Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KECEMBURUAN ROMI



"Bukan mirip. Tapi itu memang dia. Hah, kamu mengingatkanku lagi tentang bagaimana menyebalkannya laki-laki itu. Malas sekali aku mendengar nama laki-laki itu disebut di depanku." Chiara berbisik pelan ke telinga Jaka.


"Wah, buat apa dia ikut datang ke sekolah ini? Dengan kesibukannya sebagai pemilik hotel berbintang yang memiliki banyak cabang, apa dia begitu pengangguran? Padahal om Cakra semasa hidupnya dulu seingatku terlihat sangat sibuk menurus hotel kalian." Jaka menyebutkan nama almarhum papa Chiara.


Karena sejak SD baik Chiara maupun Grace adalah teman hingga mereka SMA, sehingga mereka saling mengenal keluarga mereka, dan juga terlihat sangat akrab, satu sama yang lain.


Apalagi, sejak SD, mereka selalu saja beruntung, berada dalam kelas yang sama, sehingga membuat hubungan mereka semakin dekat.


Hal itu yang selama ini membuat banyak orang salah paham, dan berpikir bahwa Jaka memiliki hubungan asmara dengan salah satu dari dua gadis cantik itu.


"Tentu saja lah Jaka, jangan dibandingkan. Hotel milik Romi, hanya sampai di negara Asia saja, sedangkan hotel milik orangtua Chaira, bahkan sampai ke negara Eropa." Grace langsung menanggapi perkataan Jaka, karena seperti Jaka, begitu Grace mendengar tentang rencana Mona, gadis cantik itu segera mencari info tentang sosok Romi.


"Chiara, dengar ya! Jangan pernah mau didekati oleh buaya darat itu. Dari berita yang ada, dia dikenal dengan sebagai seorang casanova. Hidupmu akan sengsara kalau menikah dengannya." Jaka berkata sambil berbisik ke telinga Chiara dengan jarak yang sangat dekat, agar tidak didengar oleh murid yang lain, karena dia membicarakan tentang pernikahan, yang pasti akan membuat heboh jika didengar oleh yang lain.


"Siapa juga yang mau menikah dengannya. Kan sudah aku bilang, aku akan menikah dengan om Aaron." Chiara membalas bisikan Jaka dengan tidak aklah pelannya, dan juga begitu dekat dengan telinga Jaka, membuat mereka terlihat cukup dekat, dan memiliki hubungan yang spesial.


Dan sepertinya tingkah laku Chiara dan Jaka yang terlihat begitu akrab, membuat wajah Romi menunjukkan rasa tidak sukanya.


Cih... apa laki-laki kerempeng itu adalah kekasih Chiara? Apa karena kekasihnya yang sama-sama ada di sekolah ini dengan cinta monyet mereka yang membuat Chiara menolakku? Hah, bisa-bisanya aku harus bersaing dengan anak ingusan seperti laki-laki kurus itu.


Romi berkata dalam hati sambil sedikit mendengus, tapi dengan pelan agar tidak diketahui oleh orang lain yang ada di sekitarnya.


Pemikiran Romi tentang hal itu membuat Romi mendekatkan wajahnya kepada kepala sekolah, membisikkan sesuatu yang membuat kepala sekolah tampak beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sikap hormat, ketika Romi berbicara padanya.


Sikap kepala sekolah itu benar-benar menunjukkan bahwa Romi memiliki kedudukan yang cukup penting berkaitan dengan sekolah ini, bukan sekedar seorang alumni dari Universitas X yang sedang membantu mempromosikan kampusnya.


"Selamat siang Pak...!"


Suara sapaan dari kepala sekolah langsung disambut dengan suara keras dari semua murid kelas 2 yang hadir di aula sekolah itu.


"Baiklah anak-anak, sebentar lagi kalian akan mendapatkan info tentang Kampus X yang dibawakan oleh para alumnus kampus tersebut. Akan tetapi sebelumnya, tolong kalian mengatur duduk kalian supaya rapi. Siswa laki-laki duduk di sebelah kiri tangan saya, sedang siswi perempuan dia sebelah kanan tangan saya, pembatas diantara kalian adalah karpet merah yang ada di tengah-tengah." Kepala sekolah yang bersiap membuka acara, berkata sambil menggerakkan tangannya, memberi petunjuk.


Perkataan kepala sekolah membuat para siswa sedikit berisik akrena langsung terdengar suara bisik-bisik diantara mereka untuk mengungkapkan rasa heran mereka kenapa siswa dan siswi harus duduk terpisah kali ini.


Padahal biasanya, di acara apupun mereka boleh duduk dimanapun dengan bebas tanpa memisahkan gender mereka.


"Ayo. segeralah bergerak, karena waktu juga terus bergerak. Biasakan agar kalian jangan membuang-buang waktu sejak masih muda." Kepala sekolah itu langsung memberikan perintah kembali begitu dilihatnya anak-anak masih sibuk berbisik-bisik tanpa bergerak.


Begitu mendengar perintah kedua dari kepala sekolah, anak-anak itu segera memisahkan diri antara siswa laki-laki dan perempuan.


"Kenapa ya harus ada aturan baru seperti ini? Padahal kita bertiga terlanjur biasa selalu bersama-sama." Grace berkata sambil menggeser duduknya tepat di samping Chiara, setelah Jaka pergi ke sisi lain bersama para siswa laki-laki yang lain, sedikit menggerut karena tiba-tiba saja kepala sekolah membuatnya tidak bisa duduk berdekatan dengan Chiara dan jaka seperti biasanya.


"Tidak tahu, aneh-aneh saja. Memang kenapa kalau kita duduk bersebelahan dengan teman yang merupakan lawan jenis. Padahal di tempat terbuka dan banyak orang seperti ini, masak kita mau berbuat macam-macam?" Chiara berkata dengan nada mengomel, membuat Grace yang mendukung perkataan Chiara langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


Tapi tentu saja meskipun dalam Chiara dan teman-temannya menggerutu, karena itu perintah dari kepala sekolah, dengan bersungut-sungut Chiara dan Grace harus merelakan untuk duduk terpisah dari Jaka yang langsung meringis karena melihat bagaimana wajah Grace yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


Padahal biasanya,  dengan duduk bersama, mereka bertiga biasanya bisa bergosip dan saling mengeluarkan pendapat dan komentar mereka, untuk menanggapi apa yang terjadi di sekitar mereka.