Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PERAYAAN ULTAH BERDUA (2)



Bagi Aaron yang begitu mencintai Chiara, dia akan rela melakukan apapun demi kebahagiaan Chiara, meskipun ada hal-hal yang terasa begitu menyakitkan baginya, dan bahkan membuat Aaron sendiri tidak bahagia, karena dia yang begitu mencintai gadis itu tahu bahwa di masa depan mereka akan sangat sulit untuk bersatu.


Karena mencintai Chiara, tidak semudah jika saja Aaron jatuh cinta pada gadis lain, yang tidak membuatnya harus mengambil resiko besar dalam hidupnya.


Cukup lama selama di Amerika, Aaron berada dalam kebimbangan sebelum memutuskan tindakan nekatnya untuk datang menemui Chiara hari ini.


Aaron tahu, jika dia datang, hal itu akan membuat hubungan mereka semakin rumit, karena Aaron bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat bahwa Chiara mulai memiliki ketergantungan tinggi padanya, dan tindakan Chiara menunjukkan kalau gadis itu jelas-jelas mulai menyukainya.


Jika dia terus menerus berada di dekat Chiara, dan menjalin komunikasi yang baik dengan gadis itu, Aaron tahu bahwa perasaan suka diantara mereka pasti akan semakin berkembang dan tidak akan bisa dikendalikan lagi.


Dan itu akan merusak semua rencana Aaron untuk melepaskan Chiara setelah mereka menikah selama 4 tahun.


Tapi untuk sesaat, rasa rindu yang begitu besar, rasa cintanya kepada Chiara yang sudah begitu mendarah daging, membuat Aaron tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak datang di hari istimewa Chiara.


Bahkan membayangkan bagaimana sedihnya Chiara, wajah kecewanya Chiara jika dia tidak datang malam ini, membuat Aaron tidak mau lagi memikirkan resikonya. Dia hanya ingin membuat Chiara bahagia malam ini, memberinya kenangan indah di hari istimewanya.


"Zachary memberitahuku kalau kamu tidak sempat menikmati makanan di pestamu sendiri tadi. Terlalu sibuk dengan para undangan. Sepertinya pesta tadi sore benar-benar meriah ya." Aaron berkata sambil duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja bulat itu, sambil menunggu Chiara selesai membuka dan menata makanan di meja itu.


"Wah, pak Zac benar-benar tukang lapor." Chiara berkata sambil pura-pura memberengut, meskipun sedetik kemudian dia tersenyum lebar.


"Tapi pak Zac memang baik Om. Om Aaron beruntung memiliki asisten yang baik tapi juga sepintar pak Zac. Oke Om, kita mau mulai acara kita? Mulai darimana?" Chiara bertanya sambil menatap ke arah menu di depannya, yang tiba-tiba membuat perutnya berbunyi dengan suara keras, tanda dia sudah sangat kelaparan sekarang.


Dengan wajah malu-malu, akhirnya Chiara melirik ke arah Aaron yang tersenyum geli karena suara yang timbul dari perut Chiara barusan.


"Maf Om Aaron... cacing-cacing di perutku sepertinya sedang melakukan demo." Senyum Aaron semakin lebar mendengar candaan dari Chiara.


"Kita tiup lilin ulang tahunmu, setelah itu, kamu harus cepat makan. Sudah malam ini. Duduklah dulu agar kita bisa mulai acara tiup lilinnya." Mendengar perkataan Aaron Chiara yang sudah selesai langsung menganggukkan kepalanya.


Dan tanpa disangka-sangka oleh Aaron, dengan gerakan cepat, Chiara menarik kursi yang ada di hadapan Aaron, yang awalnya dipisahkan oleh meja bulat itu.


"Aku mau duduk di samping Om Aaron malam ini untuk merayakan ulang tahunku. Pokoknya aku mau dekat-dekat dengan Om Aaron malam ini. Dan karena ini hari ulang tahunku, Om Aaron tidak boleh menolaknya. Malam ini Om Aaron harus memenuhi permintaanku." Dengan sikap santai Chiara berkata sambil mengambil posisi duduk, tanpa melihat bagaimana Aaron menahan nafasnya sekarang karena tindakan polosnya yang spontan, seringkali membuat Aaron sebagai laki-laki normal menjadi mati kutu.


Hanya dengan melihat Chiara dari kejauhan saja sudah membuat dada Aaron selalu bergejolak, belum lagi pelukan selamat datang dari Chiara tadi masih begitu membekas dan membuat aliran darahnya semakin cepat memompa jantungnya, dan sekarang Chiara meminta untuk duduk dengan jarak begitu dekat dengannya.


Dan dalam, hati kecilnya yang paling dalam, Aaron sungguh berharap, Chiara bertindak sembrono seperti itu hanya kepadanya, tidak pada laki-laki lain.


My little girl, kamu ini... masih saja suka melakukan hal-hal yang benar-benar tidak bisa aku duga sebelumnya, dan selalu membuatku jantungan.


Aaron melenguh dalam hati, melihat bagaimana posisi mereka saat ini membuat dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau membiarkan dirinya dipenuhi dengan rasa grogi.


"Ehem...." Akhirnya untuk dapat mengalihkan rasa gugupnya, Aaron berdehem pelan dan tangannya bergerak mengambil roti tart yang ada di depannya.


Dengan satu telapak tangannya Aaron menahan roti tart itu, sedang tangannya yang lain mengambil pemantik api, lalu menyalakan lilin berbentuk angka 1 dan 7 itu.


"Tunggu Chiara...." Aaron langsung menghalangi Chiara yang sudah bersiap meniup lilinnya.


"Harus mengucapkan keinginan dulu sebelum meniupnya. Dua keinginan.... Satu keinginan yang diucapkan dengan bibir, dan satu diucapkan dalam hati." Chiara langsung tersenyum dengan wajah ragu begitu mendengar perkataan Aaron.


"Kenapa?" Aaron yang melihat wajah ragu Chiara langsung bertanya.


"Malu Om. Nanti Om jadi dengar dong apa keinginanku." Aaron hampir saja tertawa geli mendengar kata-kata polos Chiara.


"Yang dalam hati kan aku tidak bisa mendengarnya." Aaron mengucapkan kata-katanya sambil menahan senyumnya.


Sedang Chiara akhirnya langsung mengangguk mendengar itu.


"Oke kalau begitu...." Chiara berkata sambil mengatupkan kedua tangannya, dan matanya menutup rapat, terdiam beberapa detik sebelum bibirnya mulai bergerak dan mengeluarkan suara.