Love Destiny

Love Destiny
TERABAIKAN



Kondisi  Casandar yang masih belum membaik membuat Arnold berkerja lebih keras jika dibandingkan sebelumnya karena semua hal yang biasanya dikerjakan oleh sahabat masa kecilnya itu sekarang menjadi tanggung jawabnya.


Menjadikan beban dan tanggung jawab Arnold dua kali lipat lebih banyak daripada biasanya. Meski sebagian tugas tersebut sudah dihandle Emily dan Vreyan, namun ada beberapa hal yang masih harus membuatnya turun tangan sendiri.


“ Hufft…akhirnya selesai juga…”, guman Arnold sambil meregangkan kedua tangannya keatas, mencoba melenturkan tubuhnya yang sedikit kaku.


Baru saja Arnold membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang, tiba – tiba saja ponselnya berdering dengan nyaring, membuatnya menghentikan aktivitasnya.


“ Rumah sakit ?...”, batin Arnold cemas.


Diapun bergegas mengambil jasnya dan pergi menuju rumah sakit, tempat Casandra dirawat bersama Vreyan dan Emily yang menemaninya.


Sesampainya di rumah sakit, kedua orang tua Casandra yang baru saja datang berbarengan dengan Arnold langsung menuju tempat putrinya dirawat.


Casandra memang sedang berada dirumah sakit untuk menjalankan tes kesehatan yang mengharuskannya untuk tinggal disana selama dua hari, karena pemeriksaan menyeluruh yang harus dilakukannya.


Dari dalam ruang rawat Casandra, keluar seorang dokter sambil membawa sebuah berkas ditangannya dan menyuruh semua orang untuk berjalan mengikutinya masuk kedalam ruang kerjanya.


Didalam ruang kerjanya, dokter tersebut menjelaskan jika pemeriksaan menyeluruh yang dilakukannya, ditemukan kangker dalam tubuh gadis itu.


Dokter tersebut mengatakan jika Casandra menderita kangker hati stadium empat dan diperkirakan masa hidupnya tinggal satu tahun lagi.


Tentu saja kabar tersebut membuat  semua orang terlihat sangat sangat syok dan tak siap mengetahui fakta yang sangat mengejutkan bagi semua pihak.


“ Tampaknya, pasien sudah mengetahui tentang penyakitnya ini. Hanya saja, saya tidak mengetahui alasan apa yang membuat pasien tidak pernah menjalankan pengobatan secara rutin. Jika sejak dini melakukan perawatan, mungkin kita bisa mencari donor hati agar nyawa pasien bisa tertolong… ”, ucap Dokter yang merawat Casandra menjelaskan.


Kedua orang tua Casandra seakan disambar petir dimalam hari. Keduanya langsung lemas tak bertenaga hingga terjatuh kelantai dengan wajah linglung.


Mereka  sama sekali tak mengetahui jika putri mereka menderita penyakit yang mematikan tersebut. Penyakit yang selama ini Casandra tutupi dari semua orang hingga terbongkar pada waktu Arnold meminta dokter untuk memeriksa tubuh gadis itu secara menyeluruh.


Arnold melakukan itu karena curiga ada sesuatu yang salah pada diri Casandra yang akhir – akhir ini kondisinya sangat lemah, tidak seperti biasanya.


“ Nyonya yang sabar ya…nona Casandra pasti baik – baik saja…”, ucap Vreyan  membesarkan hati mama Casandra sambil membantunya untuk berdiri.


“ Tidak !!!...dokter  pasti salah !!!...katakan dok !!!…ini salah kan !!!...”, teriak mama Casandra histeris.


Semua orang terlihat berusaha untuk menenangkan mama Casandra yang terus saja berteriak histeris, tidak bisa menerima fakta jika putrinya hanya bisa hidup satu tahun lagi.


“ Bagaimana jika kita menemukan donor hati ?...apakah nyawanya bisa tertolong ?...”, tanya papa Casandra antusias.


“ Tampaknya hal itu juga tidak bisa dilakukan, mengigat kondisinya sudah kronis. Kami hanya bisa membantu untuk memperingan rasa sakit yang ada…”, ucap dokter tersebut dengan wajah sedih.


Mama Casandra langsung pingsan mendengar penjelasan dokter tersebut, membuat semua orang panik dibuatnya. Begitu juga dengan papa Casandra yang langsung lemas tak bertenaga.


Membuat keduanya terpaksa harus dirawat karena kondisi tubuhnya yang langsung menurun secara drastis. Arnold yang tidak bisa meninggalkan rumah sakit segera menghubungi Crystal agar istrinya itu tidak cemas, menunggu kepulangannya.


Sementara itu, Crystal yang sedang asyik ngobrol dengan Elisabeth sedikit terkejut dengan kabar berita yang baru saja diterimanya.


Elisabeth yang mendengar pembicaraan Crystal dan Arnold tentang kondisi Casandra terlihat sangat panik bergegas menuju rumah sakit tempat gadis itu dirawat.


Begitu tiba di rumah sakit, Elisabeth segera berjalan cepat menuju ruang perawatan Casandra dengan raut wajah sedih.


“ Bagaimana kondisinya ?...”, tanya Elisabeth dengan wajah panik.


“ Dokter memperkirakan, usianya hanya tinggal satu tahun lagi…”, ucap Arnold sedih.


Mendengar hal itu, Elisabeth langsung lemas. Untung ada Crystal berada disampingnya hingga bisa menopang tubuh wanita tua itu agar tidak terjatuh.


Dapat Crystal lihat raut wajah cemas menyelimuti semua orang yang berada disana, terutama suaminya. Arnold yang selama ini selalu menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi kini tidak bisa lagi memakai topeng itu.


Raut kecemasan dan kekhawatiran yang sangat tinggi tercetak jelas diwajahnya, membuat api cemburu dalam diri Crystal mulai berkobar.


“ Apa dia sepenting itu bagimu ?...”, batin Crystal sedih.


Tidak ingin bersikap egois, Crystalpun mengijinkan Arnold untuk tinggal dirumah sakit menemani Casandra bersama Vreyan.


Selain menjaga sahabatnya itu, Arnold dan Vreyan juga harus menjaga kedua orang tua Casandra yang juga dirawat disana karena kondisinya masih belum pulih setelah mendengar penyakit putrinya.


Meski merasa tersisih, namun lagi – lagi Crystal berusaha untuk berbesar hati menerima semuanya. Dan dalam kurun waktu tersebut, hubungan Crystal dan Enrico semakin lama semakin dekat karena proyek yang sedang mereka kerjakan menuntut keduanya untuk intens berkomunikasi antara yang satu dengan yang lainnya.


Malam ini, Elisabeth menyempatkan diri untuk berbicara dengan Crystal. Meski dirinya juga mengkhawatirkan kondisi Casandra, namun Elisabeth juga tak bisa menutup mata.


Karena Arnold sibuk menjaga Casandra, dia tanpa sadar mengabaikan gadis yang belum satu bulan dinikahinya, membuat hati Elisabeth ada kekhwatiran tentang rumah tangga keduanya.


“ Sibuk ?...”, tanya Elisabeth begitu sudah masuk kedalam kamar Crystal.


“ Engg…ohhh, nenek…”, ucap Crystal terkejut.


Diapun segera melepaskan headset dari telinganya dan fokus kepada sang nenek yang berdiri disampingnya.


“ Pantas saja nenek ketuk – ketuk pintunya nggak kedengaran…kamu pakai headset toh…”, ucap Elisabeth sambil menaruh secangkir coklat hangat untuk cucu menantunya itu.


“ Diminum dulu, biar badanmu hangat…”, ucap Elisabeth penuh perhatian.


“ Terimakasih nek….”, ucap Crystal sambil tersenyum.


Diapun segera mengambil coklat hangat yang ada dihadapannya dan meminumnya. Elisabeth melihat cucu menantunya itu meminum habis coklat hangat yang dibuatnya, tersenyum lebar.


“ Malam juga masih kerja...apa waktu kalian itu hanya untuk kerja…”, ucap Elisabeth protes.


“ hehehe…”, Crystal hanya bisa nyengir kuda mendengar aksi protes sang nenek.


Dia cukup sering mendapatkan ceramah dari Elisabeth karena terlalu memforsir diri dalam pekerjaan. Namun hanya inilah yang bisa Crystal lakukan agar dirinya tidak terlalu berpikiran negative tentang suaminya.


“ Apa kamu tidak apa – apa suamimu setiap hari menginap dirumah sakit ?...”, tanya Elisabeth penuh selidik.


“ Tidak apa – apa nek…nenek jangan berpikir terlalu banyak…”, ucap Crystal sambil bergelayut manja dilengan Elisabeth.


“ Jika begini terus, kapan kamu akan memberi cicit buat nenek ?...”, ucap Elisabeth dengan wajah ditekuk.


“ Jika sudah waktunya, cicit nenek pasti akan lahir…”, ucap Crystal tersenyum lebar.


“ Kapan ?...usia nenek tidak lama lagi…apa kalian tega melihat nenek meninggal tanpa bisa melihat cicit nenek lahir…”, ucap Elisabeth sedih.


“ Hush…nenek nggak boleh ngomong seperti itu…”, ucap Crystal sambil menaruh telunjuknya dibibir Elisabeth.


“ Sudah larut malam…nenek istirahat dulu. Jangan terlalu banyak berpikir…”, ucap Crystal sambil menuntun Elisabeth menuju kamarnya agar neneknya itu bisa beristirahat.


Sementara itu, di rumah sakit Arnold terlihat sangat marah waktu mendapatkan laporan jika sang istri selama dia berada dirumah sakit ternyata intens bertemu dengan Enrico, meski dalam setiap pertemuan yang terjadi mereka tidak sendirian.


Tapi, Arnold tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu yang mulai berkobar dalam hatinya. Casandra yang melihat perubahan ekspresi Arnold setelah membaca pesan di ponselnya terlihat cemas.


“ Apa ada masalah dengan Crystal ?...”, tanya Casandra penasaran.


“ Tidak.....hanya ada sedikit masalah kecil saja...", ucap Arnold berbohong.


Casandra cukup tahu jika sahabatnya itu sedang berbohong. Selama ini hanya Crystal lah yang bsia membuat Arnold memiliki  ekspresi seperti itu.


" Kamu cepat istirahat, sudah larut malam…”, ucap Arnold mengingatkan.


Casandra hanya tersenyum kecut mendengar perhatian kecil dari Arnold. Dengan berat hati diapun segera menutup mata agar tidak kembali dimarahi oleh Arnold.


“ Tolong jaga Casandra…aku ada urusan yang harus diselesaikan dulu…”, ucap Arnold begitu Vreyan masuk kedalam  ruang rawat.


“ Apa ada masalah serius ?...”, tanya Vreyan cemas melihat rahang Arnold yang terlihat mengeras.


“ Hanya sedikit masalah. Bisa aku atasi sendiri…”, ucap Arnold dan segera berlalu.


Malam ini Arnold berniat untuk pulang kerumah. Hatinya tidak tenang setelah mendengar laporan anak buah yang selama ini menjaga istrinya dari jauh.


Dia juga terngiang – ngiang ucapan sang nenek siang tadi yang menyuruhnya untuk lebih memperhatikan Crystal, mengingat usia pernikahan mereka yang masih seumur jagung.