Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
USAHA PDKT



Brandon tampak berjalan sambil menenteng sebuah tas kresek berwarna putih, dan di dalamnya menunjukkan adanya beberapa kotak styrofoam, yang berisi makanan.


(Kata "styrofoam" sering digunakan untuk expanded polystyrene (EPS) atau busa polistirena yang diperluas (busa EPS). Akan tetapi, "styrofoam" sebenarnya adalah merek dagang milik The Dow Chemical Company untuk busa polistirena ekstrusi sel tertutup yang dibuat untuk isolasi termal dan aplikasi kerajinan. Polistirena adalah plastik berbasis minyak bumi yang terbuat dari stirena monomer.


Dalam bahasa Inggris, tempat makan styrofoam disebut foam food container atau kemasan makanan dari busa. Dengan demikian, benda yang sering orang sebut sebagai "tempat makan styrofoam" sebenarnya merujuk pada "kemasan makanan dari busa".


Tempat makan dari busa polistiren ini diproduksi dengan menyuntikkan expanded polystyrene foam (EPS foam) atau busa polistiren yang diperluas ke dalam cetakan. Pada awal tahun 1940-an, EPS ditemukan oleh Ray McIntire dari The Dow Chemicals Company. McIntire menemukannya setelah melakukan percobaan dengan meniupkan gas ke dalam adonan panas polistiren atau PS.


Dalam prosesnya, pencampuran gelembung udara mengembang dan membuatnya menjadi ringan seperti busa hingga terciptalah EPS. Jadi, styrofoam yang dikenal masyarakat merupakan varian polistirena, di mana 95% volumenya dipenuhi udara).


“Wah, kebetulan sekali bisa bertemu kamu lagi di sini? Dewi Fortuna pasti sedang berpihak padaku hari ini. Dari Supermarket lagi? Sudah habis belanjaan yang kapan hari lalu?” Pertanyaan Brandon membuat Chaira meringis kecil, karena dari pertanyaan itu terlihat wajah heran Brandon, yang sedang berpikir ternyata Chiara adalah gadis yang jago ngemil.


“Maklum Kak, masa pertumbuhan.” Dengan santainya Chaira menjawab pertanyaan Brandon, sambil melanjutkan langkahnya untuk pulang ke apartemen, diikuti oleh Brandon yang berjalan di sampingnya, meskipun Chaira langsung dengan sigap menjaga jarak agar mereka tidak terlalu dekat.


“Aku tadi baru membeli makan juga, sekalian buat sepupuku yang sebentar lagi juga akan pulang.” Chiara mengangguk asal mendengar perkataan dari Brandon yang sebenarnya tidak ingin dia ketahui.


Jika boleh jujur, sebenarnya malam ini kehadiran Brandon di dekatnya, membuat mood Chiara yang sedang buruk jadi bertambah buruk, karena saat ini, Chiara ingin sendiri tanpa diganggu oleh kehadiran orang lain.


Tapi keramahan Brandon, dan juga posisinya sebagai senior, tentu saja tidak bisa diabaikan oleh Chiara begitu saja.


“Eh, mau aku bantu bawakan barang belanjaanmu?” Brandon yang melihat bagaimana Chiara menggendong sebuah tas kresek besar berisi belanjaannya langsung menawarkan bantuan.


“Eh… tidak perlu Kak, hanya snack saja. Kelihatannya saja besar, tapi ringan kok.” Chiara langsung menolak penawaran dari Brandon, dengan sedikit menjauhkan tas belanjaannya ke samping.


“Meski satu apartemen, tapi kita jarang bertemu ya, padahal seharusnya kita bisa berangkat ke kampus bersama-sama.” Ucapan Brandon langsung membuat Chiara menoleh ke arahnya.


“Kan jadwal kita beda Kak? Lagipula, sudah ada sopir yang biasa mengantarku sejak aku sekolah di SMA.” Dengan cepat Chiara kembali menolak penawaran Brandon.


Kita juga kan baru saling kenal ketika ospek kemarin. Kenapa juga kita harus sering-sering bertemu dan berangkat ke kampus bersama?


Chiara melanjutkan kata-katanya dalam hati, karena terus terang, dia tidak merasa nyaman dengan sikap Brandon yang sepertinya ingin dekat-dekat dengannya dan seperti sengaja mencari kesempatan untuk dapat bertemu dan mengobrol  bersamanya.


Mau tidak mau, saat melihat Brandon, Chiara jadi ingat kata-kata Grace maupun Jaka yang mengatakan padanya bahwa Brandon ada perasaan khusus padanya, terlihat jelas kalau Brandon menyukainya.


“Tadi siang sebenarnya aku melihatmu datang ke kampus, tapi sepertinya kamu sedang buru-buru pergi bersama Grace temanmu.” Chiara yang mendengar perkataan Brandon, langsung menoleh dan menatap dalam-dalam ke arah Brandon.


Apa itu artinya kak Brandon juga melihatku diantar oleh om Aaron seperti yang lain?


Chiara langsung bertanya-tanya dalam hati.


“Eh?” Chiara terlihat kaget begitu Brandon menanyakan tentang mobil dan Aaron.


“Aduh Chiara, kenapa kaget begitu? Bukannya tadi siang ke kampus kamu diantar ommu dengan mobil Ferrari? Anak-anak di jurusan kita jadi heboh gara-gara ommu yang keren, bukan saja orangnya, mobilnya keren juga….” Brandon berkata sambil tertawa kecil, membuat Chiara ikut tersenyum dengan sikap canggung.


Ternyata masalah aku diantar om Aaron tadi pagi sudah jadi berita besar di kampus. Aduh… benar-benar deh….


Chiara berkata dalam hati dengan sikap pasrah.


“Apa kamu di apartemenmu tinggal bersama ommu? Aku dengar dia baru kembali dari Amerika.” Brandon yang berpikir kalau Aaron adalah om kandung Chiara, justru semakin ingin mengorek informasi tentang sosok Aaron.


"Ya." Chiara menjawab singkat.


Bukan karena Brandon ingin mengenal lebih dekat tentang Aaron, tapi lebih ke arah dia ingin menjadikan itu alasan untuk bisa berkomunikasi dengan Chiara.


Apalagi dari bibir Chiara barusan mengatakan kalau Chiara tinggal satu apartemen dengan omnya, membuat Brandon berpikir jika Aaron merestuinya, akan semakin mudah untuk mendapatkan hati Chiara baginya, tanpa sadar justru kedekatannya dengan Chiara akan membuat Aaron bisa saja menyingkirkannya dari apartemen itu.


“Iya, aku tinggal bersamanya.” Chiara kembali mempertegas jawaban dari pertanyaan Brandon tanpa berpikir panjang, berharap langkah kakinya segera sampai di apartemen.


“Chiara… kalau boleh… kapan-kapan bisakah aku berkunjung ke apartemenmu? Supaya aku bisa berkenalan juga dengan ommu, mungkin kami bisa berteman akrab. Berapa usia ommu?” Mata Chiara langsung melotot mendengar permintaan Brandon yang baginya justru akan membuat masalah besar dalam hidupnya.


“Ah… untuk masalah itu, aku harus….”


‘Chiara, kenapa baru pulang semalam ini?” Sebuah suara teguran yang ditujukan kepada Chiara, membuat Chiara maupun Branddon langsung menoleh ke  arah sumber suara.


“Kenapa sepulang dari kampus tidak langsung pulang seperti yang aku katakan tadi siang?” Aaron kembali memberikan tegurannya kepada Chiara sambil melangkah maju, mendekat ke arah Chiara yang masih tampak kaget sekaligus bingung karena tiba-tiba saja Aaron sudah berada di depan bangunan apartemen, dan menegurnya.


“Eh, iya Om, maaf…” Chiara langsung berjalan dengan langkah-langkah cepat, menuju ke arah Aaron yang langsung mengambil kantong plastik dalam pelukan Chiara, tanpa Chiara menolaknya.


“Selamat malam Om.” Dengan cepat, Brandon langsung menyapa Aaron yang hanya mengangguk kecil, dengan mata menatap ke arah Brandon, dengan tatapan mata menyelidik, sibuk mengamatinya, mulai dari ujung rambut ke ujung kaki, membuat Brandon menjadi salah tingkah.


Brandon benar-benar tidak menyangka kalau sikap om Chiara sudah seperti seorang bapak yang sedang menatap peuh selidik dan tidak bersahabat terhadap teman laki-laki anak gadis kesayangannya, membuat Brandon merasa tidak nyaman, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.


Saat ini yang dipikirkan Brandon, asal dia bisa menarik hati dan simpati om Chiara, ke depannya dia akan lebih mudah untuk mendekati Chiara yang sejak awal sudah dirasakannya, kalau gadis cantik itu menghindarinya.


Hanya saja, Brandon sendiri yang masih ingin berusaha untuk mendekati Chiara, yang baginya, selain cantik, sikap ceria dan kebaikan hatinya, juga kecerdasannya, membuatnya terpikat dengan gadis itu.