Love Destiny

Love Destiny
PERMULAAN



Gerald mengemudi dengan perasaan kacau balau. Entah kenapa saat ini hatinya merasa tidak tenang setelah bertemu wanita yang sangat dirindukannya itu.


Dia merasa bahwa tatapan Crystal terhadap dirinya tidak sama seperti dulu yang selalu menatapnya dengan kekaguman dan penuh cinta.


Tapi ini tadi,  yang dilihatnya hanyalah tatapan amarah dan penuh kebencian terpancar disana. Sudah tidak ada lagi kelembutan dan cinta yang keluar dari sorot mata Crystal.


“ Tidak…mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif …”, ucap Gerald berusaha untuk membesarkan hatinya.


Sementara itu, di kediaman Arnold. Crystal yang masih berdiri ditaman berusaha untuk meredakan suasana hatinya yang sempat berkecamuk sedari tadi.


Bagaimana tidak  gelisah jika dari kejauhan dia diintai iblis yang siap mencabut nyawanya kapanpun dia mau. Dan hampir saja nyawanya melayang, jika dia tidak peka terhadap situasi yang ada.


Beberapa kali Crystal menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Hal tersebut dilakukannya berulangkali hingga rasa sesak yang tiba – tiba datang beranjak pergi.


Setelah merasa agak tenang, Crystal mulai berjalan masuk kedalam rumah. Rencananya dia akan segera naik dan mengistirahatkan badan dan pikirannya setelah pertemuan dengan Gerald yang cukup menguras energinya, akibat menahan emosi dalam jiwa.


Baru saja kakinya melangkah masuk, alunan musik kematian terdengar begitu tajam digendang telinganya, membuat langkahnya terhenti seketika.


“ Kemari…”, ucap Arnold dengan nada dingin saat melihat Crystal memasuki rumah.


“ Sejak kapan dia duduk disana…”, batin Crystal resah.


Tanpa sadar, tangannya meremas kuat kedua sisi bajunya saat mendengar suara malaikat pencabut nyawa itu memanggilnya.


Meskipun dia terlahir kembali, namun rasa takutnya pada iblis berwajah malaikat itu tidak juga hilang. Bahkan rasa takut itu seakan – akan sudah merasuk kedalam tulang dan darahnya.


Tapi dikehidupan saat ini Crystal ingin mengubah nasibnya, maka dari itu dia tekan sekuat – kuatnya rasa takut yang ada dan berusaha untuk tetap tenang.


Sambil berjalan mendekat kearah Arnold, Crystal terus menekan jemarinya hingga kukunya yang tajam melukai telapak tangannya hingga berdarah.


Saat sudah berada dihadapan Arnold, Crystal sangat terkejut karena tiba – tiba iblis tersebut menarik pergelangan tangannya, karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, Crystal jatuh dalam pangkuan sang iblis.


Belum juga hilang rasa terkejutnya, Crystal kembali dikejutkan saat merasakan benda dingin dan kenyal menempel dibibirnya.


Menekannya dengan keras dan menggigitnya berkali – kali hingga bibir Crystal bengkak akibat ulah sang iblis. Belum puas dengan hal itu,  Arnold kembali melakukan aksinya.


Kali ini dia menuntut agar Crystal membalasnya. Tidak ingin membuat bibirnya semakin bengkak dan sakit, Crystalpun menurutinya.


Gerakan yang semula kasar dan brutal berubah menjadi sangat lembut saat dia membalas dan memenuhi hasrat sang iblis.


Crystal tidak habis pikir, bagaimana iblis tersebut sangat bersemangat untuk menciumnya padahal dia saat ini memakai lipstick berwarna hijau lumut, membuat siapa saja bergidik ngeri saat menatapnya.


Bahkan dirinya sendiri merasa jijik saat melihat warna lipstick tersebut di pantulan cermin, seakan melihat lumut basah yang bau disana.


“ Tapi ini…dia sangat bersemangat menciumku…”, batin Crystla tak percaya.


“ Apakah dia tak merasa jijik…”, batinku bergidik ngeri.


“ Dasar orang aneh…”, batinku lagi.


Jika melihat kebelakang, Arnold memang sangat aneh. Crystal yang berpenampilan sangat buruk dan menjijikkan ternyata tidak mnegurangi hasrat laki – laki iblis itu untuk menyentuh dirinya.


Hal itu terbukti dengan liarnya Arnold menjamah tubuhnya seminggu yang lalu. Hukuman untuk Crystal karena berani kabur dari rumah dan tersenyum manis terhadap karyawan minimarket yang dikunjunginya.


Crystal terus saja bermonolog pada dirinya, larut dalam pikirannya sendiri hingga tak menyadari bahwa iblis yang mendekapnya sudah tak bersuara.


Begitu tersadar dari lamunannya, Crystal merasakan  bahunya terasa berat. Samar – samar dia mendengar suara dengkuran halus dan hawa hangat disekitar lehernya.


“ Apakah dia tertidur…bagaimana bisa…”, batin Crystal terkejut.


Ternyata bukan hanya Crystal yang terkejut dengan situasi ini. Emily yang melihat bosnya tertidur sambil memeluk Crystal dalam pangkuannya juga merasa sangat heran.


Semua orang tahu bahwa Arnold menderita insomnia akut, dimana obat – obatan biasa tidak akan mampu mengatasi karena tubuhnya kebal terhadap obat.


Setiap ingin tidur , Arnold selalu membutuhkan seorang psikolog professional untuk menghipnotisnya. Kadang, hipnotis juga tidak mampu membuatnya tertidur jika kondisi perasaannya sedang buruk.


Jadi, melihat Arnold tertidur sambil memangku Crystal merupakan moment yang cukup langkah. Oleh karena itu semua orang berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar majikannya tidak sampai terbangun.


Sudah hampir satu jam Arnold menjadikan Crystal bantalnya. Saat ini bahunya terasa sangat kaku karena laki – laki tersebut menyandarkan kepalanya dibahu Crystal dan  memeluknya dengan erat seolah tubuhnya adalah sebuah bantal.


“ Arnold…”, bisik Crystal ditelinga laki – laki itu.


Melihat Arnold masih terdiam tak bereaksi membuat Crystal kembali memanggil namanya. Ingin sekali dirinya berteriak keras agar laki – laki tersebut terbangun.


Namun hal gila itu tidak mungkin dilakukannya mengingat betapa buruknya mood laki – laki iblis tersebut jika dibangunkan secara paksa ketika sedang tertidur.


Crystalpun berusaha untuk bergerak dan melepaskan dirinya dari pelukan Arnold. Tapi aksinya dihentikan oleh Emily yang tiba – tiba sudah berada disampingnya.


Saat Crystal hendak bersuara, Emily cepat – cepat membungkam mulut tunangan bosnya itu agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Arnold.


“ Bos sudah lebih dari seminggu ini tidak tidur…”, bisik Emily sangat lirih.


“ Apa…tidak tidur selama semingggu….”, batin Crystal terkejut.


Karena sangat terkejut dengan perkataan Emily, Crystal sampai membulatkan matanya. Tiba – tiba rasa takut kembali masuk kedalam relung hatinya.


“ Dia benar – benar iblis…”, batinnya bergidik ngeri.


“ Manusia normal tidak akan tahan terjaga sepanjang waktu …seperti dia…”, batinnya sambil melirik laki – laki yang terlihat sangat menikmati waktu tidurnya.


Sadar akan posisinya, Crystal kembali diam seperti patung. Berusaha untuk tidak bergerak meski badannya sudah mulai kesemutan karena terlalu lama diam diposisi yang sama .


Tiba – tiba kantong bajunya bergetar dan tidak lama kemudian suara nyanyian group band asal negeri ginseng lantang terdengar.


Bunyi teleponnya menggema diseluruh ruangan,  menganggu kesunyian  malam. Tentu saja hal tersebut membuat Crystal sangat panik.


Kantong gaunnya yang cukup dalam membuatnya sedikit kesusahan untuk meraih ponselnya.  Saat ponsel tersebut sudah berhasil diambilnya, diapun langsung mematikan benda pipih tersebut.


Namun sayang aksinya tersebut terlambat, iblis yang memangkunya sudah terbangun. Mulai membuka mata dan menatapnya tajam.


Pandangan tajam sang iblis seolah – olah menyerap habis aliran energi dalam tubuh Crystal, membuat wajahnya sangat pucat tanpa ada aliran darah disana.


“ oh my god….apakah ini akhir hidupku…”, batinku ketakutan.


Karena cukup panik, refleks aku mengulurkan tanganku. Menutup kedua mata Arnold dengan telapak tanganku sambil tangan yang satunya menarik kepala dan menyandarkan kebahuku.


“ Tidak apa – apa…tidurlah…”, ucapku lembut.


Akupun mulai membelai lembut rambutnya sambil berdendang. Seperti seorang ibu yang sedang menina bobokkan anaknya.


Satu detik….


Dua detik…


Tiga detik…


Empat detik telah berlalu, tidak ada suara ataupun pergerakan  membuat Crystal mulai menarik telapak tangan yang tadi menutup kedua mata Arnold.


Crystalpun langsung menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Lega, itulah yang dirasakannya  karena akhirnya iblis tersebut kembali tertidur.


Ternyata bukan hanya Crystal yang merasa lega, Emily dan beberapa pelayan yang kebetulan melihat kejadian tersebut mulai bisa bernafas kembali.


Karena mereka cukup tahu betapa menakutkannya sang majikan jika terganggu dari tidurnya. Sebagai seorang penderita insomnia akut, tidur adalah sesuatu yang sangat berharga.


Jadi, jika ada hal yang menganggu waktu berharganya tersebut, Arnold tidak akan segan – segan untuk  membunuh siapa saja yang menganggunya.