
Waktu begitu cepat berlalu kini usia kandungan Chika sudah menginjak bulan ke 9, tinggal menunggu hari untuk kelahiran anak pertama nya.
Hal itu membuat Devin menjadi suami siaga untuk istrinya, ia tidak ingin melewatkan masa kelahiran anak nya.
"Ay kamu belum ngerasa mules gitu?" Tanya Devin, membuat Chika menoleh.
"Belum memangnya kenapa?" Ucap Chika.
"Kok lama amat, kapan si keluar nya." Ujar Devin membuat Chika menatap nya tajam.
"Ya orang baby nya belum mau keluar gimana, yakali harus di paksain." Sengit Chika, Devin tertawa kecil dan merengkuh tubuh istrinya yang mulai berisi.
"Dih gak usah ngegas dong." Goda Devin, Chika tersenyum dan menatap wajah tampan suaminya.
"Kok gemesin sih." Ucap Chika.
"Oh tentu." Balas Devin.
Kini sepasang suami istri itu merebahkan tubuhnya saling berpelukan, tepat pukul 3 dini hari Chika merasa perut nya sakit.
Namun ia tidak menghiraukan hal itu, karena Chika mengingat kata dokter yang mengatakan bahwa kelahiran anak nya di perkirakan 3/4 hari lagi.
Namun ia merasa tidak enak dengan perutnya yang terasa sakit, Chika bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka nya.
Setelah itu ia keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tengah, Chika terus berjalan dengan mengelus perut buncit nya.
Sementara Devin lelaki itu tidak merasa kehadiran Chika di samping nya ikut terbangun, Devin mencari Chika dan disinilah ia melihat istrinya yang sedang berjalan mondar-mandir.
"Ay ngapain?" Tanya Devin.
"E_enggak kok aku gak ngapa-ngapain." Jawab Chika gugup.
"Kamu kenapa kok keringetan?" Ucap Devin menangkup wajah Chika.
"Ah, aku gak apa-apa." Ucap Chika mencoba menyembunyikan rasa sakit nya.
"Bohong kamu kenapa? Bilang, perut kamu sakit?" Tanya Devin.
"Akhhhh, iya perut aku sakit." Lirih nya, akhirnya Chika membuka suara juga dan berkata jujur.
"Kenapa gak bilang, yasudah kamu tunggu sebentar aku panggil mami." Ucap Devin.
"Jangan mami pasti lagi istirahat, jangan di ganggu." Ucap Chika menahan tangan Devin.
"Sudah kamu tunggu disini aku panggil mami, sama ambil perlengkapan baby nya." Ucap Devin mengelus kepala Chika, lelaki itu berlari menuju kamar mami nya.
Setelah itu ia berlari mengambil perlengkapan baby Chika untuk melahirkan, Devin Chika juga mami nya pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan Chika terlihat tenang mungkin karena ia malu kepada mami mertuanya, keringat dingin mulai bercucuran.
"Sayang." Panggil mami Devin.
"Engh." Sahut Chika, kali ini air matanya menetes dan terjun bebas di pipi nya.
"Hey, jangan nangis mami disini." Ucap mami Devin, Devin yang mendengar bahwa Chika menangis pun menoleh.
"Vin nyetir yang bener, nanti bukan ke rumah sakit kita malah Q&A sama mala*Kat." Sengit mami Devin yang merasa gregetan.
"Tukeran yuk, mami yang nyetir aku yang temenin Chika." Ucap Devin.
"Gak ada ahlak banget ini anak." Kesal mami Devin.
Akhirnya merekapun tiba di rumah sakit, Devin mengangkat tubuh Chika dan langsung membawa nya ke ruang bersalin.
Saat masuk kedalam ruang bersalin barulah Chika bersuara, merengek karena hanya Devin yang berada di dalam ruangan itu.
"Hiks...hiks... Sakiiiiitttt." Pekik Chika mencengkeram erat tangan Devin.
"Iya tahu ay sakit kamu tahan ya." Ucap Devin.
"Tahan pala mu, ini sakit kamu gak tau ya sakit nya yang aku rasain sekarang." Grutu Chika.
"Lah, perasaan tadi kamu tenang-tenang saja kenapa sekarang ngamok." Ucap Devin, ia ingin tertawa tapi takut Chika semakin marah.
"Tenang kan karena ada mami, yakali aku mau teriak-teriak dekat mami." Kesal Chika, disinilah Devin tersenyum.
"Araaagghhh, sayang kamu jangan jadi fam*ir dadakan dong." Pekik Devin, dokter yang menangani Chika lahiran tertawa kecil.
"Tenang ya nona, jangan terlalu tegang dan panik." Ucap dokter itu.
"Hiks...hiks... Aaaaaaaaaaaa." Chika berteriak, dan tiba-tiba menjambak rambut Devin dengan kuat.
"Araaagghhh, sayang jangan Jambak nanti aku botak kan gak lucu." Teriak Devin.
"Sakit." Pelit Chika.
"Sayang rambut aku, masa mau ketemu anak pala nya botak." Pekik Devin, ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Chika di kepalanya.
"Tuan, baby nya sudah keluar." Ucap dokter itu membuat cengkraman Chika lepas, dan Devin terduduk di lantai dengan mengusap kepalanya.
"Pala gue." Lirih Devin, namun tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat bayi mungil yang di dekatkan oleh dokter kepadanya.
"Anak gue nih." Ucap Devin tersenyum.
Plaaaaakkk.... Chika memukul pundak suaminya.
"Yakali anak kang cabe." Sengit Chika, setelah melahirkan pun wanita itu masih memiliki tenaga untuk marah.
"Selamat tuan putri anda sangat cantik seperti mommy nya." Ucap sang dokter.
"Gadis?" Tanya Devin.
"Benar sekali, anak anda seorang perempuan." Jawab dokter itu.
"Kemari." Ucap Devin, ia mengambil tubuh mungil bayi nya.
Tidak lupa Devin mengadzani putrinya yang baru saja lahir, setelah itu ia menghujani wajah Chika dengan kecupan.
"Terimakasih banyak ay, makasi kamu menjadi istri terbaik untuk aku." Bisik Devin membuat Chika meneteskan air mata nya.
"Jangan macem-macem Lo pi, udah ada anak kalo macem-macem gue botakin." Canda Chika, Devin tertawa kecil dan mengecup bibir Chika sekilas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Akhirnya brojol juga gadis si Devin 😂
A: Nunggu Lo 😂
N: Nunggu lah, biar para emak bisa main-main kan 🤣
A: Solimi 😭
N: 🤣🤣🤣*