
Crystal yang tidak bisa kabur dari acara HUT kampus bintang akhirnya berinisiatif untuk menghubungi Arnold, mengatakan agar menjemputnya sebelum acara berakhir.
“ Arnold…aku hari ini pulang agak larut sebab harus mengantikan Vely menjadi MC dalam ultah kampusku… ”, ucap Crystal mengabari.
“ Hmm…apa nanti kamu bisa menjemputku…setidaknya aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau aku sudah memiliki seorang tunangan yanga tampan….agar para lelaki berhenti mengejarku… ”, ucap Crystal sedikit gugup.
“ Dan lagi…sepertinya tadi aku melihat Enrico disini….”, tambahku.
Sunyi, itulah yang terjadi setelah Crystal mengatakan semuanya. Diamnya Arnold membuat Crystal berpikir " apakah dia marah dengan semua yang ku katakan ?...."
Crystal terlihat berjalan mondar - mandir di luar kamar ganti sambil sesekali menggigit ujung kuku jari tangannya, menunggu respon dari Arnold.
“ Baik !!!…jam berapa kamu ingin dijemput ?...”, tanya Arnold dengan nada datar padahal saat ini hatinya sedang bergejolak waktu mendengar banyak lelaki yang mengejar tunangannya dan ada Enrico juga disana.
“ Kamu bisa kesini jam sembilan malam….setidaknya aku bisa pulang tanpa harus menunggu perayaan selesai…”, ucap Crystal lagi.
“ Baiklah…”, ucap Arnold dan langsung menutup teleponnya.
Crystal langsung bernafas dengan lega setelah mendapatkan jawaban dari Arnold. Setidaknya dia sudah memberitahukan gambaran secara garis besarnya.
Crystal sangat yakin, jika selesai acara nanti pasti banyak lelaki yang akan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, mengingat hari ini dia tidak membawa mobil kekampus.
Apalagi tadi,sekelebat dirinya sempat melihat Enrico, sepupu Arnold dikampus. Entah itu hanya kebetulan atau memang kesengajaan, yang jelas Crystal mempunyai firasat buruk akan hal ini.
“ Wow…kamu cantik sekali Crystal. Aku yakin kalau malam ini kamu pasti akan terpilih jadi ratu kampus bintang…”, ucap Lea memuji.
“ Tidak…aku tidak akan menerimanya jika hal itu terjadi. Aku masih punya banyak hal yang harus aku selesaikan diperusahaan…belum lagi kuliahku…aku tak ingin nantinya akan mengecewakan semua pihak…”, ucap Crystal agak keras, agar semua orang yang ada dalam ruangan mendengar.
Ya…Crystal sangat tahu jika didalam ruang ganti tersebut ada juri yang akan memberikan penilaian untuk memilih raja dan ratu kampus bintang.
Untuk itu dia menggunakan pertanyaan yang dilontarkan Lea kepadanya untuk membuat mereka berpikir ulang jika hendak memasukkannya dalam nominasi.
Tugas raja dan ratu kampus adalah sebagai duta kampus bintang yang berkerja dibawah departemen humas yang ada dikampus. Mereka harus siap setiap saat jika ada kunjungan dari luar sebagai perwakilan dari pihak kampus.
Peran utama duta kampus adalah sebagai go – to – person, membantu pihak humas untuk menjawab dan memecahkan masalah seputar program kampus bintang, sehingga tidak ada kendala untuk mengimplementasikannya pada kurikulum yang ada.
Maka dari itu, orang yang terpilih nantinya selain cakap dan mempunyai pengetahuan yang luas juga harus smart, tentunya juga mempunyai waktu yang cukup luang untuk melakukan semua scedule yang telah diagendakan oleh pihak kampus.
.
.
.
.
.
Malam hari,
Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, masuk kedalam aula dan menempati tempat duduk yang telah disediakan sesuai dengan urutan yang ada.
Panitia dan para pengisi acara sudah bersiap pada posisi mereka masing - masing. Menunggu instruksi untuk menjalankan tugas yang telah diembannya.
Setelah semua tamu undangan sudah hadir dan semua orang sudah berada diposisinya masing – masing, Crystal dan Galang sebagai MC mulai naik ke atas pamggung untuk membuka acara.
Pembukaan acara ulang tahun kampus bintang berjalan dengan khitmad. Setelah sesi sambutan dari bapak Rektor dan beberapa tamu undangan penting akhirnya acara potong tumpeng sebagai puncak acara HUT kali inipun dimulai.
Enrico yang duduk berdampingan dengan professor Stevanus sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari arah Crystal.
Di sangat terpesona oleh kecantikan alami yang terpancar dari wajah tunangan Arnold itu. Entah kenapa detak jantungnya berdegub sangat kencang setiap kali Crystal melihat Crystal tersenyum.
Seolah - olah senyum manis tersebut diberikan untuknya. Untung saja suara aula sangat ramai sehingga jantung Enrico yang berisik tidak sampai terdengar professor Stevanus yang ada disampingnya.
Suara merdu Crystal yang mengalun lembut digendang telingganya, membuat Enrico merasakan desiran aneh didalam tubuhnya.
Lubang yang ada dihatinya perlahan mulai menutup dan diselimuti kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Enrico mungkin tidak pernah jatuh cinta, jadi dia tidak bisa mendeskripsikan rasa apa yang sekarang sedang tumbuh dalam hatinya saat ini.
“ Cantik ya pak…dia adalah salah satu mahasiswi kesayangan saya…”, ucap Stevanus menggoda saat melihat lelaki yang ada disampingnya itu terus memandang kearah Crystal tanpa berkedip.
“ Kapan kita bisa breafing bersama tim pak ?…saya ingin lebih dekat dengan Crystal…”, ucap Enrico tanpa basa – basi.
Stevanus seperti tersambar petir saat mendengar ungkapan jujur Enrico. Awalnya dia hanya iseng ingin menggoda laki - laki itu.
Tapi dirinya juga tidak bisa menolak permintaan Enrico, bagaimanapun juga orang seperti Enrico tidak bisa dia singgung begitu saja.
Yang bisa dilakukannya hanya sebisa mungkin menunda waktu pertemuan itu. Stevanus tentunya tak rela usahanya untuk dekat dengan Crystal menjadi sia - sia.
Apalagi gadis itu sama sekali belum merespon sinyal - sinyal cinta yang telah diberikannya. Dan sekarang, dia harus bersaing dengan seseorang yang memiliki kualifikasi lebih dari dirinya.
“ Coba nanti saya diskusikan dengan tim pak….”, ucap Stevanus bijak.
Enrico hanya mengangguk – anggukkan kepala sebagai respon atas pernyataan Stevanus. Diapun kembali memusatkan perhatiannya pada Crystal, seorang gadis yang sudah menjadi fokusnya saat ini.
“ Kelinci cantik itu benar – benar bersinar sekarang ….”, batin Enrico penuh kekaguman.
Sementara itu, dikediaman Arnold, kekacauan besar kembali terjadi disanan setelah salah penjaga bayangan yang ditugasi untuk mengawal Crystal mengirim pesan kepadanya.
Melihat gambar yang terkirim dalam pesan tersebut darah dalam diri Arnold mulai mendidih. Diapun kembali berteriak kepada semua orang yang membantunya berdandan hari ini.
“ Jangan yang ini !!!...”
“ Terlalu simple !!!..”
“ Modelnya jelek !!!...”
" Warnanya tidak menarik !!!...."
" Terlalu rame !!!... "
" Jelek !!!...", ucap Arnol datar.
Sudah lebih dari lima jam Arnold mencoba pakaian, tapi tidak ada satupun yang dia sukai. Sudah lebih dari sepuluh orang stylist yang didatangkan dengan pakaian dari berbagai macam desainer ternama dibawa namun tidak ada satupun yang sesuai seleranya.
Bukan hanya Emily dan para stylist yang dibuat pusing, semua pelayan dirumah menangis karena binggung apa sebenarnya yang diinginkan oleh majikannya itu.
Emily sama sekali tidak pernah melihat bosnya kebingungan seperti ini. Biasanya dia akan memakai baju apa saja yang telah disiapkannya, asalkan berwarna hitam.
Tapi ini….membuat kepala Emily terasa mau pecah. Tidak ada cara lain, diapun mencoba untuk menghubungi Crystal, agar Arnold tidak semakin menyiksa semua orang.
Beberapa kali sambungan teleponnya tidak dijawab membuat Emily semakin frustasi. Hingga akhirnya di hanya pasrah untuk menunggu balasan dari pesan yang dikirimkannya.
Crystal yang baru saja bisa istirahat dibelakang panggung mulai membuka ponselnya. Matanya seketika melotot melihat banyaknya panggilan telepon dari Emily disana.
Dia juga telah membaca pesan yang dikirim oleh Emily kepadanya. Wanita itu dalam pesannya mengisyaratkan bahwa kondisi di kediaman Arnold sedang tidak baik – baik saja.
“ Apa yang sebenarnya iblis itu perbuat kali ini ?…”, batin Crystal cemas.
Sambil berjalan sedikit menjauh dari panggung, Crystal segera menghubungi Emily yang terlihat hampir menangis karena bahagia tunangan sang bos itu akhirnya menghubunginya.
“ Emily…mana Arnold, biarkan aku bicara…”, ucap Crystal cemas.
Mendengar hal itu, Emily segera berjalan cepat menuju tempat sang bos berada dan menyerahkan ponselnya.
" Nona Crystal tuan....", ucap Emily sedikit gemetar.
“ Iya…”, ucap Arnold datar.
“ Sayang….apa kamu sudah siap?….jadi jam berapa jadi kesini?…”, tanya Crystal manja.
Hati Arnold berdesir saat mendengar suara manja Crystal. Ingin rasanya dia segera berlari kesana dan memeluk gadisnya itu dengan erat.
“ Sebentar lagi, aku masih bersiap…”, ucapnya berusaha acuh.
“ Apalagi yang perlu disiapkan. Kamu hanya perlu kemari…tanpa berdandanpun kamu sudah tampan sayang…tidak ada lelaki yang bisa menandingi ketampananmu di dunia ini…”, ucap Crystal manis.
“ Apa kamu ingin aku kesana sekarang?…”, tanya Arnold dengan suara rendah dan datar.
“ Tentu saja…aku mulai risih dengan tatapan semua lelaki kepadaku…jika kamu ada disini, disampingku…setidaknya mereka tidak akan berani berlaku tidak sopan seperti itu kepadaku…”, ucap Crystal merajuk.
Hati Arnold terbakar api cemburu, setelah tadi dia melihat foto Enrico terpesona dengan gadisnya, sekarang semua laki – laki juga menatap gadisnya dengan pandangan lapar membuat aura dalam kamar tiba – tiba menjadi sangat dingin.
Semua orang menggigil ketakutan, dan bertanya – tanya apa kesalahan yang sudah mereka perbuat hingga membuat iblis tersebut kembali marah.
“ Aku pakai yang ini saja !!!…”, ucap Arnold sambil menunjuk baju yang baru saja digantung disana.
Semua orang terlihat bernafas dengan lega saat sang iblis sudah menetapkan pilihannya. Setelah berganti pakaian, Arnold segera mengajak Emily untuk menjemput Crystal dikampus.