
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Oma dan nyonya Desi sedang berdebat di dapur, ya nyonya Desi baru saja tiba semalam.
Ia datang ke kediaman Richard karena tuan Richard yang meminta nya, tuan Richard ingin mengadakan pesta keluarga mumpung keluarga dari menantu kesayangan nya sedang berada disini.
"Ibu yang benar saja, orang sarapan itu dikasi makan sehat kenapa ibu malah minta pelayan memasak sayur bersantan." Dengus nyonya Desi.
"Memang nya siapa yang akan memberikan ini kepada mereka, ini untukku sudesi." Sengit Oma membuat nyonya Desi menganga.
"Namaku Desi, bukan sudesi." Kesal nya.
"Kalian ini kenapa selalu bertengkar, ini masih pagi suda bertengkar saja." Ucap nyonya Ellen.
"Ibu mu sangat menyebalkan." Kesal nyonya Desi.
"Ya aku memang ibunya Ellen, dan bukan ibumu kau puas." Kesal Oma, membuat nyonya Desi tercengang.
"Ibu ini bicara apa, tentu saja kau itu ibuku." Ujar nyoya Desi, ia tidak ingin membuat Oma marah.
Dena masuk ke dapur dan melihat wajah masam Tante dan Oma nya, Dena tersenyum nakal melihat itu.
Di dapur bukan cuma ada nyonya Ellen, nyonya Desi, Oma dan Dena saja. Tetapi juga ada Mei dan Dea yang sejak tadi tertawa kecil melihat tingkah nyonya Desi dan Oma.
"Aku melihat aura-aura perdebatan." Ucap Dena, membuat Dea dan yang lain menoleh.
"Oma yang mengajak mami berdebat." Ucap nyonya Desi, ia selalu ingin Dena memanggil nya mami.
"Hmmmmm, ada apa Oma ini Masi pagi." Kekeh Dena.
"Tanya saja ke Tante mu yang tidak ada ahlak itu." Kesal Oma.
"Sudah, kalian ini sama saja." Ucap nyonya Ellen, yang mulai menata meja makan.
Dena hanya menggelengkan kepala dan menertawakan Oma dan Tante nya, ia ikut membantu nyonya Ellen menata meja makan.
Saat Dena dan nyonya Ellen menata meja makan, Anna melihat bagaimana wajah bahagia nyonya Ellen saat menatap Dena.
"Setelah selesai sarapan mom mau minta antar Kean de, boleh kan." Ucap nyonya Ellen, membuat Dena menoleh.
"Hmmmmm, mau minta antar kemana mom?" Ucap Dena.
"Ke butik, mom mau ambil gaun yang kemarin mommy pesan untuk pesta besok." Ucap nyonya Ellen.
"Tentu saja boleh." Ucap Dena tersenyum manis.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Anna yang menghampiri Dena dan nyonya Ellen.
"Ah tidak perlu nak, kau duduk saja biar Dena yang membantu saya." Ucap nyonya Ellen.
"Tidak apa-apa saya bisa membantu nyonya." Ujar Anna, jujur saja nyonya Ellen tidak enak karena disini Anna sebagai tamu.
"Tidak perlu mbak, biar aku yang membantu mommy. Mbak istirahat saja." Ucap Dena tersenyum, Anna pun tersenyum lembut.
(Kamu begitu beruntung de, bahkan mertua dan para ipar mu begitu senang dan begitu menyayangi mu. Aku senang karena melihat mu bahagia, kini aku tidak terlalu merasa bersalah karena sudah bersama dengan Carl.) Batin Anna.
"Kakak sedang apa?" Tanya Niken, karena Anna hanya melamun.
"Ah, aku ingin membantu tapi Dena melarang ku dan memintaku untuk diam saja." Jawab Anna tersenyum.
"Kak Dena memang seperti itu, selagi dia bisa mengerjakan semuanya dia tidak akan merepotkan orang lain." Ucap Niken membuat Anna menoleh.
"Apa Dena benar-benar baik?" Tanya Anna.
"Haha, tentu saja dia sangat baik. Maka dari itu kami sangat menyayangi kak Dena, dia sebagai menantu kesayangan di keluarga ini dan dia juga termasuk ipar kesayangan kami." Ucap Niken membuat Anna diam dan mengangguk.
"Kami akan merasa sangat kesepian jika Dena tidak ada, kami merasa Dena adalah pelengkap kami." Ucap Karen yang tiba-tiba muncul.
"Kau yang menikah dengan anak sulung kak Dea bukan?" Tanya Karen, Anna pun mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, karena dirimu kami jadi memiliki ipar sebaik Dena. Karena dia menikah dengan Keanu." Ucap Karen, yang tahu jika dulu Dena sempat dekat dengan Carl.
"Eh, mak_maksudnya?" Tanya Anna bingung.
"Hei, aku berterima kasih kepada kamu. Karena jika kamu tidak menikah dengan anak sulung kak Dea, mungkin Dena tidak akan menikah dengan Keanu." Ucap Karen tertawa kecil.
Anna pun mengangguk dan tersenyum, ia kembali menatap Dena yang sedang di kerumuni oleh Oma, nyonya Ellen dan nyonya Desi.
Anna ingin merasakan apa yang Dena rasakan, namun ia merasa itu tidak mungkin terjadi. Apalagi jika mengingat kesalahan nya dulu yang dapat membuat masalah dengan Dena.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
A**: Buat yg komen Thor kok tiba-tiba tiga tahun cepet amat, kalo gue ceritain sehari-hari bisa sampe tiga tahun beneran novel gue baru kelar 😌
N: Kemarin katanya lambat disitu-situ aja, sekarang komen kecepatan. Hidup Lo punya masalah apa dah, cerita sama gue sini sambil ngopi😎
A: Gue gak suka kopi Mon maap 😩
N: Lagian gue gak ngajak elo, gue ngajak yang komen seenak jidad😏
A: Jahat banget Marni 😌
N: Yang komen begitu gak peka, kalo gak di skip-skip mau berapa episode woyy etdah 🤦
A: Sampe tangan gue kriting kek nya 😩
N: Heh, durjana sekali 😭
A: 😂😂😂
N: 😩😩😩*