
Baik Aaron maupun Chiara sama-sama terbeliak kaget menyadari apa yang sedang terjadi pada mereka berdua, terutama Aaron yang mendapatkan ciuman di area lehernya, yang merupakan area tubuhnya yang cukup sensitif sebagai seorang laki-laki normal, yang bahkan membuat kulit leher hingga ke telinganya sat ini langsung berubah warna menjadi merah.
Saat ini Aaron dan Chiara mengalami hal yang sama... jantung mereka sama-sama berdetak keras, nafas mereka sama-sama sedikit memburu, otot-otot tubuh mereka terasa melemah dan bibir mereka sama-sama terasa kelu, tenggorakan rasanya tersekat, dengan otak mereka bedua yang sama-sama menjadi tumpul.
Di dalam tubuh mereka sama-sama seperti terserang badai, tapi di sisi lain seperti ada sesuatu yang mengalir dengan cepat ke permukaan kulit mereka, membuat bulu kuduk mereka meremang dan sesuatu terasa ingin meloncat keluar dari dada mereka, menimbulkan sensasi yang baru pertama kali mereka alami, karena kedekatan fisik dengan lawan jenis, dengan orang yang begitu mereka cintai.
Dengan gerakan terburu-buru dan wajahnya yang juga sudah sangat memerah, Chiara langsung bergerak menjauh dari tubuh Aaron yang kulit wajahnya tidak kalah merahnya dengan Chiara.
"Akh...." Chiara kembali berteriak kecil karena gerakannya yang terlalu terburu-buru membuat gadis cantik itu kehilangan keseimbangan tubuhnya, sehingga tubuhnya goyang ke samping.
Dengan sigap lengan kokoh Aaron langsung menangkap tubuh Chiara yang hampir terjatuh dengan cara meraih pinggang Chiara, dan langsung menarik tubuh Chiara ke arahnya.
"Ehem... terimakasih Om Aaron." Chiara berkata lirih sambil pura-pura merapikan pakaiannya dengan kepala tertunduk agar Aaron tidak melihat bagaimana salah tingkahnya dan juga begitu merahnya wajah Chiara saat ini.
"Eh, maaf ya Kak. Aku tidak sengaja." Seorang gadis muda bertubuh mungil, yang tadi sempat menabrak tubuh Chiara segera menghentikan langkahnya dan meminta maaf kepada Chiara.
"Tidak apa-apa. Lain kali tolong untuk lebih hati-hati agar tidak mencelakakan orang lain." Aaron segera mewakili Chiara untuk menjawab permintaan maaf gadis itu, karena dilihatnya Chiara yang masih terlihat salah tingkah dan terlalu sibuk mencari cara untuk menenangkan kegugupannya dengan menundukkan kepalanya, sambil menggenggam, membuka, dan menggenggam lagi tangannya yang terasa begitu dingin.
"Terimakasih." Gadis itu berkata lirih dan segera beranjak pergi.
Aaron berusaha bersikap sebiasa mungkin, meskipun saat ini dadanya hampir meledak karena sentuhan bibir Chiara di lehernya membuat dadanya berdetak dengan begitu keras, dan tubuhnya yang kembali merasakan sensasi aneh, yang membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.
Dan tanpa sadar, Aaron merasa begitu menikmati sensasi yang baru pertama kali ini dia alami itu, membuatnya tanpa sadar menginginkan kejadian itu bisa terulang kembali jika saja bisa.
Dan yang pasti, kejadian barusan membuat Aaron bisa menepis setiap penyesalan akan keputusannya untuk pulang kembali ke Indonesia, dan menikmati kehidupannya bersama Chiara.
Begitu gadis yang menabraknya pergi menjauh, dengan gerakan ragu, Chiara kembali mendekat ke arah Aaron, dengan kepala tetap tertunduk.
"Om Aaron... maaf..." Chiara berkata dengan suara gugup tanpa berani menatap Aaron yang tangannya menyentuh tengkuk dan lehernya sebentar lalu segera melepaskannya, merasa sedikit canggung juga, tapi dengan cepat Aaron berusaha menguasai dirinya sendiri dan bersikap tenang.
Toh sebenarnya, Aaron juga tidak akan merasa keberatan jika Chiara melakukan hal seperti itu lagi pada tubuhnya.
Suara Aaron yang terdengar tenang akhirnya membuat Chiara memberanikan diri untuk menatap ke arah Aaron untuk beberapa saat.
Begitu Chiara menatapnya, Aaron langsung melebarkan senyumannya sambil mengangkat salah satu alisnya, mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka karena peristiwa tidak terduga barusan.
Peristiwa yang membuat Aaron cukup kaget namun juga ingin sekali rasanya dia terus tersenyum karena peristiwa barusan membuat hatinya melayang, merasa sangat sangat bahagia, bahkan bersyukur akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Sebuah ciuman, meskipun tidak disengaja, membuat Aaron tahu bahwa bibir Chiara terasa hangat dan juga lembut, membuatnya jadi membayangkan bagaimana rasanya jika bibir mungil itu bukan sekedar menempel di lehernya, tapi di bibirnya.
Bayangan itu membuat Aaron mengigit bagian bawah bibirnya tanpa dia sadari.
Akh… untuk sekarang aku harus bisa melupakan kejadian barusan.
Aaron berkata dalam hati sambil menenangkan dirinya sebisa mungkin, karena sesuatu dalam tubuhnya mulai terpancing dan memberontak untuk bangun dari tidurnya.
Banyaknya kejadian bersama Chiara hari ini sudah membuat untuk kesekian kalinya, jiwa laki-lakinya terbangun, dan jika boleh jujur, itu cukup membuatnya tersiksa dan kepalanya terasa pening.
"Wah, kita dapat nomer 15 Om Aaron." Chiara berkata sambil melirik ke arah nomer antrian yang dipegang oleh Aaron.
"Tidak apa-apa, kan pesertanya ada 25 orang. Kita bisa menunggu sebentar, sambil melihat bagaimana cara orang lain berusaha memenangkan permainan itu." Aaron berusaha membuat Chiara yakin dia akan memenangkan permainan itu.
"Tapi Om, bagaimana kalau ada yang lebih dahulu bisa menyalakan lampu dan alarm itu?" Chiara berkata sambil kepalanya melongok, berusaha melihat bagaimana pasangan dengan nomer antrian 2 yang laki-lakinya sedang berusaha keras memukul tombol dengan palu, tapi sayangnya, hingga pukulan ke tiga, dia bahkan tidak berhasil mencapai setengah dari tinggi tiang petunjuk poin yang dicapai oleh pemain.
"Tenang saja, memenangkan permainan itu tidak semudah yang dibayangkan." Aaron berkata sambil tersenyum, karena dia bisa melihat dengan jelas, kalau permainan Whack N Win kali ini sepertinya sudah sedikit dimodifikasi sehingga butuh tenaga dan kecepatan eksta untuk dapat membuat pemain mendapatkan poin tertinggi.
Dan Aaron cukup maklum dengan hal seperti itu, karena hari ini hadiah yang ditawarkan untuk pemenang permainan itu cukup menarik.