Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RENCANA UNTUK WISUDA CHIARA



Johnson memang bukan orang yang  suka tampil di depan umum atau mengghadiri kegiatan sosial meskipun perusahaan seringkali memberikan bantuan sosial, sehingga seringkali untuk urusan sekolah anak-anaknya, Sarah yang selalu menjadi orang yang hadir sebagai wali dari anak-anaknya.


Sehingga rencana Johnson untuk menghadiri acara pelepasan siswa SMA yang sudah lulus membuat Aaron merasa sedikit kaget.


Karena sosok Johnson Malverich, sebagai orang berpengaruh, dan orang yang dulunya merupakan pemimpin tertinggi di Grup Malveich sebelum diturunkan ke Aaron, dikenal seabgai pengusaha sukses yang ikut berperan penting bagi lahir dan besarnya Grup Malverich yang sekarang ini.


Apalagi kalau pihak sekolahan tahu tentang kehadiran Johnson Malverich di sekolah itu.


Sepertinya, kehadiranmu benar-benar sudah mengubah semua orang yang ada di keluarga Malverich. Bahkan papa Johnson yang biasanya acuh tak acuh terhadap acara anak-anaknya, bisa kamu buat bertekuk lutut hingga berencana untuk datang ke sekolahmu. Entah bagaimana respon mama dan papa kalau tahu aku berencana menceraikanmu. Kurang 2 tahun lebih.... Waktuku dan kamu hanya tinggal itu.


Aaron berkata dalam hati sambil menghela nafasnya.


"Selamat malam pak Aaron...." Zachary berkata sambil tersenyum begitu mendapatkan panggilan telepon dari Aaron.


Kali ini, apa yang akan dilakukan oleh pak Aaron di hari wisuda nona Chiara nanti ya?


Zachary berkata dalam hati sambil menebak-nebak apa perintah yang harus dia lakukan dari Aaron.


"Hallo Zac, apa benar mama dan papa berencana untuk datang ke acara wisuda Chiara?" Aaron langsung bertanya kepada Zachary tanpa basa basi.


"Benar Pak Aaron, bu Sarah sendiri yang mengatakan pada saya, untuk melakukan konfirmasi jadwal dan tempat acara wisuda nona Chiara, karena beliau berniat hadir." Zachary menjawab pertanyaan Aaron tanpa ragu.


"Dan papa? Yakin dia juga akan hadir?" Pertanyaan Aaron hampir saja membuat Zachary tertawa, karena dia cukup mengerti kenapa Aaron terlihat tidak percaya kalau Johnson akan benar-benar akan hadir di acara itu, mengingat sifat dingin Johnson yang sebelas dua belas dengan Aaron.


"Iya Pak Aaron, pak Johnson juga menyatakan akan hadir di sana. Dia bahkan menanyakan kepada nona Chiara, biasanya wali murid kalau datang ke sekolah mengenakan pakaian apa?" Zachary berkata sambil menahan senyumnya mendengar suara Aaron yang terdengar sedikit tersedak setelah mendengar kata-kata Zachary.


"Apa pak Aaron tidak ada rencana untuk hadir juga?"


"Tidak." Aaron langsung menjawab pertanyaan Zachary dengan cepat, seolah jawaban itu berasal dari dasar hatinya yang paling dalam.


"Seperti yang sudah aku katakan beberapa hari yang lalu, aku tidak bisa datang ke acara itu. Syukurlah kalau papa dan mama berencana datang." Aaron berkata dengan nada sesantai mungkin, meskipun hatinya saat ini sedang bergejolak hebat.


Siapa yang tidak ingin hadir di hari penting gadis tercintanya? Yang akan mulai memasuki kehidupan dewasanya, lulus dari SMA dan akan menjadi seorang mahasiwi?


Apalagi dari foto-foto yang dikirimkan Chiara kepada Aaron tanpa lelah setiap harinya, menunjukkan bahwa gadis itu semakin tumbuh dewasa, semakin hari terlihat semakin cantik dan tetap terlihat selalu ceria, dengan rambut panjangnya yang sepertinya sengaja dia panjangkan tanpa ada keinginan untuk memotongnya.


Aaron sendiri tidak tahu kalau Chiara sengaja tidak mau memotong rambutnya, sampai Aaron kembali dan dia bisa mendapatkan hati Aaron.


Zachary yang mendengar sebuah helaan dari Aaron hanya bisa terdiam, tanpa berani bertanya, meskipun Zachary yakin sebenarnya Aaron pasti sangat ingin pergi mengantar Chiara juga.


“Zachary, pastikan untuk membeli boneka dan buket bunga untuk Chiara. Belikan buket bunga yang terbaik untuknya. Dan juga boneka beruang berukuran besar untuknya. Belikan juga coklat… mungkin perlu juga kamu membelikannya roti tart sebagai ucapan selamat untuknya. Atau menurutmu.... Apa aku harus membelikan kalung juga untuknya dan aku kirim dari sini saja?”


Mendengar setiap hal yang akan diberikan Aaron sebagai hadiah kelulusan kepada Chiara, meskipun dia tidak datang, membuat Zachary hampir saja menertawakan Aaron kalau saja tidak ingat bahwa laki-laki yang baru saja memberikan perintah itu adalah majikannya yang selama ini sudah  membayarnya dengan gaji begitu tinggi dan fasilitas wah untuknya.


“Hanya itu saja Pak Aaron yang harus saya siapkan?” Zachary berkata sambil menutup bibirnya dengan punggung telapak tangannya, untuk mengingatkan dirinya sendiri kalau dia tidak boleh tertawa sekarang, atau mengeluarkan suara tawanya meski sedikit saja, jika tidak ingin Aaron tersinggung.


“Eh, sebentar lagi Chiara akan masuk kuliah, Selagi dia juga ada acara wisuda, minta salah satu perwakilan dari grup Malverich, cari salah satu staff perempuan yang terpercaya. Ah tidak… lebih baik istrimu saja Zachary. ...” Perkataan Aaron membuat Zachary menelan ludahnya dengan susah payah.


Aduh, apalagi yang sedang direncanakan pak Aaron untuk nona Chiara? Sampai-sampai mau melibatkan istriku lagi? Semoga itu bukan sesuatu yang sulit dan melelahkan seperti waktu itu.


“Ap… apa yang bisa istri saya bantu Pak Aaron?” Zachary bertanya dengan suara ragu, dengan mulutnya komat kamit seperti orang yang merapal mantra, berharap tugas dari Aaron tidak berat kali ini.


“Minta tolong istrimu untuk membantumu memilih pakaian, t shirt, tas, sepatu, celana panjang, rok, topi, jaket, atau apapun itu untuk bisa dipakai oleh Chiara ke kampusnya nanti.” Aaron berkata tanpa menyadari kalau perkataannya sudah membuat Zachary melongo.


Nona Chiara yang mau kuliah, kenapa pak Aaron yang terlihat sibuk dan justru terlihat nervous? Seperti dia yang mau kuliah saja ya? Padahal semua yang disebutkan pak Aaron tadi, nona Chiara sudah memiliki semua benda tersebut. Dan bahkan karena begitu banyaknya, aku yakin, ada beberapa dari benda-benda itu yang belum pernah sekalipun dipakai oleh nona Chiara, yang pada dasarnya tidak pernah heboh saat berdandan.


Zachary berkata dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap gemas melihat bagaimana sosok Aaron yang dingin berubah menjadi begitu perhatian, bahkan kadang perhatian yang begitu besar dan tidak masuk akal begitu itu menyangkut tentang Chiara.


Zachary bisa mengatakan itu dalam hati, karena dia juga waktu itu bersama istrinya sibuk kesana kemari, mendapatkan tugas dati Aaron untuk menyediakan semua keperluan Chiara sebelum mereka menikah dan Chiara tinggal di apartemen itu.


Bukan hanya itu saja…. Setelah membeli begitu banyak barang untuk bisa dikenakan oleh Chiara setelah menikah dengan Aaron, Zachary bermaksud mengajak istrinya pulang beristirahat setelah berkeliling ke mall-mall dan juga butik-butik besar yang ada di kota itu, sampai mereka merasa lelah, kerena Aaron meminta mereka memenuhi lemari yang ada di lemari kamar Chiara, yang ukurannya cukup besar, sehingga memuat begitu banyak pakaian....


Tapi pada waktu itu, Aaron justru meminta Zachary dan istrinya yang sebenarnya sudah merasa sangat lelah, membantunya untuk menyiapkan kamar untuk Chiara, mengajak mereka bertemu dengan desainer interior dari Amerika, dan memberikan pendapat dan juga ikut mengatur desain yang kira-kira akan disukai oleh Chiara, sebagai seorang gadis remaja, karena istri Zachary dianggap lebih mengerti dibandingkan dengan Zachary atau Aaron sendiri.


“Zachary… apa kamu masih di sana?” Aaron langsung bertanya begitu suara Zachary tidak didengarnya untuk waktu yang lumayan lama karena melamun.