
Crystal mulai menutup laptop yang ada dihadapannya waktu menyadari jika dirinya malam ini tidak bisa berkonsentrasi secara penuh pada pekerjaan yang ada dihadapannya.
Setelah bangkit dari tempat duduknya, Crystal segera mengambil ponsel yang telah selesai di charge diatas nakas, tujuannya adalah untuk menghubungi Arnold.
Cukup lama dia menimbang – nimbang kembali keputusan yang beberapa saat lalu sudah diambilnya dengan raut keraguan yang cukup dalam.
Ponsel yang ada ditangannya beberapakali dia nyalakan dan dia matikan dengan wajah gelisah. Crystalpun kemudian berjalan mondar – mandir dalam kamarnya sambil matanya sesekali melirik kearah ponsel yang masih ditimang – timangnya itu.
Akhirnya, dengan menyingkirkan egonya, Crystalpun segera memencet nomor Arnold hingga nada dering terdengar disana.
Dia menanti panggilan tersebut dengan hati cemas sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat, menunggu respon dari calon suaminya itu.
Crystalpun segera mematikan ponselnya saat pada nada dering kelima, Arnold belum juga mengangkat panggilannya.
Sementara itu, Arnold yang baru saja selesai mandi bergegas menuju kesamping ranjangnya waktu mendengar ponsel yang tergeletak diatas nakas berdering dan mati waktu hendak diangkat.
“ Crystal ?...”, guman Arnold sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam.
Untuk sejenak, Arnold terlihat sedang berpikir , apa ada sesuatu yang terjadi hingga calon istrinya itu menghubunginya.
“ Bukankah ini baru satu minggu…”, batin Arnold sedikit binggung.
Diapun kembali mengingat perkataan Crystal yang tidak ingin diganggu sampai akhir bulan karena dirinya ingin fokus menyelesaikan permasalahan yang ada disana.
Tidak ingin hanya menebak – nebak dan tenggelam dalam rasa penasaran, Arnoldpun segera menghubungi balik Crystal.
Sementara itu, Crystal yang masih memandangi ponselnya dengan ragu, akan kembali menghubungi Arnold atau tidak dibuat terkejut pada saat ponselnya itu tiba – tiba saja menyala dan berbunyi nyaring.
Karena cukup terkejut, Crystal spontan melempar ponselnya keatas saat melihat nama Arnold tertera jelas dilayar ponsel.
“ Huffttt….untung jatuhnya diatas kasur…”, ucap Crystal sambil mengelus dadanya, lega karena dia tidak kembali menghancurkan ponsel yang baru dua hari berada ditangannya itu.
Melihat ponsel tersebut masih menyala dan berbunyi, Crystalpun segera mengambil dan menganggangkat panggilan telepon dari calon suaminya itu.
“ Halooo….”, ucap Crystal pelan.
Diapun menggigit bibir bawahnya kuat – kuat untuk menekan detak jantungnya yang tiba – tiba saja berdetak dengan sangat kencang waktu mendengar suara baritone dari ponsel yang menempel ditelinganya.
“ Iya sayang…”, ucap Arnold dengan suara lembut.
Mendengar kata sayang membuat kupu – kupu yang ada dalam dada Crystal mulai beterbangan bebas kesana – kemari.
Entah kenapa, ada perasaan senang dan lega dalam waktu bersamaan begitu mendengar suara lembut Arnold disana.
Padahal awalnya dia mengira akan mendengar suara rendah dan dingin. Mengingat hari ini banyak hal yang membuat emosi calon suaminya itu naik.
Itulah kabar yang didapatkan Crystal dari Emily tadi sore. Dia terlebih dahulu menghubungi Emily untuk memastikan kondisi emosi calon suaminya dan apa yang terjadi hari ini.
Sehingga dia nantinya bisa mengantisipasi apapun yang akan terjadi selama obrolan mereka berlangsung.
Melihat Crystal tetap terdiam tanpa suara, Arnold terlihat semakin cemas. Dia takut jika terjadi sesuatu terhadap calon istrinya itu.
“ Sayang…kamu tidak apa – apa kan ?...”, tanya Arnold dengan nada cemas.
“ emmm…i…iya. Aku tidak apa – apa….”, ucap Crystal terbata – bata.
“ Apa kamu sibuk ?...”, tanya Crystal basa – basi sambil memegang dadanya, berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang semakin berisik itu.
“ Tidak…aku habis mandi…”, ucap Arnold sambil menaikkan satu alisnya heran dengan pertanyaan Crystal yang tak biasa itu.
“ ohhh….gitu…”, ucap Crystal kikuk.
Krikkk….krikkk….krikkk….
“ Terima panggilan videoku…”, ucapnya dan langsung menganti panggilan di ponselnya dengan panggilan video.
Belum juga detak jantungnya kembali normal, Crystal dibuat kehabisan nafas waktu panggilan video diponselnya diaktivkan.
Bagaimana tidak, saat ini dia bisa melihat dengan jelas roti sobek yang terpampang indah di hadapannya. Arnold yang terlihat baru saja selesai mandi, saat ini masih belum berpakaian dan hanya memakai handuk kecil yang dililitkan dipingganya.
Tubuh atletis calon suaminya itu terlihat jelas disana, membuat kedua bola mata Crystal sama sekali tak berkedip dan air liurnya hampir menetes menatap keindahan yang ada dihadapannya.
Rambut Arnold yang masih basah, terlihat sedikit menetes di pundak dan wajahnya yang menggoda, membuat Crystal hanya bisa menggigit bibir bawanya kuat – kuat, waktu merasakan suhu tubuhnya meningkat dengan drastis.
*“ oh s*ttt !!!...kenapa dia begitu sexy…”, batin Crystal terpesona.
Wajah Crystalpun mulai memerah berusaha menahan gejolak yang ada dalam dirinya waktu melihat tatapan lembut dari kedua mata Arnold.
Manic hitam Arnold yang terlihat sangat teduh berhasil memporak – porandakan pertahanan hati Crystal yang sudah dibangunnya sejak mendengar suara lembut nan sexy itu memanggilnya.
“ Sayang….”, ucap Arnold sedikit mendesah.
Mendengar suara sexy Arnold, Crystal terlihat semakin kuat menggigit bibir bagian bawahnya. Hal itu tentu saja membuat Arnold langsung kehilangan akal sehat.
Jika saja gadis itu ada dihadapannya\, maka bisa dipastikan bibir Crystal yang merah mereka bagai cery yang baru saja mekar tersebut akan di l***tnya hingga habis.
“ Sayang…tolong…jangan gigit bibirmu lagi…”, ucap Arnold dengan wajah senduh.
Arnold berusaha mati – matian menahan hewan buas yang ada dalam dirinya. Namun rasa rindu yang begitu dalam dan wajah Crystal yang begitu menggoda, membuat sesuatu ditubuhnya terbangun akibat ulah calon istrinya itu.
Jika tidak kembali mengingat bagaimana marahnya Crystal terakhir kali, mungkin malam ini juga Arnold akan langsung terbang menuju pulau berlian dan menyalurkan hasrat yang sudah sangat lama dipendamnya.
Melihat wajah sayu Arnold, Crystalpun segera menghentikan perbuatannya. Setelah berhasil menetralkan detak jantungnya, diapun mulai menyampaikan maksud tujuannya menghubungi Arnold malam ini.
Meski terasa sangat berat, akhirnya Arnoldpun berhasil menjinakkan hewan buas yang meraung – raung dalam tubuhnya.
Percakapan yang terjadi diantara merekapun berjalan cukup baik dan harmonis. Bahkan Crystal terlihat sudah seperti sedia kala.
Gadis itu bahkan sudah beberapa kali melontarkan gombalan receh yang kadang sering dia ucapkan waktu mereka sedang bersama.
Hingga waktu tubuh Crystal sedikit membungkuk untuk mengambil berkas yang tidak sengaja terjatuh, tanpa sadar kamera yang dibawanya menyorot dengan jelas gunung kembar yang tidak sengaja terlihat.
Aksi Crystal tersebut tentu saja membuat hewan buas dalam tubuh Arnold kembali meraung – raung dengan kuat untuk segera dibebaskan.
Arnold mengacak rambutnya dengan kasar sambil mengumpat berkali – kali dalam hatinya, frustasi dengan kondisi yang ada saat ini
*“ S*ttt !!!....”, umpat Arnold dalam hati berkali – kali saat pemandangan indah dihadapannya itu masih belum juga hilang.
Arnold yang sudah tidak bisa menahan hewan buas dalam dirinya lebih lama lagi akhirnya berinisiatif untuk menutup telepon terlebih dahulu.
“ Sayang…aku tutup dulu ya teleponnya. Besok pagi aku hubungi lagi…”, ucap Arnold selembut mungkin.
“ Iya…kamu juga langsung istirahat ya malam ini…”, ucap Crystal cemas waktu melihat wajah Arnold yang terlihat memerah.
Crystal pikir Arnold mungkin kedinginan karena berbicara dengan dirinya cukup lama tanpa menggunakan pakaian. Namun hal itu bukanlah penyebab sesungguhnya wajah Arnold terlihat memerah.
Setelah Crystal menutup teleponnya, Arnoldpun segera berlari masuk kedalam kamar mandi dan langsung berendam dalam air dingin.
Berharap panas dalam tubuhnya segera turun dan sesuatu yang yang terbangun dari tubuhnya bisa kembali tertidur.
Sungguh, malam ini Arnold merasa sangat tersiksa. Dia sama sekali tak menyangka jika dirinya sudah tak bisa mengontrol hewan buas yang ada dalam tubuhnya.
" Tampaknya...aku benar - benar harus cepat menikahinya...", guman Arnold sambil memjamkan kedua matanya, merilekskan tubuhnya agar suhu panas tersebut bisa segera turun.