sana, dengan tangannya memegang handphonenya.


Begitu membuka layar handphonenya, hal pertama yang dilakukan oleh Chiara adalah membuka aplikasi yang bisa membuatnya saling bertukar pesan dengan Aaron.


Dan dengan senyum ceria di wajahnya, Chiara memandangi foto Aaron di profilenya yang bagi Chiara terlihat sangat keren dan tampan.


"Keren dan tampannya om Aaron tidak kalah dengan artis Hollywood...." Chiara berkata pelan, memuji sosok Aaron yang terlihat di foto profile aplikasi pesan tersebut.


"Om Aaron sedang sibuk apa ya sekarang?" Chiara bergumam pelan sambil menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, yang menunjukkan pukul 5 sore.


"Om... kita baru beberapa hari tidak bertemu, tapi kenapa aku sudah begitu rindu dengan om Aaron ya?" Chiara kembali berkata denga suara pelan sambil memberengut, memajukan bibirnya dan menarik nafas dalam-dalam.


"Apa om Aaron juga merindukanku ya? Bagaimana kira-kira cara supaya aku bisa bertemu om Aaron? Alasan apa ya yang bisa aku pakai untuk mengajak om Aaron bertemu?" Perkataan Chiara diikuti dengan pikirannya yang langsung memutar otak agar bisa menemukan alasan paling tepat untuk bertemu dengan Aaron.


"Ah... ya... aku lupa, seharusnya aku mengajak om Aaron keluar makan, untuk mentraktirnya sesuai janjiku." Chiara berkata pada dirinya sendiri, karena baru ingat bahwa beberapa waktu lalu dia sudah berjanji untuk mentraktir Aaron dengan uang saku yang dikumpulkannya, sebagai balasan dari traktiran Aaron di M… D.


Beberapa waktu ini, Chiara sengaja menghemat uang sakunya, tidak membeli jajanan atau makanan di luar rumah bahkan kantin sekolah, juga tidak membeli buku-buku komik kesukaannya di toko buku, agar dapat segera mengumpulkan uang sakunya.


Dengan gerakan cepat, Chiara meraih tasnya, merogoh bagian dalam tas dan mengambil dompetnya dari dalam sana.


Begitu Chiara membuka dompetnya dan melihat ada beberapa lembar uang ratusan ribu, gurat keceriaan dan lega langsung terpancar dari wajah cantiknya.


"Asal bukan makan di restauran mewah, pasti uangku masih cukup untuk mentraktir om Aaron." Dengan suara ceria, Chiara berkat sambil bangkit dari duduknya, setelah yang tadi sempat diletakkannya ke atas kasur, kemudian dia melemparkan tubuhnya dalam posisi tengkurap di atas tempat tidur.