
Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Apa ada beberapa mutan sedang melakukan perjalanan ke negara ini? Kalau begitu, kenapa George ataupun Angelina tidak memberitahukan apapun padaku? Kalau saja Angelina masih marah dengan keputusanku, paling tidak George harusnya memberitahukan padaku apa yang terjadi jika itu menyangkut masalah mutan, karena dia selalu mengamati pergerakan mutan yang lain dengan baik, termasuk dari kelompok Aldrich atau mutan lain yang memilih hidup nomaden untuk menghindari kejaran dari kelompok Aldrich. Tapi kenapa sampai saat ini tidak ada sedikitpun laporan dari George tentang hal itu?
Aaron kembali berkata dalam hati, dan mulai sibuk dengan pemikirannya tentang apa yang dirasakannya tadi siang di jalan Y.
Pemikiran tentang adanya mutan lain yang sedang berada di kota itu, membuat Aaron langsung membuka layar handphone yang dipegangnya, untuk melakukan panggilan pada George.
Nomer yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area.
Aaron sedikit mengernyitkan dahinya begitu mendengar suara operator yang menginfokan kalau George tidak bisa dihubungi.
Apa yang terjadi dengan George? Kenapa handphonenya tidak bisa dihubungi?
Aaron berkata sambil menatap ke arah handphonenya dan mencari kontak dengan nama Angelina.
Aaron terpaksa berusaha menghubungi gadis itu untuk menanyakan keberadaan George.
Nomer yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area.
Suara dari operator kembali terdengar, membuat Aaron langsung mengernyitkan dahinya, merasa heran kenapa Angelina dan George sama-sama tidak bisa dihubunginya.
Entah satu kebetulan atau bukan, tapi perasaan Aaron langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi saat ini berhubungan dengan keberadaan para manusia mutan.
"Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa mereka berdua tiba-tiba secara bersamaan tidak bisa dihubungi?" Aron bergumam pelan dengan wajah tidak tenang.
"Om Aaron...." Sebuah suara dengan nada ceria, yang langsung terdengar begitu dia memasuki pintu kamar mereka, membuat Aaron dengan cepat menoleh, dan semua lamunannya buyar seketika itu juga.
“Sedang melamun ya Om?” Chiara yang baru saja masuk ke kamar, langsung menyapa Aaron yang masih berada di balkon kamarnya.
“Eh, Om sedang memikirkan apa?” Chiara yang melihat bagaimana senyum Aaron yang tidak seperti biasanya, kembali bertanya, dan kali ini dengan wajah seriusnya.
“Ah… tidak. Aku hanya sedang memikirkan kenapa George tidak bisa aku hubungi barusan. Aku sedang memikirkan apa terjadi sesuatu padanya.” Chiara yang langsung memeluk lengan Aaron bergitu berada di dekat suaminya itu langsung tersenyum sambil memandang ke arah Aaron.
“Jangan terlalu khawatir Om. Mungkin saja George lupa mengecharge handphonenya, atau mungkin sedang berada di daerah yang sulit sinyal. Memang George tidak pernah seperti ini?” Pertanyaan Chiara membuat Aaron berdehem pelan.
“Mmm… sebenarnya tidak juga. George memang kadang sulit untuk dihubungi, terutama kalau dia sedang serius dengan yang dikerjakannya di lab, dia seringkali sengaja mematikan handphonenya agar tidak ada yang mengganggu konsentrasinya.” Aaron berkata sambil mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Chiara tadi mungkin benar, bahwa handphone mati milik George adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh George, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Sudah, kamu baru saja pulang, tidak usah membahas masalah George dulu. Bagainama pekerjaanmu di hotel hari ini? Apa semuanya berjalan dengan lancar?” Senyum di wajah Chiara langsung melebar begitu mendengar pertanyaan dari Aaron.
“Lancar Om, semua lancar…. Sekali.” Jawaban Chiara membuat Aaron ikut tersenyum, lalu menggerakkan tangannya ke arah bahu Chiara, dan melingkar di sana
“Ada apa? Apa ada suatu peristiwa besar yang membuatmu terlihat begitu bahagia hari ini?” Chiara langsung tertawa begitu Aaron mengatakan hal yang sangat tepat dengan kondisinya saat ini.
“Ya Om. Hari ini kami kedatangan beberapa tamu yang memesan kamar presidential room kami. Dan dari 6 kamar tipe presidential room yang ada, mereka mengambil semuanya, membookingnya untuk waktu cukup lama Om. 2 minggu!” Chiara berkata dengan nada cerianya, dengan wajah bahagia, seperti seorang anak kecil yang baru mendapatkan permen kesukaannya dari orangtuanya.
“O ya? Tamu dari mana mereka? Sepertinya kantong mereka sangat tebal ya, sampai menyewa 6 kamar tipe presidential room selama 2 minggu?” Aaron berkata sambil tangannya yang sedang emmeluk bahu Chiara, mengelus-elus bahu Chiara dengan lembut.
“Pastinya begitu Om, mereka pasti punya banyak uang. Kalau dari tanda pengenal yang mereka tunjukkan berupa pasport, sepertinya mereka berasal dari Amerika.” Perkataan Chiara membuat otak Aaron langsung berpikir dengan cepat.
“Aku tadi sempat bertemu salah satu dari tamu VIP itu. Orangnya cukup ramah dan sopan. Di juga sangat tampan, membuat beberapa pengunjung ke hotel terlihat terpana menatapnya.” Chiara berkata dengan santainya tanpa menyadari kalau raut wajah Aaron langsung berubah ketika Chiara menyebutkan tentang sosok tamunya yang tampan.
“Aduh Om, tentau saja bagiku, hanya Om Aaron saja yang paling tampan. Tidak ada duanya, dan tidak akan pernah tergantikan,” Chiara berkata sambil berjinjit, dan mengecup pipi Aaron dengan lembut.
Tindakan mesra dari Chiara, meskipun hanya sekilas dan sebentar, sudah mampu membuat pikiran Aaron teralihkan, dan berhasil membuat jantung Aaron berdetak cukup keras dan otot-otot di beberapa bagian tubuhnya menegang.