
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, akhirnya mobil Alphard hitam tersebut sampai juga dikediaman utama keluarga Lincoln.
Sebelum mobil berhenti, Crystal segera turun dari pangkuan Arnold dan mulai meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku akibat terdiam dalam posisi yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ketika dirinya keluar dari dalam mobil, tanpa sengaja bola matanya berpapasan dengan bola mata Vreyan yang dingin dan dipenuhi niat untuk membunuh.
Dulu, ketika Vreyan menatap dingin dirinya seperti itu, Crystal selalu merasa dagingnya seolah – olah diiris – iris dengan tajam oleh sebilah pisau.
Bukan hanya menatapnya dengan tajam, Vreyan bahkan tidak pernah absen untuk memberinya peringatan setiap tiga hari sekali, seolah – oalah dirinya adalah terdakwa yang menunggu hukuman mati sambil menghitung hari.
“ Karena aku sudah hidup kembali dan sudah memprovokasinya, apa salahnya jika aku benar – benar bertindak seperti iblis saat ini…hanya untuk Vreyan…”, batin Crystal tersenyum licik.
Saat mereka baru saja melangkah masuk, tiba – tiba Elisabeth datang menghampiri keduanya dengan wajah gembira.
“ Akhirnya, kamu kembali juga…”, sambut Elisabeth bahagia.
“ Hmmm…”, Arnold hanya berdehem menanggapi sambutan neneknya.
Mengabaikan cucu kesayangannya yang sangat dingin, Elisabeth segera menyambut Crystal dengan hangat.
“ Crystal !!!...Kemarilah sayang !!!...biarkan nenek melihatmu !!!...”, ucap Elisabeth sambil menarik tangan Crystal agar mendekat kearahnya.
“ Nenek…”, panggil Crystal dengan manis.
Tidak mengherankan jika wanita tua ini sangat menyukai Crystal. Selain cantik, gadis ini juga memiliki tata krama dan sangat ramah.
Penampilannya yang baik dan sopan serta temperamennya yang sangat menyenangkan membuat Elisabeth sangat menyukai cucu menantunya itu.
Saat ini, penampilan Crystal terlihat sangat lembut, patuh, sederhana, dan polos. Membuat siapa saja yang melihatnya secara naluriah akan menyayanginya dan menjaganya tanpa diminta.
“ Crystal…kamu benar – benar terlalu kurus hingga tubuhmu bisa terbang jika tertiup angin, karena terlalu ringan. Meski pipimu terlihat lebih berisi, namun secara keseluruhan, kamu masih terlalu kurus sayang. Kamu harus menaikkan berat badanmu lagi agar terlihat lebih segar…”, ucap Elisabeth sambil memutar – mutar badan Crystal dan mengamatinya dari atas sampai bawah.
“ Baiklah nenek…aku akan makan lebih banyak lagi…”, ucap Crystal sambil tersenyum lebar.
“ Gadis baik…oya, nenek hampir lupa. Crystal, ayo…nenek ingin kamu bertemu dengan seseorang…”, ucap Elisabeth sambil membawa Crystal menuju ruang tamu rumah tengah dengan senyum lebar diwajahnya.
Crystal menatap Elisabeth dengan pandangan curiga, siapa sebenarnya yang ingin diperkenalkan oleh wanita tua ini kepadanya.
Jika wanita tua itu membawanya ke rumah tengah, tentunya orang tersebut bukanlah orang biasa bagi keluarga Lincoln.
Karena siapapun paham jika ada tamu yang notabene orang luar lebih biasanya akan dijamu di luar, atau paling mentok di ruang tamu rumah pertama, bukan masuk ke rumah kedua ataupun rumah utama.
Setelah mereka berjalan melewati beberapa lorong, akhirnya tiba dihalaman depan rumah tengah. Sesampainya diruang tamu rumah tengah, tiba – tiba muncul sosok yang cukup dikenalnya dikehidupan sebelumnnya hadir didepan matanya tanpa peringatan.
Gadis cantik itu memiliki rambut berwarna coklat muda kekuningan sebahu. Dia mengenakan dress kasual perpaduan antara jeans dan motif berbahan kulit hewan membuatnya terlihat menakjubkan, elegan, dan anggun.
Setiap gerakannya mengungkapkan kemegahan dan keluwesan yang hanya bisa dilakukan oleh orang berdarah biru.
“ Crystal…ini adalah cucuku, Casandra. Dia adalah teman baik Arnold sejak kecil…”, Elisabeth memperkenalkannya dengan rasa bangga.
Pupil mata Crystal menyempit dan instingnya meningkatkan kewaspadaan yang tinggi, seolah dia melihat musuh bebuyutannya.
Otak Crystal berhasil menjadi panas karena ingatan dimasa lalu yang tak terhitung jumlahnya datang secara bersamaan dalam kepalanya.
Casandra bukanlah teman masa kecil Arnold seperti yang digambarkan oleh Elisabeth kepadanya.
Dia adalah tangan kanan Arnold yang sebenarnya, seseorang yang tak tergantikan disisi Arnold karena memiliki insting yang sangat tajam dan kekejaman yang tak kalah bengisnya dengan Arnold dan Vreyan.
Untuk memanipulasi semua orang, Arnold menggunakan Emily sebagai tangan kanannya dan menyembunyikan Casandra, agar musuh tidak waspada terhadapnya.
Baik diperusahaan, didalam keluarga, dan di organisasi rahasianya, Casandra sangat dihormati karena wanita itu digadang – gadang sebagai pendamping bos mereka, Arnold.
Dilihat dari sifatnya, Casandra tidak akan menyakitinya secara langsung karena metode rendahan ini hanya akan membuat Arnold marah.
Dia hanya perlu berbicara beberapa kata, akan ada banyak orang yang rela tangannya kotor untuknya, dan Vreyan adalah salah satunya.
Bagi Crystal, penyiksaan fisik tidak terlalu menyakitkan jika dibandingkan dengan penyiksaan psikologis, dan cara terakhir itulah yang biasanya digunakan oleh Casandra untuk menyiksa musuh dan setiap orang yang menyinggungnya.
Jika Arnold mengambil kebebasan musuhnya, wanita inilah yang menghancurkan kepribadian dan perasaan musuh – musuhnya hingga berada pada titik terbawah.
“ Senang bertemu dengan anda nona Casandra…”, ucap Crystal ramah.
Crystal dengan cepat menekan arus gejolak yang ada dalam tubuhnya dan berusaha untuk setenang mungkin meski banyak kenangan menyakitkan bersama wanita itu dalam ingatan kehidupan sebelumnya.
“ Jadi kamu adalah Crystal yang sering nenek bicarakan !!!...Kau sangat cantik dan mempesona, seperti yang nenek gambarkan. Arnold benar – benar beruntung mendapatkanmu….”, Casandra memuji Crystal setulus hati.
“ Oya, karena ini pertama kalinya kita bertemu jadi aku membawa hadiah kecil untukmu…semoga kamu suka…”, ucap Casandra ramah.
Wanita itu segera mengambil sebuah kotak kecil yang ada ditangan pelayan yang berdiri disampingnya. Itu adalah sebuah gelang emas dengan taburan berlian disekelilingnya. Berlian yang cantik dan berkilau.
Digelang tersebut terlihat berlian merah yang sangat langkah terlihat cukup besar berada ditengah – tengah berlian yang lain dengan ukuran yang sedikit lebih besar.
Casandra tampaknya cukup tahu jika Crystal adalah seseorang yang sangat special bagi Arnold karena telah membawanya ke kediaman utama keluarga Lincoln untuk bertemu dengan nenek, meski wanita itu tidak mengakuinya.
Meski tidak mengakui fakta tersebut, namun sikap Casandra yang sama sekali tidak menunjukkan rasa cemburu dalam hatinya membuat wanita itu semakin dikagumi oleh Vreyan.
“ Terimakasih Casandra…gelang ini sangat cantik…”, ucap Crystal sopan sambil mengamati sekilas gelang yang ditafsir bernilai dua ratus jutaan itu.
Crystal segera menutup kotak tersebut tanpa berniat untuk menyentuh gelang itu, seolah – olah dia tidak mengerti nilainya.
“ Aku senang kamu menyukainya…”, ucap Casandra tersenyum lebar.