
Untuk sesaat Vreyan bisa menguasai emosi dalam dirinya. Namun kebenciannya terhadap Crystal tidak bisa hilang begitu saja, meski dia hanyalah seorang gadis kecil yang bodoh.
“ Cih…kamu bilang apa yang bisa dilakukannya ?...dia melakukan semua itu dengan sengaja !!!...dia sengaja melakukan itu untukku !!!...dia ingin menciptakan jarak antara aku dan tuan muda !!!...”, guman Vreyan mencemoh.
“ Hey…apa yang kamu maksud dengan itu ?....jangan membuatnya terdengar seperti gadis itu adalah saingan cintamu. Aku tahu kamu cemburu, bahkan jika gadis itu adalah iblis yang paling mematikan didunia ini, apa kamu pikir tuan muda itu bodoh hingga tak bisa menjaga dirinya sendiri…jadi menurutmu tuan muda seperti itu ?...”, Emily berusaha untuk membuat Vreyan paham dan bisa berpikir dengan jernih.
Dia tidak mau melihat Vreyan cemburu buta seperti tadi hingga membuat dirinya terjerumus dalam masalah. Dengan melakukan tindakan implusif yang membahayakan.
Vreyan terdiam dan memikirkan semua kata yang diucapkan oleh Emily dengan tenang. Membuat amarah dalam diri pemuda tersebut perlahan mulai menghilang.
Dalam kesunyian yang ada, tiba – tiba keduanya dikejutkan dengan suara serak yang rendah terdengar dari arah belakang.
“ Tentu saja aku memilih kamu…tidak ada yang lain…”, ucap Arnold lembut sambil meletakkan sehelai rambut Crystal kebelakang telinganya.
Crystal yang melihat Vreyan kembali tenang merasa tak suka. Diapun kembali mengeluarkan kata – kata provokatif untuk membuat iblis kecil tersebut marah.
“ Lalu…bagaimana jika suatu hari aku dan Vreyan jatuh ke laut…siapa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu ?...”, tanya Crystal dengan suara manja.
“ Oh my god !!!…apa yang ada dalam pikiran gadis itu ?..bagaimana bisa dia mengeluarkan pertanyaan absurd seperti itu ?...tahukah dia, iblis kecil ini baru saja kutenangkan ?!!!...”, batin Emily syok.
Bukan hanya Emily yang terlihat frustasi, darah dalam tubuh Vreyan yang sempat redah kembali mendidih saat tuan mudanya itu menjawab pertanyaan absurd dari Crystal.
“ Tentu saja kamu yang akan kuselamatkan terlebih dahulu…”, ucap Arnold lembut dengan tatapan hangat.
“ Dimana samuraiku ?!!!...”, geram Vreyan marah dan mulai mencari dimana Emily menyembunyikan samurainya.
Pada saat ini, ekspresi Vreyan terlihat sangat menyedihkan, seperti seorang istri yang baru saja ditinggalkan. Kemarahan dalam hatinya sudah tidak bisa ditahan lagi hingga asap hitam terlihat keluar dari atas kepalanya.
“ Vreyan !!!...letakkan samuraimu sekarang !!!...tolong, tenanglah !!!...yakinlah jika tuan muda masih sayang kepadamu !!!...tuan muda mengatakan semua itu karena tuan muda tahu jika kamu bisa berenang sehingga tidak membutuhkan bantuannya...”, ucap Emily menjelaskan situasi yang ada.
Emily berusaha untuk terus membujuk Vreyan agar kembali tenang. Wanita itu merasa jika dirinya sekarang terlihat sedikit aneh saat membujuk pemuda yang sedang cemburu buta dengan seseorang yang tidak seharusnya menjadi saingan cintanya.
Jika suasana dikursi depan penuh ketegangan, lain hal nya dengan yang terjadi dikursi belakang. Perlahan Crystal menyungingkan senyum penuh kemenangan saat mendengar jawaban dari Arnold yang memilihnya tanpa ragu dan pasti, serta melihat ekspresi Vreyan yang sangat suram.
“ Apa kamu sudah selesai mengacau ?...”, Arnold berbicara lembut ditelinga Crystal sambil menarik pinggang ramping gadis itu agar semakin menempel padanya.
Mendengar ucapan Arnold seketika bola mata Crystal melotot dan berkedip berkali – kali karena terkejut.
Dirinya sama sekali tidak menyangka jika Arnold mengetahui semua perbuatannya. Tidak ingin dimarahi karena telah berani memprovokasi muridnya, Crystalpun mulai merajuk.
Mendapatkan peluang, Crystalpun terus saja mencurahkan semua isi hatinya pada Arnold agar Vreyan juga tahu jika dirinya sangat membenci pemuda itu.
“ Dia tidak menyukaiku…begitupun denganku…aku sangat membencinya…”, ucap Crystal sambil memukul – mukul pelan dada bidang Arnold sambil cemberut.
Melihat wajah Crystal yang sangat mengemaskan membuat Arnold ingin melahapnya hingga habis saat ini juga, namun egonya menahannya.
“ Jangan memprovokasinya…”, ucap Arnold penuh peringatan.
“ kenapa kau membelanya…”, ucap Crystal sedih.
“ Aku tidak membelanya…”, jawab Arnold dingin.
Melihat udara disekitar mulai terasa dingin, Crystalpun semakin kesal. Dia kembali mengutarakan semua yang ada dalam hatinya.
“ Aku tahu jika mata gunanya untuk melihat !!!...Tapi jika dia terus menatapku seperti itu, maka aku juga akan terus membuatnya marah sampai mati !!!...”, Crystal berkata dengan kesal.
Sebagai guru sekaligus majikan Vreyan, Arnold sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan masuk kedalam pertengakaran dua remaja labil yang ada dihadapannya itu.
Tapi, setelah melihat keagresifan Crystal hari ini dan melihat wajahnya yang sangat mengemaskan ketika marah membuat Arnold berpikir untuk menaikkan gaji Vreyan bulan ini.
Bagaimanapun juga, pemuda itu cukup berjasa hari ini. Hingga dirinya bisa merasakan kehangatan serta kecemburuan Crystal yang selama ini sangat diinginkannya.
Semakin Arnold berusaha untuk dekat dan mengetahui lebih dalam tentang Crystal, semakin dia dibuat terkejut dengan tingkah gadis itu yang selalu berada diluar ekspetasinya.
Kadang gadis itu penurut seperti kelinci kecil yang imut. Kadang juga bisa galak dan garang seperti harimau betina yang kelaparan.
Hitam putih yang ada dalam Crystal membuat hati Arnold semakin menghangat dan penuh oleh rasa cinta yang sudah meluap dari dalam hatinya.
Crystal yang sangat lelah dengan semua aktivitas hariannya dan masalah perusahaan yang tidak ada habisnya, tanpa sadar mulai menutup kedua matanya.
Melihat gadisnya tertidur dengan sangat nyenyak dalam dekapannya, Arnold menginstruksikan Vreyan untuk membawa mobilya lebih lambat, agar gadisnya itu bisa tertidur lebih lama sebelum sampai di kediaman utama.
Tentu saja perintah Arnold tersebut membuat Vreyan hampir muntah darah. Bagaimana bos nya yang sangat kejam dan tak berperasaan tersebut bisa dengan mudah dijinakkan oleh wanita iblis itu.
Wanita iblis yang bahkan tidak sebanding dengan kehebatan sang bos, meski hanya seujung kukunya saja.
Jika Vreyan mengemudi dengan hati dongkol dan penuh amarah. Lain halnya dengan Emily, melihat Crystal tertidur nyenyak, wanita itu akhirnya bisa bernafas dengan lega dan berusaha untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sejak tadi tegang.