Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
REVINA SI PENGGANGGU



Dan Zachary harus bisa menempatkan diri untuk tetap selalu menghormati Chiara meskipun sikap dan kata-kata Chiara kadang memang terdengar dan menunjukkan bahwa dia memang masih anak-anak.


Belum lagi, saat ini ada Aaron yang sudah terlihat tidak lagi menatap layar laptopnya, tapi terlihat dengan wajah seriusnya, sedang menatap Zachary yang masih sibuk meladeni obrolannya dengan Chiara di telepon, membuat Zachary harus lebih hati-hati dalam mengeluarkan kata-katanya.


"Tenang saja Nona, apa perlu nanti saya pinjamkan uang saya jika nanti uang Nona Chiara kurang saat melakukan pembayaran?" Kata-kata Zachary membuat mata Chiara langsung membulat sempurna.


"Wah! Benar ya Pak Zac, jangan ingkar janji ya.... Aku janji, mulai besok aku akan menyisihkan uang sakuku lagi untuk membayar hutangku ke Pak Zac. Ah.... lega rasanya, karena Pak Zac mau membantuku nanti... kalau benar-benar terpaksa…."


"Eh...." Zachary yang tidak menyangka kalau Chiara akhirnya menganggap serius perkataanya tentang meminjamkan uang, akhirnya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dengan sikap bingung.


Aduh, bagaimana ini, dasar mulutku ini memang asal bicara, tidak pakai rem. Wah... bisa benar-benar gawat kalau pak Aaron tahu nona Chiara menganggap serius perkataanku, dan lebih celaka lagi kalau nona Chiara benar-benar meminjam uangku nanti. Aist... habislah aku... bisa-bisa aku benar-benar digantung oleh pak Aaron.


Zachary berkata dalam hati dengan sikap gundah, sambil melirik ke arah Aaron yang terlihat sedang membolak balik beberapa lembar kertas berisi laporan di depannya.


Huft... semoga pak Aaron tidak mendengar pembicaraanku dengan nona Chiara tentang utang piutang barusan.


Akhirnya Zachary hanya bisa berharap Aaron tidak mendengar pembicaraannya barusan.


"Pak Zac, terimakasih ya. Sekarang aku mau bersiap-siap dahulu. Sampai bertemu nanti Pak Zac." Begitu menyelesaikan kata-katanya, Chiara langsung memutus panggilan teleponnya, dan langsung menggeletakkan handphone di tangannya, lalu dengan gerakan melompat-lompat kecil, Chiara bergerak ke arah kamar mandi.


"Pak Aaron... saya sudah menyampaikan pesan kepada nona Chiara sesuai dengan perintah Pak Aaron." Dengan sikap terlihat masih tidak tenang, Zachary berkata kepada Aaron.


"Hmmm...." Aaron bergumam pelan dan tiba-tiba saja langsung bangkit berdiri dari duduknya.


"Jam berapa kita berencana menjemput nona Chiara, Pak Aaron?" Akhirnya Zachary menanyakan tentang rencana menjemput Chiara ke rumahnya.


"Sekarang saja." Aaron berkata sambil menutup layar laptopnya, dan berjalan menjauhi meja kerjanya dengan kedua tangannya dia masukkan ke saku celananya.


Untuk beberapa detik, Zachary terlihat melongo karena tidak menyangka kalau Aaron akan mengajaknya pergi ke rumah Chiara sekarang juga, seolah-olah, Aaron sendiri sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Chiara.


Begitu tersadar dari rasa kagetnya, Zachary segera berlari ke arah meja kerja Aaron, memasukkan laptop Aaron dalam tas, lalu merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja Aaron, dan memasukkannya ke dalam tas dengan cepat.


Karena Zachary ingat tadi Aaron mengatakan akan menyelesaikan pekerjaannya di rumah malam ini, sehingga Zachary harus membereskan laptop dan berkas-berkas itu untuk dibawanya ke rumah Aaron dan diserahkan langsung ke Aaron nanti.


Wah… apa pak Aaron sebegitu inginnya bertemu dengan nona Chiara sampai dia rela meninggalkan semuanya agar bisa segera bertemu dengan nona Chiara?


Setelah merapikan berkas-berkas dan laptop Aaron itu, dengan bergegas, Zachary langsung bergegas menyusul Aaron yang sudah keluar dari kantornya, dan sedang berjalan ke arah lift pribadinya.


# # # # # # # #


"Oke... aku sudah siap bertemu dengan om Aaronku." Chiara yang selesai memutar-mutar tubuhnya di depan kaca untuk mengecek pakaian yang dikenakannya, bergumam pelan sambil menatap bayangan dirinya di depan kaca dengan tatapan terlihat puas.


Rasanya aku sudah sangat tidak sabar bertemu dengan om Aaronku yang keren... setelah beberapa hari ini, aku tidak bisa melihat wajah om Aaron secara langsung.


Chiara berkata dalam hati sambil merapikan beberapa helai rambutnya yang menutupi wajahnya dengan bibir terus menyungingkan senyum karena membayangkan dia akan segera bertemu dengan sosok laki-laki yang selalu memenuhi pikirannya beberapa waktu ini.


"Ah, baru beberapa hari tidak bertemu om Aaron, aku sudah tidak tahan. Lalu bagaimana nasibku setelah menikah, harus berpisah selama 4 tahun dengan om Aaron?" Chiara berkata pelan dengan wajah cemberut karena membayangkan bagaimana dia harus berpisah dengan Aaron selama 4 tahun setelah menikah.


"Eh, mungkin aku harus memberanikan diri bertanya pada om Aaron, apakah dia mungkin akan pulang sebulan sekali? Sehingga kami bisa tetap bertemu minimal sebulan sekali? Oke... kalau ada kesempatan, aku akan menyakan hal itu pada om Aaron, atau paling tidak pada pak Zac. Pak Zac sebagai asisten pribadi om Aaron, pastinya tahu kan tentang semua rencana om Aaron?" Chiara berkata pada dirinya sendiri, sambil tersenyum, sampai didengarnya pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dengan sedikit kasar, dan tampak sosok Revina muncul dari balik pintu.


“Kok pakaianmu rapi sekali? Mau keluar?” Revina yang diminta oleh Mona untuk mengatakan pada Chiara bahwa Mona sedang menunggunya untuk membicarakan acara pernikahan Chiara, langsung bertanya sambil mengernyitkan dahinya begitu melihat penampilan Chiara yang terlihat jelas sedang berencana keluar rumah.


“Sebentar lagi om Aaron akan menjemputku untuk makan malam. Aku akan mentraktirnya malam ini.” Chiara berkata sambil mengikat rambutnya menjadi satu.


“Mentraktirnya?” Revina berkata sambil mengernyitkan dahinya, memastikan dia tidak sedang salah dengar barusan, bahwa Chiara mengatakan padanya bahwa Chiara yang akan mentraktir Aaron makan malam.


“Iya, memangnya kenapa? Bukannya biasa kita saling mentraktir dengan orang yang dekat dengan kita?” Chiara berkata sambil menekankan tentang kata dekat, untuk menyindir Revina.


Bagaimanapun, Chiara masih merasa kesal mengingat bagaimana tadi Revina sempat mengatakan hal-hal buruk tentang Aaron.


“Iya sih… Kalau begitu… aku ikut denganmu keluar sore ini.” Revina yang merasa menemukan cara untuk mulai menjalin hubungan dengan Aaron, langsung mengatakan keinginannya untuk ikut makan di luar bersama mereka malam ini, membuat Chiara langsung melotot.


“Eh, kenapa kamu jadi ingin ikut kami pergi? Acara makan malam kami tidak ada hubungannya denganmu.” Chiara langsung menyampaikan protesnya pada Revina.


“Lho… kan kamu sendiri yang bilang sudah biasa kita saling mentraktir dengan orang yang dekat dengan kita. Hubungan kita adalah sepupu, apa itu kurang dekat?” Revina langsung membalikkan kata-katanya dengan mengingatkan Chiara tentang perkataannya tadi, membuat Chiara terdiam.


“Sudahlah, jangan pelit kamu. Seingatku, kamu bahkan belum pernah sekalipun mentraktirku makan kan. Jadi tidak ada salahnya kamu mentraktirku juga malam ini.” Revina berkata dengan sikap percaya diri, tidak perduli dengan Chiara yang dari padnangan mata dan wajahnya menunjukkan sikap tidak rela jika Revina ikut bersamanya makan malam bersama Aaron.