
"Tidaklah Kak. Masak masalah seperti itu dibuat bahan bercandaan." Chiara berkata dengan senyum semakin lebar karena sosok Aaron yang semakin mendekat ke arahnya.
"Lalu... siapa suamimu? Dimana dia sekarang? Kenapa aku tidak pernah melihat kamu bersamanya?" Brandon langsung mencerca Chiara dengan banyak pertanyaan karena masih saja ada rasa tidak terima dalam hatinya begitu mendengar kalau Chiara sudah menikah.
"Lho, Kakak sudah pernah bertemu dengannya kok." Chiara berkata sambil tersenyum ke arah Aaron yang sudah berdiri tepat di belakang tubuh Brandon.
Brandon yang mendengar kata-kata Chiara dan melihat mata Chiara yang sedang menatap seseorang di belakangnya sambil tersenyum langsung menoleh, merasa penasaran dengan siapa yang sedang ditatap dnegan tatapan begitu mesra dan mendapatkan senyum begitu manis dari Chiara.
"Om Aaron sudah datang?" Chiara berkata sambil melangkah maju dua langkah, untuk kemudian tangannya meraih pergelangan tangan Aaron dan menariknya mendekat ke arahnya, membuat Brandon semakin melongo.
Om? Chiara memanggilnya om, tapi juga mengatakan kalau omnya itu adalah suaminya? Apa maksudnya itu? Kenapa terasa aneh sekali? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang ini.
Brandon berkata dalam hati sambil mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung.
"Chiara... bukannya... beberapa waktu lalu saat kami bertemu, kamu mengatakan kalau dia adalah ommu?" Brandon berkata dengan pandangan mata menyelidik ke arah Aaron, apalagi setelah berada di samping Chiara, Aaron tanpa segan langsung melingkarkan lengannya ke pinggang Chiara dan mengelus-elus bagian samping pinggang Chiara sampai ke bawah, bagian yang lebih pribadi dengan lembut, mnunjukkan sikap protektif sekaligus intim pada Chiara.
"Benar Kak. Om Aaronku ini adalah suamiku. Sejak dulu memang aku terbiasa memanggilnya dengan sebutan om Aaron. Keren kan panggilan sayangku untuknya? Kami bahkan sudah menikah sejak dua tahun yang lalu." Dengan nada suara ceria Chiara menjelaskan kepada Brandon yang wajahnya semakin terlihat tidak percaya.
Untuk saat ini, tidak seperti beberapa waktu yang lalu, Chiara merasa lebih percaya diri mengatakan kepada orang lain kalau Aaron adalah suaminya, karena pernikahan mereka tidak lagi hanya sekedar pernikahan di atas kertas.
"Chiara sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Terimakasih karena selama masa ospek beberapa waktu lalu, kamu sudah banyak membantu Chiara sebagai senior." Aaron berkata dengan nada tenang, tanpa senyum dan ekspresi seperti biasanya.
Akan tapi Brandon bisa melihat kalau laki-laki itu benar-benar tulus saat mengucapkan terimakasihnya mewakili Chiara.
Dengan wajah serius Aaron yang tidak menyangkal sama sekali saat Chiara mengatakan kalau dia itu adalah suami Chiara, Brandon langsung tahu kalau Chiara jujur dengan perkataannya.
Apalagi saat Brando melirik ke arah tangan kanan Aaron yang masih terlihat mengelus-elus lembut pinggang Chiara dengan intens, terlihat adanya sebuah cincin yang juga melingkar di jari manisnya, dan bentuknya terlihat mirip dengan cincin pernikahan yang dipakai oleh Chiara.
"Kalau begitu, aku berbelanja dulu ya Kak. Maaf, kami sedang buru-buru." Chiara yang bisa melihat dengan jelas wajah bingung, kecewa, tidak percaya dan bingung dari Brandon lebih memilihi untuk segera pamit dari hadapan Brandon, agar Brandon tidak terlihat semakin menyedihkan baginya.
Dan lagi, Chiara sadar kalau dia memiliki seorang suami yang pencemburu akut, sehingga dia memilih untuk tidak memancing kecemburuan Aaron, yang sama dengan menyiram api dengan bensin, pasti akan sangat berbahaya jika itu sampai terjadi.
Karena mengingat rasa cemburu Aaron, Chiara jadi ingat nasib lift yang sempat peyok karena itu.
Rasanya Chiara harus benar-benar menjaga dirinya agar Aaron dengan kekuatan supernya tidak hilang kendali saat cemburu.
"Ekh... iya Chiara, silahkan." Setelah mengucapkan kata-katanya, Brandon langsung membalikkan tubuhnya tanpa menunggu tanggapan atau jawaban dari Chiara.
Ternyata... Chiara benar-benar sudah menikah? Dengan laki-laki setampan dan sekeren itu? Dan yang pasti sangat kaya kalau dilhat dari penampilannya. Kenapa kisah cintaku sungguh tragis? Baru pertama kalinya aku jatuh cinta. Bahkan belum ada kesempatan untuk jujur, Chiara sudah menolakku mentah-mentah dengan menunjukkan siapa suaminya di depan mataku. Sungguh menyakitkan....
Brandon berkata dalam hati sambil berjalan keluar dari toserba itu, tanpa perduli lagi dengan keranjang belanjaannya yang tadinya sudah terisi hampir setengahnya dengan beberapa snack dan minuman kemasan yang awalnya akan dibelinya.
Keranjang dorong itu dibiarkannya tergeletak di dekat rak minuman kemasan, dilewati oleh Brandon yang bahkan tidak meliriknya sama sekali, langsung bergegas keluar dari toserba itu.
Entah kenapa, meskipun Brandon masih belum lama mengenal Chiara, tapi sedari awal, kecantikan, keceriaan, kebaikan, semua aura positif yang dipancarkan oleh sosok Chiara sudah membuatnya begitu tertarik dan jatuh hati.
Dan Brandon yakin, dia bukan satu-satunya pria yang jatuh hati karena pesona yang dimiliki oleh Chiara.
Belum bertanding tapi sudah kalah. Benar-benar menyedihkan.... Harusnya aku langsung tersadar. Gadis semenarik Chiara, tidak mungkin belum ada yang punya. Meskipun aku tidak menyangka ternyata dia bahkan sudah menikah, tapi seharusnya aku memikirkan kemungkinan kalau dia sudah memiliki kekasih. Akh... tapi siapa yang bisa menolak dan memilih dengan siapa dia jatuh cinta?
Dengan wajah terlihat sedih, Brandon berkata dalam hati sambil menundukkan kepalanya.