Love Destiny

Love Destiny
BAYANGAN MASA LALU



Sesampainya dirumah sakit, Elisabeth bergegas menuju ruangan dimana Crystal dirawat. Hati wanita tua itu bagai teriris belati yang sangat tajam waktu melihat Crystal terbaring tak berdaya diatas ranjang.


“ Tidak !!!...ini tak boleh terjadi lagi !!!...”, guman Elisabeth sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Elisabeth sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Arnold jika sekali lagi dia kehilangan seseorang yang sangat dicintainya.


Sekelebat bayangan Isabella kembali melintas di kepalanya. Bagaimana perjuangan wanita itu dalam melahirkan Arnold disaat kondisi fisiknya sangat lemah akibat racun yang terus saja masuk dalam tubuhnya tanpa seorangpun tahu.


Jika melihat kondisi  Crystal saat ini, tentunya racun yang masuk kedalam tubuh gadis itu dosisnya lumayan banyak, jika dibandingkan dengan racun yang masuk kedalam tubuh Isabella.


Racun yang masuk kedalam tubuh Isabella dimasukkan sedikit demi sedikit sehingga racun tersebut tidak terdeteksi sampai akhirnya kondisinya benar – benar parah, baru hasil laboratorium menunjukkan ada zat berbahaya dalam tubuh wanita itu.


Dalam kasus tersebut hanya segelintir orang yang mengetahuinya, termasuk dokter Robert yang kala itu terus memantau kondisi Isabella.


Semua upaya dilakukan oleh Elisabeth dan Mark untuk kesembuhan Isabella dan mencari dalang dibalik semua itu.


Belum juga ditemukan penawar racun tersebut, Isabella keburu meninggal dunia karena menyelamatkan Arnold yang akan ditembak saudara kembar Elisabeth, Alfonso.


Akibat kejadian tersebut, Arnold yang sangat syok dengan musibah yang menimpah dirinya itu akhirnya kehilangan sebagian memori masa kecilnya.


Tidak ingin cucunya semakin depresi maka Elisabeth mulai memodifikasi realita yang ada dengan menceritakan masa kecil Arnold yang berbeda dengan kenyataan, termasuk tentang sang mama yang diceritakan neneknya meninggal setelah melahirkannya.


Karena ditinggal sang mama, Arnold kecil akhirnya terpaksa dirawat sang nenek karena istri pertama  papa Arnold, Patricia juga masih mempunyai balita berusia satu tahun setengah, William, kakak tiri Arnold.


Selain karena hal tersebut, Elisabeth juga ingin memantau perkembangan sang cucu karena setelah insiden tersebut Arnold tidak mau didekati oleh siapapun yang berjenis kelamin perempuan, kecuali Elisabeth, sang nenek.


Elisabeth sendiri tidak begitu paham apa yang membuat Arnold tiba – tiba merasa jijik saat berdekatan dengan yang namanya perempuan.


Bahkan hanya bersengolan saja sudah membuatnya membersihkan tubuhnya sedemikian rupa hingga menyebabkan bagian tubuh yang tersentuh tersebut luka karena terus digosok dengan menggunakan cairan disinfektan.


Sudah banyak psikolog yang dipanggil oleh Elisabeth untuk mengobati sang cucu namun hasilnya zonk karena alam bawah sadar Arnold  menolak hingga sesi hypnosis yang dilakukan sering gagal karena tidak adanya kerja sama antara pasien dan psikolog.


Hanya dokter Philip lah satu – satunya psikolog yang mampu menghipnotis Arnold, meski itu hanya untuk mengobati penyakit insomnianya saja, tanpa bisa membuka luka lama Arnold  apa yang membuatnya sangat membenci yang namanya perempuan.


Elisabet terus saja menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara kasar sambil menatap kearah Crystal.


Ceklek…..


Dokter Robert masuk kedalam ruangan, berjalan menuju tempat Elisabeth berdiri, dan mulai menjelaskan hasil laboratorium yang ada ditangannya.


“ Anda tidak perlu khawatir nyonya, nona Crystal sudah saya beri penawar racun yang saya buat, kita tinggal tunggu bagaimana hasilnya, karena jujur saja ini baru pertama kalinya saya ujikan kepada manusia....”, ucap dokter Robert mencoba menenangkan Elisabeth.


“ Saya harap usahamu selama ini tidak sia – sia…”, ucap Elisabeth sendu.


“ Kemungkinan tingkat keberhasilannya adalah  99, 99 persen…”, ucap dokter Robert yakin.


Setelah meninggalnya Isabella, dokter Robert tidak pernah berhenti untuk mencari penawar racun yang dianggapnya sangat langkah itu.


Untungnya Elisabeth selalu mendukung semua financial penelitiannya karena wanita tua itu merasa hal itu akan diperlukannya suatu saat nanti.


Mengingat, pada saat Isabella terkena racun adalah saat dia sedang hamil Arnold. Elisabeth takut jika suatu saat efek racun itu akan berpengaruh pada kesehatan sang cucu.


Untuk itu dia membiarkan dokter Robert terus melakukan penelitian tentang hal itu. Dan ternyata sekarang semua itu berguna.


“ Tampaknya, orang ini juga tidak memiliki data yang lengkap karena jenis racun yang dia gunakan, meski sama namun ada beberapa unsur yang berbeda. Dan racun ini setidaknya harus disuntikkan minimal lima kali baru bisa bereaksi  sempurna. Racun ini tidak bisa dicampur dalam minuman ataupun makanan seperti yang digunakan pada nyonya Isabella dulu. Karena tidak terlalu sempurna inilah maka saya harap penawar yang saya buat bisa segera membuat nona Crystal sadar….”, ucap dokter Robert menjelaskan.


Untuk sesaat, keduanya terdiam memikirkan tentang teka – teki ini dan berharap Crystal bisa segera sadar dan kondisinya pulih seperti sedia kala.


Lamunan keduanya buyar saat tiba – tiba Arnold masuk kedalam ruangan dengan aura membunuh yang sangat kental.


“ Jadi, kalian berbohong  padaku !!!...”, ucap Arnold geram.


Seketika, dokter Robert dan Elisabeth menoleh kearah Arnold dengan wajah panik. Dengan lembut, Elisabeth segera menghampiri cucu kesayangannya itu, berusaha untuk mengajaknya duduk dan mengatakan semuanya.


“ Kurasa ini adalah saatnya aku menceritakan semuanya…”, batin Elisabeth yakin.


Didampingi dokter Robert, Elisabeth pun menceritakan semuanya. Siapa itu Alfonso dan apa yang sebenarnya terjadi pada Isabella, semua Elisabeth ceritakan dengan detail dan sedikit – sedikit ditambahi oleh dokter Robert pada saat menceritakan kondisi Isabella hingga kasus penyerangan malam itu.


Arnold terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras dengan kobaran api dalam manik matanya waktu mendengar semua cerita sang nenek kepadanya.


“ Nenek kenal dengan lelaki ini ?...”, Arnold segera menunjukkan foto Alexander kepada Elisabeth.


“ Elinor !!!...”, Elisabeth langsung menutup mulutnya spontan dengan kedua tangannya dengan mata membulat sempurna waktu mengucapkan nama tersebut.


“ Siapa dia ?...”, tanya Arnold dengan nada rendah dan dingin.


“ Tidak !!!...ini tidak mungkin !!!....”, ucap Elisabeth sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali sambil melirik kearah dokter Robert.


Dokter Robert yang tadi sempat melirik foto yang ditunjukkan Arnold kepada Elisabeth juga tak bisa menutup keterkejutannya.


Elisabeth tampak berpikir keras sambil memandang foto lelaki yang diperkirakan seusia Arnold tersebut.


Berusaha untuk mencari dalam ingatan memorinya tentang data diri lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan Elinor, istri dari kakak kembarnya itu.


“ Elinor adalah istri dari kakak kembar nenek, jadi bisa disebut juga nenekmu, dan dia…”, Elisabeth masih mencoba untuk berpikir lagi, mencari ingatan terdalamnya tentang siapa sosok tersebut.


“ Jadi, dia adalah pakde ku ?...”, Arnold bertanya dengan tatapan penuh selidik.


“ Jika dia memang anak Elinor, iya…”, ucap Elisabeth pasrah.


“ Apa maksud nenek?...”, Arnold terlihat binggung mendengar jawaban wanita tua itu.


Elisabeth kembali bercerita jika dia sudah melenyapkan keluarga kakak kembarnya itu hingga tidak akan ada lagi penerus dalam keluarga itu yang nantinya akan membalaskan dendam atas perbuatannya di masa lampau.


Namun siapa sangka jika sekarang dia melihat foto seseorang yang mirip dengan kakak iparnya itu dalam versi cowok.


Apalagi dari penuturan Arnold, identitas dari lelaki tersebut tidak bisa ditemukan dimanapun semakin memperkuat dugaan bahwa dia anak dari Elinor yang dulu pernah dinyatakan meninggal, anak yang diduga hasil perselingkuhan kakak iparnya itu dengan sang bodyguard yang mengawalnya.


“ Berarti, kita tinggal mencari data tentang bodyguard yang bernama Frans itu…”, ucap Arnold sambil melirik Emily yang berada tak jauh darinya.


Emily yang tanggap akan isyarat yang diberikan oleh Arnold segera bergegas untuk mencari semua hal tentang Frans yang diduga sebagai selingkuhan Elinor.


“ Frans adalah yatim piatu, setelah kasus perselingkuhan itu mencuat, Elinor langsung menyembunyikannya dengan sangat rapi, bahkan Alfonso juga tidak pernah bisa menemukannya…”, ucap Elisabeth menerawang jauh.


Jika benar itu anak Elinor maka sudah jelas motif utamanya adalah untuk membalas dendam dan menghancurkan keluarga Lincoln yang telah membunuh sang ibu, terutama Elisabeth.