
Sejak pagi Adisty berkeliling untuk mencari keberdaan Crystal, namun sosok sahabatnya itu tidak kunjung juga nampak. Hanya mobilnya saja yang dia lihat terparkir rapi diarea perpustakaan.
Cukup lelah berkeliling membuat Adisty memutuskan untuk duduk ditaman yang ada disamping perpustakaan kampus, sambil menunggu Crystal lewat disana.
" Mobilnya parkir disini... pasti Crystal akan lewat area ini jika hendak pulang....", batin Adisty bermonolog sambil menghempaskan pantatnya dikursi kayu yang ada ditaman.
Begitu melihat sosok sahabatnya masuk kedalam perpustakaan, Adistypun bangkit dari duduknya dan mulai mengikutinya.
Mata Adisty terus awas mengawasi gerak - gerik sahabatnya itu hingga Crystal duduk di tengah ruangan. Dengan perlahan Adisty berjalan dibelakang punggung Crystal dan mengamati apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu.
Saat melihat ada secarik surat berwarna pink yang keluar dari dalam buku yang dibawa Crystal, diam - diam Adisty mengeluarkan ponselnya.
Dengan sigap Adisty langsung mengambil foto selembar surat yang muncul dibalik buku yang terbuka yang ada disamping siku Crystal dan meninggalkan tempat Crystal berada tanpa suara.
“ Kupikir dia berubah…ternyata masih sama…bodoh…”, batin Adisty menyeringai.
Adistypun segera mencari tempat yang sepi untuk duduk. Saat mengedarkan pandangannya dia memutuskan untuk duduk di sudut perpustakaan yang sedikit jauh dari lalu - lalang mahasiswa yang sedang mencari buku.
Ditempat duduknya, Adisti membuka sebuah buku, seolah - olah dia sedang membaca, namun nyatanya dia sibuk ponselnya dan segera mengirim pesan kepada Arnold.
“ Jika Arnold melihat ini…apa kamu masih bisa tersenyum lebar seperti sekarang…”, batin Adisty mengejek.
Dia merasa sangat beruntung hari ini mengikuti Crystal kedalam perpustakaan yang akhirnya menuntun dia kedalam keberuntungan yang luar biasa seperti ini.
Kemampuan Adisty untuk mengambil hati seseorang cukup bagus, bukan hanya diijinkan untuk masuk kedalam kediaman Arnold kapanpun dia mau, gadis itu juga memiliki nomor pribadi Arnold, sebagai jembatan penghubungnya untuk semakin dekat dengan pewaris kerajaan Lincoln tersebut.
Adisty terlihat tersenyum bahagia saat membayangkan dirinya menjadi nyonya Arnold Lincoln dan semua orang tentunya akan tunduk kepadanya, mengingat siapa suaminya.
“ Ya…aku harus segera mendapatkan Arnold. Dia adalah tangkapan yang bagus jika dibandingkan Gerald…”, gumannya tersenyum licik.
Masih dalam fantasinya sebagai nyonya Arnold. Setelah menikah dan menjadi nyonya besar tentunya dia akan selalu dicinta dan dimanja oleh sang suami.
Keuangan bukan lagi masalah besar baginya. Apapun keinginannya pasti akan terpenuhi. Dia juga akan bebas berbelanja dengan kartu hitam yang diberikan sang suami tanpa memikirkan apapun.
Bahkan banyaknya belanjaan yang dibelinyapun akan segera dibawah oleh para pengawal yang mengikutinya dari belakang.
Berbagai pesta kalangan atas akan sering dia hadiri bersama sang suami. Dan hal tersebut secara otomatis akan menaikkan derajat keluarganya dan menjadikan dia satu – satunya anak yang paling disayang dalam keluarga besarnya, jika semua itu bisa menjadi kenyataan
“ Oh…betapa indahnya hidup....jika semua hal itu terjadi…”, gumannya bahagia.
Diapun segera memeriksa kembali pesan yang akan dikirimkan kepada Arnold, tunangan sahabatnya itu beberapakali, untuk memastikan tidak ada salah ketik.
“ Kuharap anda tidak menyalahkan Crystal dalam hal ini…masalah hati, kita juga tidak bisa menyelaminya sendiri. Sebaiknya anda tahu lebih awal daripada semakin sakit hati…”, tulis Adisty.
Tak lupa dia juga melampirkan foto surat cinta yang diambilnya secara diam – diam tadi. Berharap dengan pesan ini, pertengkaran antara Crytal dan Arnold kembali tercipta.
Mulai sekarang Adisty akan terus menciptakan api dalam hubungan asmara sahabatnya itu. Dan pada saat api sudah muncul, dia akan kembali merayu Mike agar mengipasi api tersebut supaya bertambah besar.
Adisty akan terus berusaha menciptakan sesuatu yang bisa membuat Arnold membenci Crystal hingga akhirnya memutuskan pertunangan mereka.
Sementara itu, diatas meja yang sudah berserakan banyak buku, entah kenapa hati Crystal merasa tak enak sejak tadi. Seperti firasat bahwa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
Crystal terus saja gelisah, seperti ada sesuatu yang menganjal, namun Crystal tidak tahu apa itu. Saat sibuk dengan pemikirannya tanpa sadar sudut matanya melihat buku yang terbuka diatas buku bacaan yang tadi dibacanya.
Dan dia melihat ada sebuah kertas surat berwarna pink, seketika bola matanya melebar, Crystal mulai mengingat kehidupan sebelumnya bahwa surat cinta tersebut juga merupakan salah satu sumber petaka yang membuat dirinya kembali disiksa oleh Arnold.
“ Tidak...ini tidak boleh terjadi. Baru sehari aku mendapatkan kebebasanku…”, ucap Crystal sambil menggeleng – gelengkan kepala.
Crystal ingat jika dulu dia menulis surat cinta tersebut untuk Gerald, namun belum sempat terkirim. Dan surat tersebut juga belum selesai dibuatnya.
Dengan gerakan cepat, penanya mulai menari – nari diatas surat cinta berwarna pink tersebut dan Crystal sematkan nama Arnold dibawah surat “ for my soulmate, Arnold…” dengan hiasan bentuk hati disamping kanan dan kirinya.
Setelah pesan tersebut terkirim, Crystalpun menyimpan surat tersebut dalam tas ranselnya dan kembali membuka buku untuk belajar.
Saat ini dikediaman Arnold sudah seperti neraka, rumah menjadi kacau balau, dan semua barang tampak hancur berantakan.
Diruang tamu tampak sang majikan terlihat sedang menghancurkan semua barang yang ada didekatnya, pupil matanya menggelap dan dingin seperti es.
Jari – jarinya meneteskan darah akibat terkena serpihan kaca meja ruang tamu yang baru saja dilemparkannya. Namun hal tersebut dia acuhkan.
Aura digin dan membunuh terasa menyebar diluruh ruangan, tidak ada yang berani mendekat ataupun bersuara melihat kemarahan yang dikeluarkan oleh sang majikan.
Semua pelayan yang ada didalam rumah gemetar ketakutan dan bersembunyi di pojok dapur, tak satupun dari mereka yang berani bergerak, bahkan untuk bernafas saja mereka mengalami kesulitan.
Punggung Emily tampak bergetar dan basah oleh keringat, namun berusaha untuk tetap mendampingi sang bos sambil melihat ponsel yang tergeletak dilantai dengan layar yang retak dengan wajah penuh keputus asaan.
“ Sial…”
“ aku tahu ini akan terjadi….”
“ dia masih saja mencintai kekasih yang sudah menghianatinya…”
“ Berubah demi aku….”
“ Kurasa aku terlalu berharap besar padanya…”
“ Dia sama sekali tidak berubah…”
“ Bahkan dia semakin licik….”, batin Arnold penuh amarah.
Darah yang mengucur deras dari tangannya tidak dihiraukan oleh Arnold. Karena hatinya lebih sakit daripada luka yang dideritanya saat ini.
“ Crystal….”
“ Ini adalah kesempatan terakhirmu…”
“ Dan kamu mensia – siakannya….”, batin Arnold geram.
Raut wajah Arnold semakin gelap saat kembali mengingat barisan kata menjijikkan yang baru saja dibacanya. Kata - kata yang ditulis tunangannya untuk Gerald, mantan kekasinya.
“ Seret dia kembali sekarang juga…”, teriak Arnold keras hingga suaranya mengema keseluruh ruangan.
“ ya…saya akan mengirim orang untuk menjemput nona Crystal sekarang juga…”, ucap Emily ketakutan.
Dalam sekejam tiga mobil hitam sudah meninggalkan kediaman rumah Arnold menuju kampus bintang untuk menjemput sang nona pulang.
Susana kembali sunyi, bahkan lalatpun tidak berani bersuara. Saat ini saat suasana mencekam sangat kental terasa. Membuat siapapun merinding ketakutan dibuatnya.
Emily melihat ke luar jendela dengan muram, melihat langit yang sebentar lagi akan beranjak gelap, seperti kegelapan yang menyelimuti suasana hati majikannya saat ini.
Drettt … drettt….
“ apalagi kali ini…”, batin Emily was – was saat melihat ponsel Arnold yang tergeletak dilantai bergetar, tanda ada pesan masuk.
Dengan ujung matanya dia melihat satu pesan yang masuk kedalam ponsel sang bos. Meski ponsel tersebut retak dibagian layarnya, karena kualitasnya sangat bagus maka ponsel tersebut tidak sampai rusak meski dibanting dengan keras.
Emily terlihat mengerutkan dahinya binggung, tapi sedetik kemudian dia sedikit terperanggah saat melihat siapa pengirim pesan tersebut
.
“ Itu bukan Adisty, tapi dari nona Crystal…apa ini artinya surat tersebut ditulis oleh nona bukan untuk tuan Gerald tapi melainkan untuk tuan Arnold…”, batin Emily terkejut dengan pemikirannya.