
Timezone, sebuah tempat yang tidak pernah dibayangkan oleh Aaron menjadi tempat yang ingin dikunjungi Chiara saat ini.
Tempat yang menunjukkan bagaimana energik dan masih begitu mudanya Chiara sehingga ingin ke tempat seperti itu.
Dan boleh dikata, sebenarnya Aaron belum pernah pergi ke tempat seperti itu, membuat wajahnya terlihat sedikit ragu.
Iya Om... timezone.... Sejak lama aku ingin mengajak om Aaron ke tempat itu. Sekarang usiaku sudah 18 tahun, bukan anak kecil lagi. Seperti teman-temanku yang biasa pergi ke sana bersama kekasihnya masing-masing, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya berkencan di tempat itu. Boleh kan aku menganggap hari ini adalah kencan kita? Aku mau membuat banyak momen romantis untuk kita berdua, agar om Aaron tidak bisa lagi berpaling dariku.
Chiara berkata dalam hati sambil tersenyum manis, berharap hari ini bisa menjadi hari pertama dia berkencan dengan Aaron, sesuatu yang selama beberapa bulan ini sudah dia rencanakan, akan dia lakukan begitu Aaron kembali ke Indonesia.
"Benar Om. Kita ke sana ya? Aku sudah sejak menikah belum pernah kesana karena terlalu sibuk dengan sekolahku. Hari ini aku benar-benar mau melepaskan kepenatan setelah sekian lama. Boleh ya Om?" Tanpa ragu Chaira berkata kepada Aaron sambil menatapnya dengan wajah begitu berharap.
"Iya." Akhirnya Aaron memilih untuk mengalah dan memenuhi permintaan Chiara, meski Aaron tidak tahu bagaimana nasibnya nanti di sana.
Apakah dia akan bisa menikmati tempat itu, apakah dia akan merasa nyaman berada di tempat seperti itu, jujur saja Aaron tidak bisa menjawab atau menebaknya.
Tapi melihat wajah Chiara yang begitu menginginkan untuk pergi kesana, dan juga ingatan tentang sosok Brandon yang terlihat energik dan masih muda membuat Aaron semakin yakin bahwa dia harus memenuhi keinginan Chiara.
Dengan usianya yang sekarang sudah di angka 30, terus terang Aaron tahu kalau membicarakan itu hatinya merasa tidak nyaman karena usia Chiara yang masih 18 tahun, meskipun sebenarnya, orang yang tidak tahu tentang Aaron akan berpikir usia Aaron masih di kisaran dua puluhan, karena wajahnya yang memang terlihat awet muda.
Awalnya Aaron tidak pernah sekalipun memikirkan tentang jauhnya perbedaaan usianya dengan Chiara.
Akan tetap begitu Aaron mendengar hari itu Chiara memanggilnya dengan sebutan "Om" di awal pertemuan mereka, dan melihat beberapa orang yang berusaha mendekati Chiara, rata-rata usianya berada di bawahnya, terutama Robin yang hanya selisih 2 tahun di atas Chiara, membuat Aaron mulai berpikir bagaimana cara agar dia bisa untuk sedikit mengikis jarak usia mereka itu dengan merubah penampilan dan kebiasaannya saat berada di dekat Chiara.
"Terimakasih ya Om. Pokoknya aku tidak akan pulang sebelum puas bermain. Aku akan benar-benar melupakan kepenatanku sebentar." Chiara berkata sambil menarik kedua tangannya yang saling bertaut ke arah belakang, sambil membusungkan dadanya, membuat Aaron yang kebetulan sedang menatap ke arahnya hampir saja tersedak karena kaget dengan tindakan Chiara yang sedikit menunjukkan bagaimana bagian depan tubuhnya sekarang terlihat lebih berisi dengan bertambahnya usianya.
Belum lagi, gerakan Chiara itu membuat kemeja lengan pendek yang dipakainya sedikit terangkat dan tersingkap, sehingga sempat menunjukkan bagaimana mulusnya kulit perut Chiara di balik kemeja itu.
Meskipun hanya sebagian kecil saja, bagian dari tubuh Chiara yang ada di balik kemejanya dan sempat terlihat oleh mata tajam Aaron, langsung membuat Aaron sedikit melotot karena kaget, dan membuat wajah Aaron terasa panas, sehingga dia bisa merasakan kalau wajahnya saat ini pasti memerah, membuat Aaron langsung menatap lurus ke arah jalanan, mencoba mengalihkan fokusnya.
Chiara... kenapa sepanjang sore ini kamu benar-benar menguji imanku?
Aaron melenguh dalam hati menyadari bagaimana tanpa sadar perbuatan Chiara sejak mereka bertemu tadi sudah membuat hatinya begitu kebat kebit dan libidonya naik dengan pesat.
"Aku jamin Om Aaron juga akan menyukai tempat itu. Om Aaron nanti harus bertanding denganku arcade street basketball. Aku ahli sekali lho memainkan itu." Tanpa tahu bagaimana Aaron yang berusaha menghentikan pikirannya yang sudah sedikit berkelana kemana-mana, bahkan hampir membuatnya mengerem mendadak, Chiara berkata sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Aaron, sehingga Aaron bisa mencium harumnya parfum yang biasa digunakan oleh Chiara.
Dan yang membuat Aaron harus menahan nafasnya, Chiara bahkan tidak sadar kalau saat ini, salah satu dari dadanya sedang menyentuh lengan Aaron yang sedang menyetir.
Oh my God. Help me!
Aaron berteriak dalam hati karena sejak tadi tindakan Chiara membuat dia terus menerus olahraga jantung, dan ada sesuatu seperti aliran listrik yang menyengat lengannya karena tanpa sengaja lengannya bersentuhan salah satu aset berharga milik istri kecilnya itu, yang sudah beranjak dewasa dan semakin menunjukkan kalau lekuk tubuhnya semakin terlihat sempurna sebagai seorang wanita muda.
Setiap berada di dekat Chiara, Aaron tahu kalau tubuhnya selalu bereaksi dengan cepat, terutama dada dan otaknya.
Hanya saja, akhir-akhir ini, dengan bertambahnya usia Chiara, dan waktu yang begitu lama, yang sudah dihabiskan Aaron untuk selalu mengamati Chiara meski seringnya secara diam-diam, membuat jiwa laki-laki Aaron semakin lama semakin sulit untuk dia kendalikan.
Bagaimanapun Aaron berusaha bertahan, pemikiran bahwa Chiara adalah istrinya yang sah, seringkali mengelitik hatinya untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih dekat dan intim dengan Chiara karena merasa dia berhak untuk melakukan itu, apalagi Aaron sadar bahwa dia menginginkannya karena begitu mencintai gadis itu.
Siapapun pria itu, sekuat apapun, akan sulit untuk tidak bereaksi dan tidak mengharapkan suatu tindakan dan hubungan yang lebih intim dengan gadis yang dicintainya, untuk bisa mengungkapkan perasaan cintanya yang dalam.
"Om Aaron kenapa?" Melihat Aaron terdiam seribu bahasa dengan mata menatap lurus ke depan, dengan santainya Chiara bertanya.
Please Chiara... tolong sedikit jauhkan tubuhmu... dariku... sebelum aku tidak bisa lagi menahan diriku....
Aaron berkata dalam hati sambil mencengkeram setir mobilnyan dengan erat.
"Ah, Om Aaron tidak berani menerima tantangan dariku ya?" Chiara berkata sambil memajukan bibirnya, dan menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, membuatnya menjauh dari Aaron yang langsung berdehem keras, untuk mengendalikan dirinya dari godaan besar yang baru saja dialaminya.
"Kenapa Om? Tenggorakan Om Aaron kering? Apa ada minum di mobil ini?" Pertanyaan Chiara membuat Aaron sedikit menghela nafasnya, seolah menemukan sedikit cara untuk mendinginkan kepalanya karena perkataan Chiara barusan.
"Ada." Aaron berkata sambil mengambil botol berisi air mineral yang ada di samping kanannya.
"Sini Om, biar Chiara yang bantu untuk membukanya." Tanpa menunggu jawaban dari Aaron, Chiara segera meraih botol minuman yang masih tersegel tutupnya itu.
"Ini Om...." Chiara langsung menyodorkan kembali botol minuman yang sudah dibukanya kepada Aaron.
"Terimakasih." Aaron berkata pelan, setelah itu langsung meneguk minuman itu, berharap otak dan dadanya segera dingin kembali dan aman terkendali.