
Sesuai permintaannya tadi malam saat menemani iblis itu tidur dalam kamarnya, siang ini Crystal pergi ke kantor sang papa ditemani Emily.
Crystal punya feeling jika kedatangannya tidak akan berakhir baik, maka dari itu dia minta ditemani Emily agar bisa menjaganya dari kejadian yang tak diinginkan.
Selain penampilan Emily yang tidak terlalu mencolok, tangan kanan Arnold itu mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam sehingga dapat mendeteksi bahaya yang mendekat secara cepat dan akurat.
Melihat banyaknya musuh dalam selimut di perusahaan membuat Crystal harus lebih waspada, untuk itu dia sangat memerlukan Emily saat ini.
“ Baiklah…tampaknya aku harus mulai dari sini…”, batin Crystal menyeringai sambil menuju meja resepsionis, tempat dimana keponakan kepala HRD, Ranti bertugas.
Sebelum berurusan dengan Ranti, Crystal sudah menghubungi Santoso untuk menemuinya di loby depan dan mengancamnya agat tidak memberitahu siapapun masalah kedatangannya.
Santoso yang sudah mengetahui karakter Crystal hanya bisa menuruti perintahnya tanpa membantah jika tak ingin terkena masalah.
Crytalpun berjalan menuju meja resepsionis dengan anggun. Ranti menyipitkan kedua matanya, mengamati dengan intens wanita cantik yang berjalan kearahnya itu dengan pandangan sinis.
“ Siang…Ada yang bisa saya bantu ?...”, ucap Ranti ketus.
Bukan hanya bersikap ketus tapi Ranti juga dengan tidak sopan menilai Crystal dari atas sampai bawah, melihat semua yang dikenakannya dengan tatapan mencibir.
Memang seperti itu sifat Ranti, dia akan selalu iri dan tidak senang jika melihat wanita yang lebih cantik darinya, seperti wanita yang ada didepannya saat ini.
Bukan hanya tidak sopan, terkadang Ranti juga mempersulit tamu yang datang, jika tidak ada perintah langsung dari Abraham, apalagi tamu tersebut adalah wanita cantik, seperti Cryastal saat ini.
“ Saya ingin bertemu dengan bapak Santoso, kepala HRD Abraham Group…”, ucap Crystal santai.
“ Apa sudah ada janji ?...”, tanya Ranti dengan nada malas.
“ Belum…”, jawab Crystal sambil tersenyum.
“ Kalau begitu, silahkan anda kembali sampai anda membuat janji dengannya…”, ucap Ranti bertambah ketus.
“ Apa kamu bisa coba menghubunginya untuk saya ?...”, tanya Crystal masih dengan nada sopan dan ramah.
“ Tidak bisa…kepala HRD sangat sibuk, jika tidak ada janji tidak bisa bertemu…”, ucap Ranti masih dengan nada juteknya.
“ Bagaimana kamu bisa tahu jika kamu tidak coba menghubunginya ?...”, Crystal berkata sambil mengeluarkan senyum manis andalannya.
“ Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa !!!....”, teriak Ranti marah.
Sontak teriakan Ranti tersebut membuat semua orang memandang kearah mereka. Meski ada yang terkejut dan menganggap tindakannya sangat tidak sopan, namun bagi karyawan di perusahaan Abraham itu hal yang biasa.
Mereka tidak terlalu banyak berkomentar mengenai sikap Ranti yang kadang dianggap terlalu kelewatan, hanya karena dia punya dukungan dari sang paman yang merupakan kepala HRD diperusahaan.
“ Sayang sekali…ck ck ck....perusahaan sebesar ini memiliki pegawai yang sangat tidak sopan…”, ucap Crystal dengan senyum mengejek.
“ Security…seret wanita ini keluar !!!...”, perintah Ranti ditelepon.
Tak lama kemudian ada dua orang security yang datang menghampiri. Salah satu dari mereka adalah Tarno, pegawai lama diperusahaan.
Tarno terdiam sejenak dan langsung menunduk hormat saat mengetahui wanita yang hendak diusirnya adalah anak bos perusahaan.
“ Kenapa kamu hormat padanya…”, bisik samsul yang ada disampingnya.
“ Itu nona Crystal, putri bungsu pak bos, cepat hormat jika tak mau dipecat…”, bisik Tarno menasehati.
Tarno dan pegawai yang sudah lama ikut Abraham pasti tahu dan kenal dengan Crystal, gadis cantik yang terlihat lemah, lembut dan anggun tapi aslinya bar – bar dan kejam.
Melihat Tarno dan Samsul tak berbuat apapun malah memberi sikap hormat kepada Crystal membuat Ranti bertambah marah.
“ Cepat seret wanita itu !!!…kalau tidak, kalian akan aku pecat sekarang juga !!!...”, hardik Ranti penuh emosi.
“ Tapi nona…”, ucap Samsul gelagapan.
“ Tapi apa ?!!!...Cepat !!!...”, Ranti yang sudah tak sabar akhirnya turun tangan sendiri untuk menyeret Crystal keluar dari perusahaan.
Belum sempat aksinya dijalankan, Santoso keburu datang dan mulai melepaskan tangan sang ponakan dari tangan anak bosnya itu.
Mendengar semua perkataan keponakannya membuat tubuh Santoso membeku seketika. Keringat dingin mulai mengalir deras ditubuhnya melihat senyum manis Crystal.
Bagi orang pada umumnya, melihat senyum manis anak bosnya itu pasti akan terpesona dan jatuh cinta. Tapi tidak dengan dirinya.
Senyuman diwajah Crystal itu bagaikan alunan musik kematian yang siap mengambil nyawanya kapan saja. Lebih seram dibandingkan jika gadis itu sedang marah.
“ Wah…wah…Aku tidak tahu jika tugas kepala HRD sekarang sudah diambil alih oleh seorang resepsionis rendahan. Bahkan dia juga punya wewenang untuk memecat karyawan…sungguh hebat…”, ucap Crystal bertepuk tangan.
Mendengar ucapan tajam Crystal, seketika keringat dingin semakin deras mengucur dibadan Santoso. Diapun segera meminta maaf atas kelancangan keponakannya itu.
Ranti terlihat melotot tak percaya jika pamannya bisa tunduk dihadapan wanita cantik yang ada didepannya itu seketika membuatnya semakin murka.
Tangan Ranti dipegang dengan kuat oleh Emily waktu mencoba untuk menampar Crystal. Membuat gadis itu meronta – ronta dan mengila, namun gerakannya dengan mudah dikunci oleh Emily.
“ Maafkan saya nona, dia masih muda dan tahu apa – apa…”, ucap Santoso gemetaran.
“ Jika tak tahu apa – apa kenapa kamu tempatkan di bagian resepsionis bukan menjadi OG (Office Girl) saja..”, ucap Crystal tajam.
“ Kurasa kamu tahu konsekuensi dari ini apa kan…”, ucap Crystal mengingatkan.
“ Tentu nona…”, ucap Santoso patuh.
" Bagus...", ucap Crystal tersenyum lebar.
“ Tarno…Samsul, bawa Ranti keluar sekarang juga. Dan mulai siang ini kamu dipecat…”, ucap Santosodengan tubuh bergetar hebat.
“ Tapi…paman…paman…”, teriak Ranti sambil meronta – ronta saat dua orang security yang tadi hendak dipecatnya tadi menyeretnya keluar.
Sedangkan Santoso sudah berlari menyusul Crystal dan Emily yag sudah berada didepan lift dengan nafas tak beraturan.
Melihat Ranti dipecat secara tidak hormat seperti itu karena menyinggung tamu yang datang membuat semua orang mulai berbisik - bisik penasaran.
“ Siapa dia ?...”
“ Jika pak Santoso tunduk kepadanya, berarti dia orang penting…”
“ Kalau dilihat dari cara bicara dan pakaian yang dikenakannya, dia bukan orang sembarangan…”
“ Kamu lihat kan…bahkan dia membawa pengawal pribadi bersamanya…”
Itulah sebagian bisik – bisik semua orang yang ikut menyaksikan peristiwa tersebut. Semua orang sekarang diliputi tanda tanya yang cukup besar siapa sebenarnya wanita itu.
Disudut loby perusahaan terlihat seorang pria tampan tersenyum lebar karena bisa melihat kembali kecantikan yang sudah mengisi kekosongan hatinya selama ini.
Enrico sudah berdiri disana cukup lama mengamati semuanya sebelum Crystal datang. Tujuannya kesini sebenarnya ingin bertemu kekasih sepupunya itu, namun melihat situasi yang ada, dia mengurungkan niatnya untuk bertemu hari ini.
“ Aku pastikan kita akan bertemu secepatnya cantik…”, batin Enrico sambil melangkahkan kakinya keluar perusahaan.
Semua karyawan tampak bertanya – tanya siapa yang sedang berkeliling perusahaan bersama dengan Santoso, kepala HRD mereka yang terkenal galak dan arogan.
Yang mereka tahu bahwa Santoso sangat takut padanya, hal itu diketahui para karyawan dari video yang diambil oleh salah satu karyawan yang kebetulan sedang mengambil paket di loby perusahaan.
Banyak yang sangat senang melihat Ranti dipecat oleh pamannya sendiri dihadapan semua orang karena sikapnya yang sangat tidak sopan dan arogan itu.
Selama ini Ranti sering menindas karyawan lain dengan Santoso sebagai tamengnya. Bahkan beberapa karyawan yang bersinggungan dengannya akhirnya dipecat tanpa alasan yang jelas.
Banyak karyawan berharap Santoso dipecat atau diturunkan posisinya dan diganti dengan orang yang lebih kompeten disana.
Namun apalah daya, sang bos tampaknya masih saja mempertahankan lelaki tua itu meski tahu kadang tindakannya merugikan perusahaan
“ Sudah dicatat semua kan ?…”, tanya Crystal setelah dua jam berkeliling perusahaan yang terdiri dari enam lantai itu.
“ Sudah nona…”, ucap Santoso pucat pasi.
“ Bagus !!!...Suruh mereka keruanganku sekarang juga !!!...”, perintah Crystal dan mulai berjalan menuju ruangannya di lantai lima, sama dengan ruang kerja sang papa.