Love Destiny

Love Destiny
TERKEJUT



Saat ini, Elisabeth terlihat mondar – mandir di ruang tengah dengan perasaan cemas. Menunggu kedatangan cucu kesayangannya bersama sanga kekasih.


Setelah tahu bahwa cucu kesayangannya Arnold memiliki pacar, Elisabeth segera menyelidiki latar belakanggadis yang bisa meluluhkan hati cucunya tersebut, Crystal Abraham.


Elisabeth pada awalnya cukup terkejut jika cucunya tersebut bukan hanya sekedar berpacaran dengan Crystal, namun sudah bertunangan atas dasar wasiat yang ditinggalkan kakek Arnold dari pihak ibu, besannya.


Apalagi wanita tua itu juga mendapatkan informasi bahwa sebenarnya bukan Crystal yang akan bertunangan dengan Arnold, tapi Leony putri sulung keluarag Abraham.


Dikarenakan Leony hamil dengan lelaki lain, maka Crystallah yang mengantikan sang kakak untuk menjalankan kesepakatan yang telah kakek mereka buat.


“ Jika dilihat dari ekspresi bahagia Arnold kemarin, sepertinya dia benar – benar menyukai gadis itu…”, guman Elisabeth meyakinkan dirinya bahwa ekspresi bahagia Arnold yang dilihatnya beberapa hari lalu adalah nyata.


Maka dari itu, Elisabeth mendesak Arnold agar segera membawa colan cucu menantunya itu kerumah utama, agar dia bisa melihat apakah gadis tersebut cocok dengan cucunya atau tidak.


Sekaligus melihat seberapa dalam  perasaan yang dimiliki oleh cucunya terhadap gadis itu dengan melihat cara mereka berinteraksi nantinya.


Saat mendengar langkah kaki mulai masuk keruang tengah, Elisabeth segera menoleh kearah pintu masuk dengan cepat.


Disana dia melihat James masuk diikuti oleh cucu kesayangannya dan seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir ekor kuda.


Wajah gadis itu putih, bersih, dan bersinar tanpa make up yang menghiasai wajah polosnya sedang tersenyum lebar, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh dalam pesonanya.


Penampilannya yang sederhana dan sopan menunjukkan bahwa dia merupakan gadis baik – baik. Dan yang membuat Elisabeth tak berkedip adalah mereka berdua berpegangan tangan.


Siapapun dalam keluarga Lincoln sangat tahu jika Arnold sangat jijik dengan yang namanya wanita, dan selalu menjaga jarak minimal tiga langkah kaki darinya.


Emily saja yang selalu mendampingi kemanapun Arnold pergi tidak bisa terlalu dekat dengan cucu kesayangannya itu karena masih sayang dengan nyawanya.


Tapi sekarang, dapat semua orang lihat Arnold memegang tangan munggil gadis belia itu dengan sukarela. Dan hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.


“ Nenek…”, ucap Crystal dengan ramah.


Diapun segera berjalan menuju Elisabeth dengan senyum lebar yang merekah diwajahnya, dan langsung mencium telapak tangan serta mengecup kedua pipi keriput wanita tua itu.


“ Ini pasti Crystal…kamu cantik sekali sayang…”, ucap Elisabeth sambil menangkup wajah munggil Crystal dengan kedua telapak tangannya yang keriput.


“ Bagaiman kabar nenek…”, ucap Crystal berbasa – basi.


“ Baik…”, ucap Elisabeth dengan wajah berseri – seri penuh kebahagiaan.


Sekilas, Elisabeth melihat Emiliy berada dibelakang mereka sambil membawa beberapa tas yang tampaknya adalah buah tangan dari calon cucu menantunya itu.


“ Aku sudah mengatakan kepada Arnold, bahwa kamu tidak perlu repot – repot membawa hadiah. Kamu hanya perlu membawa dirimu sendiri….”, ucapnya sambil menerima bingkisan yang dibawa Crystal dengan senyum lebar.


" Tidak merepotkan kok nek...maaf, hanya ini yang bisa Crystal kasih...", cicitku malu - malu.


“ Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh, ayo...duduk sama nenek...”, ucap Elisabeth yang langsung menarik tangan Crystal untuk duduk disampingnya.


Meskipun dia sudah memiliki semuanya, tapi hadiah yang diberikan oleh calon cucu menantunya ini memiliki makna yang sangat penting dan berharga baginya.


Elisabeth yang terus memperhatikan interaksi antara Arnold dan Crystal tersenyum bahagia, akhirnya keingginan untuk mendapatkan cicit sebentar lagi akan terpenuhi.


Saat mereka sibuk bercenkerama antara yang satu dengan yang lain, tiba – tiba ada pelayan yang datang dan mengatakan bahwa makan siang sudah siap.


“ Kalian datang tepat waktu…kemarilah sayang, mari kita ngobrol sambil makan. Kita tidak memiliki aturan khusus saat makan, jadi kamu buat dirimu senyaman mungkin…”, ucapnya sambil membawa Crystal dan Arnold menuju meja makan.


“ Kudengar kamu sekarang sudah memasuki semester empat dan sudah mulai melakukan penelitian ya….nenek harap kunjunganmu kesini tidak menganggu waktu belajarmu…”, ucap Elisabeth sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.


“ Tidak nek…sama sekali tidak menganggu. Kebetulan sabtu dan minggu ini aku free….”, ucap Crystal menjelaskan.


“ Anak nakal ini bahkan tidak memberitahu kepadaku  kalau dia sudah punya pacar. Seandainya aku tidak melihatnya tertawa sendiri saat membaca pesan yang kamu kirim disudut ruangan, mungkin sampai sekarang dia akan tetap merahasiakan hubungan ini dariku…”, ucap Elisabeth sambil melirik tajam kearah Arnold yang masih setia dengan ekspresi datarnya, seakan tak terganggu dengan tatapan dan ucapan pedas sang nenek.


Mendengar Arnold tertawa saat membaca pesan darinya membuat Crystal sangat terkejut. Dia tidak bisa membayangkan bagian mana dari pesannya yang terlihat lucu dimata laki – laki itu.


“ Perasaan aku hanya mengiriminya pesan seputar aktivitasku sehari – hari. Apakah hal tersebut termasuk lucu baginya…”, batin Crystal sambil mengerutkan dahi, berpikir apa dia mengirim sesuatu yang aneh tanpa dia sadari.


Suasana dimeja makan terlihat ceria dan hangat. Elisabeth terus saja berbicara tentang Arnold, mulai dari masa kecilnya hingga dewasa seperti sekarang.


Dan bisa dilihat perbedaannya, selama bercengkerama nada suara yang dikeluarkan oleh laki – laki tersebut lebih lembut dan hangat jika dibandingkan dengan nada bicaranya sehari –hari.


Crystal sangat menikmati moment kebersamaan tersebut hingga tanpa sadar dia sudah menghabiskan banyak sekali makanan yang ada dihadapannya hingga membuat perutnya sesak.


“ Oh…jangan beri aku makanan lagi…perutku sudah tidak muat…”, rengek Crystal saat pelayan memberikan seporsi makanan dihadapannya.


Arnold yang melihat Crystal kekenyangan segera mengambil makanan yang ada dihadapan tunangannya itu dan menghabiskannya.


Meski sedikit terkejut oleh perilaku Arnold, tapi Crystal bisa bernafas lega karena tindakan laki – lai itu secara tidak langsung telah meringankan bebannya.


Melihat interaksi antara Arnold dan Crystal membuat hati Elisabeth bahagia, dia sekarang merasa yakin jika menitipkan cucu kesayangannya itu untuk dirawat Crystal.


“ Benar kata Arnold, gadis ini tidak pilih – pilih makanan. Dia juga memilki nafsu makan yang cukup baik dan hal tersebut bagus daripada wanita yang terlalu menjaga image mereka dan hanya makan beberapa suap demi menjaga penampilan…”, batin Elisabeth senang.


Setelah makan, Elisabeth yang takut Crystal akan merasa bosan segera menyuruh Arnold untuk mengajaknya keliling rumah utama keluarga Lincoln.


Arnoldpun segera mengandengan tangan Crystal dan mengajaknya berkeliling. Meski taman depan mansion mewah ini tidak sebagus yang ada dikediaman Arnold, namun taman tersebut mempunyai  karakteristik tersendiri, yang menjadi symbol keluarga Lincoln.


Sambil mengedarkan pandangan, aku mulai mengerakkan kedua tanganku dan sesekali menghirup aroma tanah basah yang tersiram air, membuat tubuh dan pikiranku sedikit rileks.


Bau tanah basah yang sekarang sudah jarang aku hirup karena hampir semua bagian rumah dan lingkungan sekarang menggunakan paving ataupun cor beton.


Berjalan – jalan dihalaman setelah makan itu benar – benar bagus. Selain untuk mempercepat proses pencernaan juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh.


Tiba – tiba raut wajah Arnold terlihat muram, ada sedikt pancaran ketidak bahagiaan disana. Dan laki – laki itupun kemudian berjalan cepat, meninggalkanku dibelakang dengan raut wajah binggung.


“ Hey…ada apa dengannya. Perasaan tadi masih baik – baik saja…”, batinku gelisah takut telah menyinggung iblis itu tanpa sadar.


Takut tersesat dirumah sebesar ini, tanpa pikir panjang Crystalpun segera berlari menyusul tunangannya. Saat sudah dekat, Crystal langsung bergelayut manja dilengan Arnold.


Raut wajah murung Arnold berubah menjadi pancaran kebahagiaan saat Crystal memegang lengan laki – laki itu dengan erat.


Melihat ekspresi tunangannya yang berubah dengan sangat cepat membuat Crystal menaikkan satu alisnya dengan heran.


“ Jadi, dia marah hanya karena  aku tidak memegang tangannya saat berjalan…”, batinku terkejut.


“ Dasar kekanak – kanakan…”, batinku sambil menghela nafas panjang.


Crystal baru menyadari jika Arnold bukan hanya dominan dan possesif, tapi juga kekanak – kanakan. Dan itu baru dia sadari sekarang.


Mungkin mulai sekarang dia harus lebih peka lagi dalam menghadapi perubahan suasana hati Arnold yang begitu cepat.