
Keesokan harinya mereka semua berkumpul di ruang tamu, karena kediaman Artadinata sedang kedatangan tamu.
Hanya Dena yang belum berkumpul disana, karena Dena masih mengurusi Rafael sebelum ia ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Sabar ya kak, ini semua sudah takdir. Kalau om Rio tidak tertolong kan ada ayah aku yang bisa jaga kakak." Ucap seorang gadis kepada Mei.
"Ayah pasti sembuh dek, begitupun dengan bunda." Balas Mei.
"Tapi keadaan om Rio saat ini seperti tidak ada harapan." Ujar nya, membuat Dena yang baru menuruni anak tangga berjalan cepat mendekati gadis itu.
"Kamu bilang apa?" Tanya Dena sinis.
"Aku? Aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kalau om Rio dan Tante Sisil sudah tidak memiliki harapan untuk bertahan bukan." Ujar nya, membuat emosi Dena meningkat.
Plaaakkk!!! Dena menamp*r wanita itu, membuat semua orang yang berada di ruang tamu terkejut.
"Jaga ucapan kamu, ayah dah bunda ku akan sembuh." Teriak Dena.
"Cih, bahkan kamu bisa melihat jika mereka bertahan hanya karena alat medis." Ujarnya, Dena mendekati orang itu membuat para kakak dan keluarga nya mencoba melerai.
"Dek." Panggil Dea, mata Dea sudah berkaca-kaca.
"Jangan ada yang mendekat, jangan ada yang berani memisahkan aku dan gadis ibl*s ini." Teriak Dena, membuat Karen dan Niken terkejut.
"Maksud kamu apa hah?" Tanya nya, mendorong tubuh Dena.
"Kenapa kamu tidak terima?" Kesal Dena, kini Dena mencengkram leher gadis itu membuat para keluarga khawatir.
"Ak_akh, lep_as." Ujar nya dengan suara terputus.
"Kau fikir aku tidak tahu, kau fikir aku bo*oh. Jika kau fikir bisa bersikap lugu di depan mereka tapi tidak di hadapan ku." Bisik Dena, membuat gadis itu menelan Saliva nya dengan sulit.
"Lepas dasar g*la." Teriak nya.
"Aku g*la karena kamu merenggut nyawa kedua opa ku." Teriak Dena menghempaskan tubuh gadis itu ke lantai, Karen yang melihat Dena kalut pun mendekati Dena dan memeluk Dena dari belakang.
"De jangan de, kamu bisa memb*nuh dia." Ucap Karen, Dea ikut memegang tangan Dena.
"Lepas." Teriak Dena.
Dena menghempaskan tubuh Karen dengan keras hingga membuat Karen tersungkur, Niken yang merasa khawatir mendekati Karen keduanya berharap Keanu, Kai dan Nathan akan tiba tepat waktu begitupun dengan Dio, Justin dan Julian yang sedang pergi.
"Kamu wanita jah*t." Teriak Dena mengunci tubuh gadis itu, dengan menduduki nya.
"Kak Mei hiks... tolong dia g*la." Teriak nya.
"Aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan kepada orang tuaku." Teriak Dena mencek*k leher gadis itu.
"Dena stop, plis stop Dena." Teriak Dea, namun Dena tidak menggubris nya. Bahkan Mei bingung harus apa.
"Kak kita tidak bisa membiarkan Dena melakukan ini, sementara para laki-laki masih menyelidiki kasus ini." Ucap Niken.
"Tenang Niken, aku tidak ingin Dena terluka." Ucap Karen, Dea dan yang lain melihat Karen mendekati Dena.
Karen memeluk dan menyeret Dena dari belakang, di bantu Dea, Niken dan Mae. Namun tangan Dena yang cekatan menarik rambut wanita itu dengan kencang hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"Aaaaaaaaww, sakit kakak hiks mami sakit." Teriak nya.
"Aku tidak akan melepaskan nya sebelum dia menyusul opa ku." Balas Dena, membuat yang lain bergidik.
Niken membantu melepaskan tangan Dena hingga cengkraman tangan Dena terlepas, Dena menatap gadis yang menangis di pelukan Mei dengan penuh kebencian.
"Kau puas? Apa kau puas?" Teriak Mei, karena selama ini hanya gadis itu yang dekat dengan nya.
"Kau dengar aku belum puas, dan aku akan membuat dia merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Dena menunjuk Mei, istri Keanu itu terlihat bukan seperti dirinya.
Dena lebih seperti orang yang keset*nan, Keanu berjalan cepat kedalam rumah ia melihat istrinya yang di peluk oleh Karen, Dea, Niken dan Mae.
"Sayang." Panggil Keanu, membuat Dena mendongak. Ah bersyukur suaminya itu baru kembali jika tidak mungkin Kean akan melihat jiwa bar-bar nya.
"Loh, dia kenapa?" Tanya Nathan, melihat seorang wanita menangis di pelukan Mei dan kanita yang mencoba menenangkan.
Sebenarnya kanita ingin memeluk Dena, namun apalah daya ia tidak ingin menjadi Mei merasa sendiri.
"Akan ku bun*h kau." Teriak gadis yang berada di pelukan Mei.
"Cih, sebelum kau melakukan itu aku akan lebih dulu melakukan nya kepadamu." Teriak Dena, membuat hati Mei sakit mendengar ucapan adik ipar nya.
Keanu mengerti sekarang kenapa Dena seperti ini, ternyata istrinya itu lebih cerdik dari apa yang ia kira. Kean baru tahu jika Dena ikut mencari informasi tentang kasus ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Dena aku padamu uwooowww 😂
A: Seneng amat Lo Marni 😌
N: Jiwa bar-bar nya keluar coy 🤣
A: Jangan ngada-ngada Lo 😒
N: 🤣🤣🤣*