Love Destiny

Love Destiny
ARTAL RAFELIO LINCOLN



Arnold berada didepan ruang operasi dengan wajah tegang sambil berjalan mondar – mandir menunggu pintu ruangan  tersebut terbuka.


Selvi yang baru saja datang bersama sang suami langsung terduduk lemas melihat ruang operasi tersebut masih dalal kondisi tertutup.


“ Banyak berdoa ma…”, ucap Abraham membesarkan hati sang istri.


Selvi sangat takut terjadi hal yang buruk mengingat sejak awal kehamilan putrinya tersebut sudah berlangganan masuk rumah sakit.


“ Pa…mama takut Crystal kenapa – kenapa…”, ucap Selvi berderai air mata.


Hati Abrahampun sakit melihat istrinya menangis seperti itu. Apalagi jika memikirkan kondisi sang putri, Abraham yang mempunyai penyakit jantung segera meminum obat yang dibawanya agar dirinya kuat menghadapi semua hal selama menunggu proses persalinan sang putri.


Oek…oek….


Tangisan dari mulut kecil bayi laki – laki langsung memenuhi ruangan begitu seorang perawat membawanya keluar dari ruang operasi.


Semua orang langsung menyambut bayi laki – laki tersebut dengan air mata penuh haru. Namun tidak dengan Arnold yang masih memasang wajah tegang.


“ Bagaimana kondisi istri saya dok ?...”, tanya Arnold panik.


“ Instri anda mengalami pendarahan hebat pada saat operasi sedang berlangsung dan saat ini kondisinya kritis…”, ucap perawat tersebut dengan wajah sedih.


Bagai petir dimalam hari, Selvi yang mendengar kondisi putrinya kritis langsung pingsan hingga terpaksa harus dilarikan ke ruang unit gawat darurat agar mendapatkan pertolongan.


Arnoldpun langsung terduduk lemas di kursi waktu mendengar sang istri dalam kondisi kritis setelah melahirkan sang buah hati.


Jika dia tahu akhirnya akan begini, mungkin sejak awal dia akan memaksa Crystal untuk segera melakukan operasi secar sewaktu kondisinya masih fit.


Namun apa dikata, nasi sudah jadi bubur. Saat ini Arnold merasakan penyesalan yang teramat sangat. Dengan perasaan kalut dia memukul tembok yang ada disampingnya dengan sangat keras sebelum pergi meninggalkan ruang operasi dengan penuh amarah.


Emily dan bodyguard yang ikut dengan Arnold kerumah sakit hanya bisa mengawasi majikannya itu dari kejauhan begitu Arnold memberikan tanda jika dirinya ingin sendiri saat ini.


“ Kalian awasi dari jauh. Jika ada apa – apa cepat hubungi aku !!!...”, perintah Emily tegas.


Setelah kedua bodyguard yang disuruh untuk mengawasi Arnold dari kejauhan telah pergi, Emily bersama tiga orang bodyguard yang lainnya menunggu dirumah sakit untuk memastikan perkembangan kondisi nyonya muda mereka dan kedua orang tuanya yang saat ini masih terlihat syok setelah mendengar kabar buruk tersebut.


Cukup lama Arnold berputar – putar dijalan raya untuk melampiaskan kesedihannya hingga sekelebat bayangan makhluk munggil melintas dikepalanya.


“ Anakku…Crystal mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya…”, ucap Arnold tersadar dari kebodohannya.


Diapun segera memutar balik mobilnya dan bergegas menuju kerumah sakit kembali untuk melihat kondisi sang buah hati yang baru saja dilahirkan.


Sesampainya dirumah sakit Arnold segera berlari ke tempat dimana bayi ditempatkan setelah dilahirkan oleh ibu mereka.


Buukk…Buukk…


Elisabeth yang baru datang langsung memukul tubuh cucunya dengan tongkat yang dibawanya begitu Arnold tiba di tempat anaknya berada.


“ Darimana saja kamu ? !!!...bagaimana kamu bisa pergi begitu saja tanpa melihat kondisi anakmu yang baru saja dilahirkan sedangkan  istrimu terbaring dalam kondisi kritis…”, Elisabeth terus saja mengomeli Arnold dengan penuh amarah.


Dia sama sekali tak bisa menebak jalur pikiran sang cucu yang langsung kabur begitu mendengar istrinya dalam keadaan kritis tanpa memperdulikan anaknya yang baru saja dilahirkan.


Sudah seharusnya dia berusaha mencari jalan keluar bagi kondisi sang istri saat ini. Dia juga berkewajiban untuk menguatkan hati kedua mertuanya yang masih syok mendengar kondisi buruk sang putri.


Setelah menemui kedua orang mertuanya dan berbincang dengan mereka, Arnold kembali keruang bayi untuk melihat putra kecilnya.


Bayi itu sekarang sedang minum susu dari botol sambil di pangku oleh Elisabeth. Jujur, Arnold sebenarnya ingin mengendong sang putra, namun dirinya masih takut mengingat bayi tersebut masih sangat rapuh.


“ Apa kamu sudah memberinya nama ?...”, tanya Elisabeth dengan senyum mengembang melihat cicitnya menghisap susu dalam botol dengan rakusnya.


Mendengar ucapan sanga nenek, Arnold sedikit terkejut. Betapa bodohnya dia sampai melupakan hal sepenting itu, yaitu memberi nama pada putra tersayangnya.


“ Artal Rafelio Lincoln… ”, ucap Arnold tegas.


Sejak kandungan Crystal sudah menginjak bulan ketujuh, keduanya sudah mulai membuat nama buat anak mereka, hingga nama Artal Rafelio Lincoln menjadi pilihan mereka.


“ Nama yang bagus…”, ucap Elisabeth tersenyum bahagia.


Setelah kenyang, Elisabethpun segera memberikan sang cicit kepada perawat untuk di tidurkan di ranjang bayi yang sudah disediakan.


“ Kamu harus benar – benar menjaga anakmu dengan baik. Dia akan menjadi pewaris Lincoln yang kuat…”, ucap Elisabeth sambil menatap bayi munggil tersebut pulas di atas ranjangnya.


Arnold membenarkan ucapan sang nenek, dia harus menjaga buah hatinya itu dengan sebaik mungkin. Untuk itu dia memberikan putranya penjagaan yang cukup ketat mengingat musuhnya ada dimana – mana.


Selanjutnya Arnold bergegas menuju ruang ICU tempat dimana istrinya dirawat. Dia hanya bisa melihat wanita yang sangat dicintainya itu terbaring lemas tak berdaya dari balik kaca.


Banyaknya selang yang terpasang di tubuh Crystal membuat Arnold merasa tak tega. Sekali lagi, jika bisa, dia akan menggantikan posisi sang istri dengan dirinya.


Dokter Robert yang baru saja datang setelah mendapat kabar dari Elisabeth hanya bisa menepuk bahu Arnold pelan untuk menguatkannya.


“ Dokter Arum adalah dokter hebat. Aku yakin istrimu akan segera sadar setelah masa kritisnya berlalu…”, dokter Robert kembali berucap untuk membesarkan hati Arnold.


Selanjutnya dokter Robertpun mulai memberitahukan kepada Arnold agar lebih memperketat penjagaan terhadap istri dan anaknya karena dirinya sempat melihat seseorang yang cukup mencurigakan saat hendak keruang bayi dan ke ruang ICU tadi.


“ Apa anda tahu siapa mereka?...”, tanya Arnold penuh selidik.


“ Aku sudah berusaha untuk mengejarnya, namun gerakannya cukup gesit. Sebaiknya perketat penjagaanmu…”, ucap dokter Robert menyarankan.


Arnoldpun segera mengistruksikan kepada Emily dan anak buahnya untuk lebih waspada lagi. Dia tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk dan membahayakan nyawa keluarga kecilnya.


“ Tampaknya firasat nenek benar…tapi, siapa mereka ?..”, batin Arnold bertanya – tanya.


Sementara itu, Enrico yang masih terus mengikuti perkembangan Crystal di tanah air terlihat sangat marah waktu mendengar kondisi sang pujaan hati terbaring tak berdaya dalam kondisi kritis setelah melahirkan.


Diapun mulai  menghubungi dokter kenalannya agar kondisi Crystal bisa terselamatkan. Selanjutnya Enrico pun mulai menyusun rencana untuk mengambil gadis impiannya dari tangan Arnold.


“ Ini mungkin kesempatan yang bagus bagiku….”, batin Enrico tersenyum licik.


Dengan senyum devilnya, Enrico segera menghubungi anak buahnya untuk menjalankan semua rencana yang telah dia susun. Dia sangat berharap rencananya kali ini bisa sukses dan tidak ada kegagalan didalamnya.