
Bagi Revina sendiri, dengan semua kejadian hari ini, seolah-olah dia mendapatkan sebuah tamparan begitu keras, yang membuatnya sadar tentang segala hal buruk yang sudah dia perbuat di masa lalu.
Entah perbuatan buruk tentang perilaku jahatnya selama ini pada Chiara, atau perbuatan dosa yang sudah dia lakukan bersama Richard, dan juga semua tindakan jahatnya berselingkuh di belakang Dani, semuanya membuat Revina benar-benar merasa menyesal.
Saat melihat sosok Chiara yang mendekat ke arahnya tadi, entah kenapa hati Revina tiba-tiba terasa begitu ngilu dan pilu.
Dan entah apa yang terjadi sekarang, dalam hati Revina tiba-tiba merasakan sebuah perasaan haru, bahwa ternyata, dia masih memiliki sepupu sebaik Chiara, yang selama ini begitu dia benci karena iri dengan setiap nasib baik yang dia miliki, meski kedua orang tuanya sudah meninggal.
Saat ini, di tengah apa yang sudah terjadi padanya, Revina merasa beruntung masih ada Chiara yang sampai saat ini tetap berada di sisinya, meski selama ini mereka tidak pernah dekat, karena dia yang selalu bersikap jahat terhadap Chiara.
Melihat di saat titik terendah dalam kehidupannya, Revina melihat ketulusan Chiara tetap yang tetap ada di sampingnya, membuat Revina tidak bisa lagi menahan perasaannya.
“Aku memang pantas mendapatkan semua hal buruk ini, setelah apa yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu. Maafkan setiap perbuatan jahatku padamu selama ini Chiara.” Dalam tangisnya yang masih keras, Revina kembali berkata pelan dengan tangannya yang tidak terpasang dengan selang infus, semakin erat memeluk tubuh Chiara seolah takut Chiara tiba-tiba saja pergi darinya, di saat dia sangat berharap dia bisa menebus semua kesalahan yang sudah dia perbuat pada Chiara.
Chiara langsung menahan nafasnya dan saat ini, dadanya berdetak dengan cukup keras, karena benar-benar tidak menyangka kalau karena semua kejadian buruk yang dialaminya hari ini, membuat Revina tersadar.
Melihat Revina yang tampah rapuh, dengan kondisi yang menyedihkan karena tangisnya yang tidak berhenti sedari tadi, membuat Chiara menggerakkan tangannya, membalas pelukan Revina, dan mengelus-elus lembut punggung Revina.
Tangisan Revina semenjak dia tersadar tadi sudah membuat wajah dan matanya tidak hanya terlihat bengkak dan sembab, namun juga membuatnya berantakan.
Apalagi Revina juga terlihat pucat karena efek kehamilannya, sedang make up di wajahnya sudah tidak lagi terlihat sedikitpun.
Setelah membalas pelukan Revina cukup lama, Chiara sedikit melonggarkan pelukannya, meskipun terlihat jelas Revina enggan melepas pelukannya pada Chiara.
“Revina… jangan berkata seperti itu. Aku sudah cukup senang melihatmu baik-baik saja. Kamu pasti cepat pulih, harus tetap semangat ya. Aku akan selalu mendukungmu.” Chiara mencoba mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menghibur Revina dari kegundahan hatinya.
Di luar sana, Aaron tampak tersenyum tipis, ikut lega mendengar apa yang sudah terjadi di dalam sana.
“Tolong…. Jangan ucapkan kata-kata maaf lagi. Ingat kondisimu saat ini sedang hami. Tidak baik kalau kamu terlalu tegang dan juga bersedih seperti ini….” Perkataan Chiara membuat Revina semakin terharu dan semakin merasa bersalah kepada Chiara, sehingga membuat tangisnya kembalinterdengar keras.
“Jangan menangis, kamu harus….”
“Revina! Semua gara-gara Richard!” Tiba-tiba saja Mona berteriak memotong perkataan Chiara pada Revina, membaut baik Revina maupun Chiara tersentak kaget.
Teriakan Mona membuat Revina spontan melepaskan pelukannya pada Chiara dan langsung menoleh ke arah mamanya yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah terlihat marah.
“Semua karena kesalahan si brengsek Richard itu!” Mona kembali berteriak setelah berada di dekat tempat Revina terbaring.
Tiba-tiba saja tangan Mona bergerak cepat menarik tangan Revina yang tadinya memeluk tubuh Chiara, dan mencekalnya dengan erat
“Gugurkan bayi dalam perutmu itu!” Mata Chiara dan Revina sama-sama terbeliak kaget mendengar perintah dari Mona.
“Tidak Ma… anakku tidak bersalah….” Revina berkata sambil tangannya yang terhubung dengan selang infus memegang perutnya, seolah dengaan tindakannya itu dia bisa melindungi bayi dalam perutnya.
“Ma, sabar Ma! Jangan bertindak yang aneh-aneh. Menggugurkan bayi dalam kandungan sama dengan membunuh. Bagaimana bisa kamu berpikir untuk membunuh calon cucumu sendiri?” Raksa berusaha menahan gerakan tangan Mona yang sedang mencekal tangan Revina, berusaha agar Monta tidak hilang kendali dan menyakiti Revina.
Namun dengan gerakan kasar dan sekuat tenaga yang dia miliki, Mona langsung menepiskan tangan Raksa, yang tampak kaget dengan tindakan kasar istrinya tersebut.
Selama ini, mendengar Mona mengatakan hal-hal buruk dan kasar melalui bibirnya adalah hal yang biasa bagi Raksa sejak mereka menikah.
Dan Raksa yang begitu mencintai Mona, masih bisa mentolerir setiap omelan dari bibir Mona yang memang kebiasaan buruk yang sudah mandarah daging, tapi melihat tindakan kasar dan tekesan kurang ajar padanya sebagai suami, cukup membuat Raksa terkejut dan langsung diam mematung karena begitu kagetnya.
“Dia hanya anak haram! Pembawa aib! Memalukan! Cepat singkirkan dia dari hidup kita!” Tanpa perduli dengan jawaban dari Revina, Mona menggerakkan tangannya yang lain ke arah perut Revina, berniat memukul perut berisi calon bayi, tanpa perduli dengan akibat perbuatannya di masa depan jika dia berani melakukan itu.