
“Bagaimanapun dia adalah saudara sapupumu, sudah seharusnya kamu mengkhawatirkan kondisinya. Entah bagaimana sikap orang terhadap kita, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, karena itu akan membuat kejahatan itu bergulir tanpa henti dan menyakiti lebih banyak orang.” Aaron berkata pelan, membuat senyum Chiara semakin lebar mendengar betapa bijaknya kata-kata suaminya.
“Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja, termasuk… bayi dalam kandungan Revina. Kasihan sekali, dia kan tidak bersalah….” Chiara berkata sambil menghela nafasnya.
Melihat itu tangan Aaron langsung bergerak mengelus lembut kepala Chiara.
“Semoga semua baik-baik saja seperti harapanmu. Tadi sekilas aku mendnegar detak jantung bayi dalam pertu Revina tidak masalah meskipun Revina pingsan. Dia bayi yang kuat. Dan aku harap Revina tetap menjaganya dengan baik meskipun Richard sudah melakukan hal seburuk itu pada Revina. Sepertid katamu, bayi itu tidak bersalah.” Aaron berkata sambil melangkah keluar dari lift pribadinya, dan berjalan ke arah petugas front office, meminta jasa valet untuk menyiapkan mobilnya kembali.
“Benar Om, apapun yang sudah terjadi, bayi itu tidak bersalah sama sekali. Semua kesalahan itu murni dilakukan oleh kedua orangtuanya. Tidak ada anak yang ingin dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Kasihan sekali….” Chiara berkata pelan, membuat Aaron langsung melingkarkan lengannya ke bahu Chiara.
“Kita patut bersyukur karena kita bisa menjaga diri kita dengan baik sampai pada waktunya kita berhak melakukan hal seperti itu.” Aaron berbisik pelan sambil tangannya mengelus lembut bahu Chiara yang dipeluknya, membuat Chiara tersenyum dengan wajah bahagia.
“Iya Om, dan ke depannya kita harus mengajarkan hal seperti itu sebagai standar hidup anak-anak kita kelak. Eh….” Chiara yang tanpa sadar membicarakan tentang anak wajahnya langsung memerah begitu sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya kepada Aaron yagn langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Chiara sambil membukakan pintu mobil untuk Chiara.
“Jadi… apa kamu sudah bersih? Kapan kita bisa kembali mencoba membuat anak?” Pertanyaan Aaron dengan hembusan nafasnya yang harum sekaligus hangat di lehernya ketika berbisik, membuat wajah Chiara semakin memerah.
“Masih ada sedikit hari ini.” Dengan sikap malu-malu Chiara menjawab sambil masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat sebelum dia semakin gugup dan salah tingkah di hadapan Aaron.
“Kalau begitu, apa besok sudah bisa?” Aaron yang sudah duduk di posisi belakang setir kembali bertanya kepada Chiara.
Dan yang membuat Chiara memalingkan wajahnya menjauh dari tatapan mata Aaron, karena pertanyaan Aaron itu diucapkannya dengna nada penuh harap, dan itu membuat dada Chiara berdegup dengan kencang, dan bibirnya terus tersenyum tanpa bisa dia hentikan.
Sebuah senyuman yang bercampur antara bahagia namun juga bangga dan malu-malu.
Karena dengan pertanyaan Aaron yang menunjukkan betapa Aaron sudah tidak sabar menantikan waktu untuk kembali menikmati percintaan mereka, Chiara merasa menjadi wanita yang benar-benar dicintai dan diinginkan oleh Aaron.
“Chiara….” Suara panggilan Aaron yang bagi Chiara terdengar begitu lembut dan mesra, membuat dengan sedikit kaget Chiara langsung menoleh ke arah Aaron.
“Pasti bisa Om!” Tanpa sadar dengan spontan dan sikap bersemangat, Chiara menjawab pertanyaan Aaron yang langsung tersenyum.
Aaron berkata dalam hati dengan hati begitu puas, dan juga begitu berharap besok semuanya berjalan lancar, dia bisa kembali menikmat waktu intimnya dengan Chiara tanpa merasa was-was karena adanya Zachary.
“Eh, om , bukan begitu maksudnya…. Mmmm… maksudku, besok aku bisa ke…..” Dengan gugup dan salah tingkah, Chiara mencoba menjelaskan kepada Aaron tentang jawabannya.
“Cup….” Sebuah kecupan dari Aaron langsung membungkam bibir Chiara yang langsung terbeliak kaget.
Aduh…. Jantungku….
Chiara hanya bisa melenguh dalam hati karena Aaron tidak lagi membiarkan bibirnya bisa mengeluarkan suara kecuali sebuah lenguhan pelan karena ikut terbawa arus kemesraan yang dibawa oleh bibir Aaron yang sedang menguasainya sekarang.
Begitu melihat Chiara yang masih saja belum lihai dalam berciuman mulai terlihat kehabisan nafas, Aaron langsung menghentikan ciumannya, dan menjauhkan wajahnya dari wajah Chiara.
“Jangan menarik kembali kata-katamu. Kamu tidak tahu betapa lamanya aku menantikan itu….” Aaron berkata sambil tersenyum, dan tangannya bergerak memegang tuas perseneling, menggubahkan ke posisi D, dan langsung menginjak gas dengan senyum bahagia terkulum di wajahnya.
(Meski tak harus mengoper gigi dan menginjak kopling, sebelum memutuskan mengendarai mobil matik ada baiknya pengemudi mempelajari dulu arti huruf dan angka yang terdapat pada persneling mobil matik.
P memiliki arti parking atau parkir. P biasa digunakan untuk mobil yang diparkir sehingga transmisi dalam posisi terkunci dan mobil tidak akan bergerak.
R memiliki arti reverse atau gigi mundur. Gigi ini biasanya digunakan saat pengendara hendak memundurkan kendaraan.
N adalah neutral atau netral. Dalam posisi ini, mesin dan transmisi tidak terhubung.
D adalah singkatan dari drive atau jalan. Umunya, mobil matik melaju dengan posisi transmisi D untuk berkendara maju. Dengan transmisi D, perpindahan gigi dari 1 sampai gigi tertinggi akan diatur secara otomatis. Pengendara hanya tinggal menginjak gas dan rem).
“Bagiku lama sekali harus menunggu selama itu sampai tamumu pergi. Dan aku yakin kamu pasti juga tidak sabar menantikan kesempatan untuk kita bisa kembali bercin….”
“Sudah Om, jangan dibahas terus….” Tiba-tiba saja Chiara memotong perkataan Aaron dengan cara menutup bibir Aaron dengan telapak tangannya, agar Aaron menghentikan bicaranya.