
Terus terang, Chiara merasa begitu nyaman dan tidak merasa sungkan jika harus menceritakan apapun kepada Anna, dibandingkan jika dia harus bercerita atau bertanya tentang hal-hal yang bersifat tabu jika diketahui oleh banyak orang kepada orang lain.
Bagi Chiara, keberadaan Anna sudah seperti kakak kandung, yang bisa membuatnya bebas untuk curhat tentang apapun kepada Anna tanpa perlu merasa ragu, apalagi Anna bukan tipe orang yang bocor mulut dan suka menceritakan aib orang lain.
"Kalau begitu terserah kalian saja. Kalian yang lebih tahu tentang hal itu dibandingkan dengan mama. Apalagi kalian yang menjalaninya." Perkataaan Sarah membuat Anna dan Zachary saling beradu pandang dengan wajah terlihat begitu lega, karena tidak berada dalam satu perusahaan yang sama, merupakan kesepatakan mereka berdua.
"Tenang saja Bu Sarah, meskipun saya memilih untuk tetap bekerja di tempat saya sekarang yang sekarang ini, saya akan selalu siap membantu nona Chiara. Kapanpun nona Chiara membutuhkan saya, selama saya bisa membantu, pasti dengan senang hati saya akan membantunya." Sarah langsung tersenyum lega mendengar janji Anna itu.
Karena bagi Sarah, adalah suatu hal yang sangat penting, untuk Anna yang dilihatnya sudah seperti kakak bagi Chiara, mengajarkan banyak hal kepada Chiara.
Harus diakui, dunia bisnis sangat jauh berbeda dengan dunia remaja yang selama ini dijalani oleh Chiara. Dunia yang cukup keras dan harus inovatif menurut Sarah.
Dituntut untuk terus mengembangkan kemampuan diri, dan menilai kebutuhan masyarakat dengan begitu cepat, sehingga mampu memikirkan produk-produk baru atau menawarkan hal-hal baru yang akan membuat masyarakat puas.
Apalagi bisnis keluarga Chiara merupakan usaha bisnis perhotelan, dimana kenyamanan para pengunjung menjadi prioritas utama dalam menjalankan bisnis tersebut.
"Rencananya, kami bertiga akan kembali sore ini. Bagaimana dengan rencana kalian?" Sarah berkata sambil menggerakkan tangannya, menunjukkan bahwa dia, Johnson dan Diego yang dia maksudkan akan kembali sore ini.
"Kalau kalian masih ingin menikmati liburan disini, silahkan saja." Johnson menambahkan kata-kata dari Sarah, karena dia juga cukup kaget mendengar kalau ternyata selama 2 tahun ini, antara Aaron dan Chiara tidak terjadi hubungan layaknya suami istri yang sesungguhnya.
Sehingga untuk saat ini, Johnson berharap dengan liburan kali ini, baik Chiara maupun Aaron bisa lebih saling terbuka dan menjadi semakin dekat.
Apalagi, meski tidak menunjukkan barang bukti aslinya, Sarah sudah menceritakan tentang kado sprei yang diberikan Aaron pada Johnson, sebagai bukti kalau Aaron dan Chiara sudah melakukan tugas mulia mereka sebagai pasangan suami istri yang seharusnya.
Meskipun bagi Johnson cara Aaron membungkam kemarahan Sarah dengan cara yang sungguh diluar dugaan, tapi Johnson ikut merasa bahagia melihat perkembangan hubungan anak dan menantunya itu.
"Besok Chiara sudah akan mulai kuliah. Justru sebelum makan siang nanti kami berdua akan pulang." Aaron menanggapi perkataan kedua orangtuanya dengan sikap datar.
Eh... astaga.... Benar yang dikatakan om Aaron, bagaimana bisa aku lupa kalau besok aku sudah mulai masuk kuliah. Aist... sayang sekali, padahal aku belum pergi mengelilingi villa ini. Aduh.... benar-benar deh....
Chiara berkata dalam hati, cukup kaget karena tanpa terasa olehnya, mereka sudah beberapa hari di villa, tapi karena dia dan Aaron hanya mengurung diri di kamar, sibuk melakukan aktifitas yang sekarang menjadi aktifitas favorit mereka, hingga Chiara benar-benar tidak sadar kalau yang dinikmatinya selama liburan ini hanyalah kamar tempatnya dan Aaron menghabiskan waktu berdua, hingga lupa waktu.
"Ooo, ternyata begitu. Kalau begitu kalian harus bersiap-siap setelah ini agar tidak buru-buru." Sarah langsung berkata sambil menatap ke arah Chiara yang tampak terdiam.
"Kenapa kamu diam saja sedari tadi Chiara? Apa kamu masih belum puas menikmati masa bulan madu kalian?" Pertanyaan Sarah membuat Chiara meringis.
"Ah, mana mungkin Ma. Mungkin Om Aaron yang belum merasa puas, belum sempat melakukan yang lain." Semua mata yang ada disana langsung terbeliak, lalu menahan tawa geli mendengar perkataan Chiara yang diucapkannya dengan wajah tidak merasa bersalah sama sekali.
Sedang Aaron yang dibicarakan oleh Chiara barusan, wajahnya langsung berubah warna menjadi merah, sebuah reaksi yang hanya bisa ditunjukkan Aaron jika itu berkaitan dengan Chiara.
Chiara sendiri, dengan wajah polosnya memandang ke mereka dengan heran, karena maksud Chiara mengatakan itu adalah untuk menunjukkan bahwa dia dan Aaron belum sempat berkeliling menikmati keindahan area sekitar villa.
"Apa perkataanku ada yang salah Om? Benar kan kita masih sibuk di kamar tanpa sempat berjalan-jalan di sekeliling villa?" Pertanyaan Chiara kepada Aaron membuat wajah Aaron semakin memerah, meskipun Aaron tahu Chiara mengatakan itu bukan dengan maksud memamerkan kepada semua orang bagaimana mereka begitu sibuk menikmati kegiatan ranjang mereka selama beberapa hari ini, tanpa sempat memikirkan kegiatan menarik lainnya.
"Chiara, kenapa masih saja memanggil Aaron dengan sebutan "om"?" Sarah akhirnya berusaha menyelamatkan Aaron yang terlihat kikuk dan tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan dari Chiara.
"Lhooo, kenapa memangnya?" Chiara justru bertanya balik mendengar pertanyaan tentang panggilannya kepada Aaron.
"Sebenarnya panggilan om yang kamu ucapkan untuk pak Aaron, terlihat tidak romantis sama sekali. Orang yang mendengarnya pasti berpikir pak Aaron bukan benar-benar suamimu, dan mungkin justru ada orang yang berpikir bahwa pak Aaron adalah sugar daddy untukmu." Perkataan Anna membuat Chiara melongo.