Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PESAN BALASAN DARI AARON



"Se... sepertinya begitu sih." Chiara menjawab dengan suara ragu, untuk menjawab pertanyaan Brandon tentang apakah mereka tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama.


"Wah... wah... sepertinya ini info menyenangkan buat Brandon. Eh, sudah malam lho ini, ayo kita masuk." Arya berkata sambil melepaskan pandangan matanya dari jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Eh." Mendengar perkataan Arya, Brandon bergumam pelan, seolah ingin menyatakan protesnya pada Arya karena masih ingin mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Chiara, namun sepupunya itu justru mengingatkan kalau ini sudah waktunya untuk pulang dan beristirahat.


Chiara sendiri ingin segera kembali ke apartemen, karena baru saja dia mendengar notifikasi pesan baru masuk, dan dia tahu itu notifikasi pesan dari om Aaronnya, karena Chiara memang memberikan ringtone khusus untuk pesan dan juga panggilan telepon dari Aaron.


(Nada dering (bahasa Inggris: ringtone) adalah suara yang dibunyikan oleh telepon (umumnya seluler) untuk menandakan masuknya pesan atau panggilan.


Sementara dering, deringan, sinyal dering, atau apa yang mungkin dilihat sebagai sinyal panggilan yang merupakan pendahulu nada dering, telah ada sejak permulaan telepon, nada dering modern muncul pada tahun 1960-an dan telah berkembang menjadi nada dan banyak nada atau melodi yang dapat disesuaikan. Bisa dibilang nada dering modern pertama muncul di film Our Man Flint pada tahun 1966, di mana kepala agen rahasia pemerintah memiliki telepon merah yang terhubung langsung ke presiden dan berdering dengan nada dering musik yang khas.


Diikuti aturan FCC yang mengizinkan perangkat pihak ketiga pada tahun 1975 untuk dihubungkan ke saluran telepon, produsen memproduksi dering telepon aksesori yang berdering dengan nada atau melodi elektronik daripada lonceng mekanis. Orang-orang juga membuat dering sendiri yang menggunakan chip dari kartu ucapan musikal untuk memainkan melodi pada saat adanya panggilan masuk.


Ponsel komersial pertama dengan nada dering yang dapat disesuaikan adalah Japanese NTT DoCoMo Digital Mova N103 Hyper oleh NEC, dirilis pada Mei 1996. Ponsel ini memiliki beberapa lagu yang telah diatur dalam format MIDI. Pada bulan September 1996, IDO menjual Digital Minimo D319 oleh Denso, yang merupakan ponsel pertama di mana pengguna dapat memasukkan melodi asli, dan bukan lagu-lagu yang telah ditentukan. Ponsel ini terbukti populer di Jepang: sebuah buku diterbitkan pada tahun 1998 memberikan rincian tentang cara menyesuaikan ponsel untuk memutar cuplikan lagu-lagu populer yang terjual lebih dari 3,5 juta salinan.


Layanan nada dering selular pertama yang dapat diunduh dibuat dan dikirim dari Finlandia pada tahun 1998 ketika Radiolinja (operator seluler Finlandia yang sekarang dikenal sebagai Elisa) memulai layanan mereka yang disebut Harmonium, ditemukan oleh Vesa-Matti Pananen).


Setelah berbulan-bulan Chiara selalu yang mengirimkan pesan, dan foto-foto tanpa adanya balasan dari Aaron, dan baru saja dia mendengar adanya pesan masuk dari Aaron, tentu saja saat ini Chiara ingin berlari kencang ke kamarnya, dan bisa segera membaca pesan masuk dari Aaron itu.


Akan tetapi mengingat sopan santun bahwa sekarang di dekatnya bukan hanya Brandon sebagai seniornya, tapi juga Arya yang merupakan salah satu dekan di kampusnya, membuat Chiara menahan diri untuk tidak melakukan hal yang barusan dipikirkannya itu.


"Ayo... kapan-kapan kita bisa melanjutkan obrolan kita kan?" Perkataan Arya disusul dengan gerakannya untuk mendekati pintu masuk gedung apartemen mewah tempat mereka tinggal.


"Apa besok kamu ke kampus?" Brandon bertanya kepada Chiara, karena setelah acara ospek selesai untuk mahasiswa angkatan baru, mereka baru akan memulai kuliahnya 2 minggu lagi.


Beberapa hari ini, mereka harus mengurus jadwal kuliah, memilih kelas dosen (karena ada beberapa mata kuliah yang diajar oleh lebih dari 1 dosen, dan mahasiswa boleh memilih untuk mengikuti kelas dosen yang mana) dan mencari info tentang letak ruangan-ruangan yang akan mereka pakai untuk kuliah.


"Aku belum tahu." Chiara langsung menjawab seperti itu, karena dia juga tidak ingin berbagi banyak informasi tentang kegiatan kuliahnya secara mendetail kepada Brandon.


"Lhah, kok belum tahu?" Brandon bertanya kepada Chiara yang langsung tersenyum.


"Iya, karena aku menunggu konfirmasi dari Grace. Kalau dia ke kampus besok, aku akan ikut, kalau tidak mungkin besok atau besok lusa, tergantung Grace. Urusanku di kampus sudah tidak banyak, tinggal menunggu waktu kuliah. Kalau Grace, memang masih harus menyelesaikan beberapa persyaratan administrasi yang tertunda." Baik Arya dan Brandon langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Chiara.


"Lho, kenapa dengan liftnya Pak?" Baik Chiara maupun Brandon langung ikut menoleh mendengar pertanyaan Arya kepada salah satu teknisi yang tampak sibuk mengecek lift apartemen yang sedang terbuka lebar.


Di apartemen itu terdapat 5 lift yang letaknya berjajar, dan salah satunya adalah lift pribadi milik Aaron sebagai pemilik gedung apartemen ini, lift nomer 1.


Jika biasanya bersama Aaron, Chiara akan ikut naik melalui lift pribadi Aaron, tapi jika dia sedang sendiri, dia lebih memilih untuk menaiki salah satu dari lift umum yang ada.


Empat orang berpakaian teknisi dan salah satu orang lagi berpakaian khas bagian keamanan gedung apartemen itu, tampak sedang sibuk mengamati salah satu lift umum yang terbuka lebar, dan di dekatnya terdapat papan dengan tulisan "SEDANG DALAM PERBAIKAN."


"O, selamat malam Pak Arya." Petugas keamanan yang cukup mengenal Arya itu langsung menyapa Arya dengan sikap sopan.


"Ini Pak, sedang ada perbaikan lift. Tadi ada laporan kalau lift nomer 4 ini mengalami kerusakan. Setelah kami periksa ternyata kerusakannya bukan cuma masalah aliran listrik dan ada kabel listrik yang terputus, tapi bagian dalam bodi lift tampak penyok. Kami sedang berusaha memperbaikinya dan juga mencari penyebabnya." Petugas keamanan itu berkata sambil tangannya menunjuk ke salah satu dinding lift di bagian dalam yang memang terlihat penyok.


"Waduh... kena benda apa itu? Kok sampai penyok parah begitu?" Arya yang tadi melongokkan kepalanya untuk melihat bagian yang ditunjuk oleh security itu langsung berkomentar sambil mengernyitkan dahinya.


"Masak ada orang iseng yang memukul bodi lift dengan benda keras? Minimal harus palu atau logam berukuran besar dengan tenaga yang menekan, dan harus cukup besar juga untuk bisa membuat bodi lift sampai penyok begitu." Arya yang merupakan dekan fakultas teknik di kampus tempatnya bekerja, berkata dengan mata menatap penuh selidik ke arah dalam lift yang rusak.


Brandon dan Chiara yang merasa penasaran jadi ikut melongokkan kepala mereka ke dalam lift, meski tidak terlalu dekat ke arah lift.


"Apa kalian tadi tidak mendengar suara apapun? Karena kalau cuma sekedar ditekan tanpa adanya tenaga mesin yang cukup besar, tidak mungkin penyok. Kalau dipukul dengan benda logam, pasti timbul suara dentuman yang cukup keras dan kalian pasti bisa mendengarnya." Lagi-lagi Arya menyampaikan logikanya untuk menebak apa yang sudah terjadi pada lift itu.