
"Kalau alasanmu menikahinya karena kamu jatuh cinta padanya, sepertinya aku harus mengalah dan merelakan gadis kecil itu untukmu. Karena membuatmu jatuh cinta, sepertinya sama sulitnya dengan menemukan jarum di tumpukan jerami kering." Diego langsung berkata sambil meletakkan sebuah kotak yang baru saja diambilnya dari saku celananya, dan disodorkannya kepada Aaron.
"Apa ini?" Aaron berkata sambil melirik ke arah kotak yang disodorkan oleh Diego padanya, sebuah kotak dengan dilapisi kain beludu berwarna hitam, dan hiasan warna emas di beberapa sisi, berbentuk garis.
"Hadiah pernikahan kalian. Meski masih terlalu awal, aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan hadiah pernikahan untukmu. Aku ingin merayakan hari bahagia dimana terbukti bahwa sepupuku adalah laki-laki normal yang bisa jatuh cinta pada seorang gadis. Aku benar-benar merasa rugi selama ini sudah terlalu mengkhawatirkanmu yang tidak penah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Dan hampir saja membawamu kepada seorang psikiater." Diego berkata sambil meringis, disambut dengan tatapan tajam dari Aaron karena kata-katanya yang ditujukan untuk menyindir Aaron.
"Bukalah. Semoga kalian berdua suka dengan hadiah pilihanku." Diego berkata sambil tersenyum, kali ini sebuah senyuman tulus untuk Aaron.
Dengan gerakan pelan, Aaron membuka kotak itu, disertai dengan lirikan mata Zachary yang merasa penasaran dengan apa yang diberikan Diego pada Aaron.
Begitu Aaron membuka kotak itu, tampak dua buah jam couple mewah, merk Rolex, yang bertahtakan berlian murni terdapat di dalam kotak itu, ditata dengan berjajar rapi.
(Rolex SA adalah produsen pembuat jam tangan mewah asal Swiss. Konsep Rolex adalah mewah seperti menggunakan material emas, perak, kristal dalam jam tangannya, mirip dengan konsep mewah seperti Vertu dalam telepon genggam. Walaupun demikian, Rolex dapat disebut sebagai entry-level untuk jam tangan luxury.
Kisah Rolex dimulai ketika sang pendiri Hans Wilsdorf menciptakan jam tangan kedap air yang pertama – Oyster – dan mengembangkannya menjadi sebuah jajaran jam tangan yang telah menjadi ikon dari pembuatan jam tangan. Jam-jam tangan Rolex ditemukan di pergelangan tangan para pelopor, seniman, atlet, dan visioner dan perjalanan menuju puncak-puncak tertinggi dan bagian paling dalam dari lautan.
Jam-jam tangan Rolex dirancang dan dibangun untuk bertahan berkat para pembuat jam tangan, perancang dan insinyur yang berdedikasi, di mana keahlian dan pengetahuan mereka disalurkan ke masing-masing dan setiap jam tangan Rolex. Rolex sepanjang sejarahnya, telah mendaftarkan lebih dari 500 paten. Tidak banyak perusahaan yang dikenal secara konsisten dalam upaya mencari keunggulan, pencarian akan kemutlakan, penemuan pendekatan yang orisinal serta solusi inovatif.
Baik itu berlian, safir, rubi, atau zamrud, Rolex menguasai seni penempatan permata. Mereka memiliki ahli permata dan ahli penampatan permata itu sendiri.
para ahli permata bertanggung jawab untuk memeriksa dan memilah batu-batu permata yang diterima, dengan standar penerimaan yang sangat ketat.
Pengatur permata secara halus memahat logam mulia tersbut, membentuknya, hingga bisa ditempatkan dengan sempurna dan selaras dengan tangan).
Aaron yang sempat diam termangu dengan mata fokus menatap ke arah jam tangan itu, membuat Diego tersenyum dengan wajah bangga.
"Tidak perlu terlalu berterimakasih. Aku benar-benar sudah mengikhlaskan gadis kecil itu untukmu. Hitung-hitung aku sedang melakukan amal karena mengingat bagaimana sulitnya kamu menemukan gadis yang cocok denganmu selama ini." Diego berkata dengan sikap percaya diri, membuat Aaron langsung mengalihkan pandangan matanya dari dua jam tangan mewah di dalam kotak yang terlihat indah itu.
"Jangan bilang kamu memberikan ini pada kami karena ingin mencari kesempatan untuk menarik perhatian dari Chiara." Aaron berkata sambil menutup kotak di depannya, dengan mata masih menatap tajam ke arah Diego.
"He he he. Benar-benar keliatan ya kalau aku masih merasa begitu penasaran dengan gadis kecil itu, kenapa gadis secantik dan seimut dia, mau memilihmu yang berwajah datar sebagai suaminya? Apa dia benar-benar tidak takut akan kamu bully?" Mata Aaron langsung menatap Diego dengan tatapan semakin tajam begitu mendengar kata-kata Diego yang kembali terdengar seenaknya sendiri itu.
"Coba saja tanyakan padanya, apa dia mau menikah dengan laki-laki berwajah penggoda wanita seperti kamu. Kalau dia mau menikah denganmu, aku akan melepaskannya dan membiarkan kamu menikahinya." Kata-kata Aaron yang diucapkannya tanpa ekspresi, namun terdengar begitu percaya diri itu, membuat Diego membeliakkan matanya.
"Kalau begitu, dengan senang hati aku akan mencobanya." Diego berkata dengan nada suara terdengar bersemangat, karena menganggap serius apa yang baru dikatakan oleh Aaron padanya.
"Aku yakin dia pasti akan goyah dengan pesonaku, yang diakui oleh banyak gadis memang sungguh sulit untuk diabaikan." Diego berkata sambil berusaha mengambil kembali kotak berisi jam tangan couple yang tadinya dia hadiahkan untuk Aaron dan Chiara.
Namun tangan Aaron bergerak cepat menahan kotak itu agar tidak diambil oleh Diego, dengan cara menutupinya dengan telapak tangannya, lalu menahannya, membuat Diego memandang ke arah Aaron wajah protes.
"Berikan padaku, aku akan memberikannya kepada Chiara." Diego berkata sambil memegang punggung telapak tangan Aaron yang menutupi kotak itu.
"Tidak perlu. Kamu sudah pasti akan kembali membawa kegagalan. Dia pasti menolakmu dan tetap memilih untuk menikah denganku. Buat apa aku mengembalikan hadiah pernikahan kami padamu?" Aaron berkata dengan nada suara datar, meskipun Diego bisa melihat bahwa dari mata ambernya, Aaron terlihat tidak tenang dan terlihat ada sedikit rasa tidak percaya diri di sana.