
Meski sudah dicuekin oleh Arnold selama berada di rumah sakit, Casandra yang hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang, mulai menyusun rencana untuk kembali mendapatkan hati sahabat masa kecilnya itu yang sangat dia yakini masih ada untuknya.
“ Ini pasti pengaruh gadis sialan itu hingga Arnold menghindariku !!!…awas saja !!!...tunggu pembalasanku.. !!!...”, batin Casandra geram.
Diapun menunggu Vreyan selesai berkemas sambil bermain ponsel di sofa yang ada didalam ruang rawat inapnya, berharap Arnold segera membalas email yang dikirimnya.
Karena chat dan telponnya di blokir, Casandra yang tak bisa menghubungi Arnold hanya bisa mengirim pesan ke email pribadi Arnold, berharap lelaki itu akan meresponnya.
“Arnold kapan datang ?…”, tanya Casandra penuh harap.
Melihat Vreyan sedikit ragu untuk menjawab, Casandrapun kembali fokus pada layar ponsel yang ada dihadapannya dan kembali menscroll medsosnya, berharap dia menemukan titik terang keberadaan sahabat masa kecilnya itu.
“ Hari ini jadwal tuan muda sangat padat jadi tidak bisa kemari. Tapi tadi tuan muda sudah menginstruksikan kepada saya untuk mengurus semua keperluan kepulangan nona hari ini…”, ucap Vreyan bohong.
Sebenarnya Arnold sama sekali tak menyuruhnya, hanya Emily yang menginformasikan jika Arnold hari ini sangat sibuk dan hanya memberinya uang untuk mengurus semua keperluan kepulangan Casandra dari rumah sakit.
Vreyan sendiri juga tidak tahu kenapa beberapa hari terakhir tuan mudanya itu pernah lagi menjenguk atau menemani Casandra di rumah sakit.
Bahkan untuk menanyakan kabar gadis itu saja Arnold sudah tidak pernah. Hanya Emily lah yang intens menghubungi Vreyan untuk mencari informasi terbaru mengenai kondisi kesehatan Casandra.
Meski kasihan dengan Casandra yang selalu menanti kehadiran Arnold setiap hari, namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa – apa.
Apalagi nyonya besarnya juga sudah berpesan untuk sementara waktu agar tidak menganggu Arnold dengan urusan apapun yang menyangkut Casandra.
Meski semuanya terlihat ganjil dimata Vreyan, karena Elisabeh dan Arnold, dua orang yang selama ini sangat perduli dengan kesehatan dan keselamatan Casandra tiba – tiba berubah cuek dan acuh tak acuh dengan gadis itu, tapi sebagai orang luar, Vreyanpun tak berani bertanya dan hanya bisa bungkam menyaksikan kesedihan dari gadis yang snagat disayanginya itu.
“ Mari nona, sopir sudah menunggu di bawah…”, ucap Vreyan sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Casandra.
Sepanjang perjalanan turun, Casandra hanya bisa tersenyum kecut saat berpapasan dengan sepasang suami istri ataupun sepasang kekasih yang terlihat mesra dan saling mendukung.
Tiba – tiba hatinya terasa sangat sakit waktu menyadari jika sekarang Arnold sudah mulai mengabaikannya dan perlahan mulai mengeser posisinya dihati laki - laki itu.
“ Ini tak bisa dibiarkan !!!...aku harus cepat bertindak !!!...”, batin Casandra sambil mencengkeram kedua sisi pegangan kursi roda dengan sangat kuat.
Melihat hal itu Vreyan hanya bisa menghela nafas panjang, tanpa bisa berbuat apa – apa untuk gadis yang sangat disayanginya itu.
Selama ini dia selalu berusaha berkorban apapun dan melaksanakan perintah yang diberikan oleh gadis itu kepadanya, hanya demi melihat senyum kebahagiaan diwajah gadis yang sangat dicintainya itu, meski kebahagiaan Casandra bukanlah dirinya.
Vreyan tak masalah, asalkan gadis itu masih membutuhkannya dan mengijinkan dirinya untuk berada disisinya, hal itu sudah cukup bagi Vreyan.
“ Vrey…apa aku bisa meminta bantuanmu ?…”, tanya Casandra begitu mereka sudah berada didalam mobil.
Vreyan yang baru saja menutup pintu mobil hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata, mereka hanya berbicara lewat isyarat mata karena ada sopir disana.
Casandra tersenyum lebar melihat reaksi dari Vreyan yang sesuai dengan harapannya. Gadis itu kemudian mulai menyusun semua rencana yang akan dijalankannya nanti.
“ Dengan bantuan Vreyan, aku sangat yakin semua rencanaku akan berjalan dengan lancar…”, batin Casandra tersenyum puas.
Kening Casandra seketika mengernyit cukup dalam waktu mobil menuju jalan yang berbeda dengan jalur untuk menuju kediaman Arnold.
“ Kita mau kemana Very ?....bukankah seharusnya belok kanan jika ingin ke rumah Arnold ?...”, tanya Casandra binggung.
“ Tuan sudah menyewakan apartemen yang tak jauh dari rumah sakit, jadi untuk sementara waktu nona tinggal disana sampai kondisi kesehatan nona Casandra membaik…”, Vreyanpun menjelaskan semuanya, berharap Casandra bisa menerima keputusan sepihak tuan mudanya itu.
“ Kenapa dia ingin membuangku ?...penyakitku kan bukan penyakit menular...”, guman Casandra sedih.
Melihat gadis yang dicintainya bersedih hati, Vreyan pun berusaha untuk menghibur dan membesarkan hatinya.
“ Bukan seperti itu nona…hanya saja saat ini tuan muda sedang fokus menyelesaikan permasalah dengan istrinya, jadi takutnya nanti jika anda berada disana, nona akan terabaikan dan tidak mendapat ketenangan untuk beristirahat…”, ucap Vreyan akhirnya mengatakan kebenaran yang sudah beberapa hari ini berusaha ditahannya.
“ Gadis itu membuat ulah apa lagi ?…”, tanya Casandra sinis.
“ Saya tidak terlalu jelas, hanya saja nyonya kabur dari rumah…”, ucap Vreyan sedikit ragu.
Meski Emily setiap hari mengingatkan agar jangan sampai gadis itu mengetahui permasalahan yang sedang terjadi dalam rumah tangga tuan mudanya itu.
Melihat tidak ada perubahan ekspresi dari sang supir yang masih menampilkan wajah datar dan fokus pada jalan yang ada didepannya membuat hati Vreyan merasa sedikit lega.
Dalam hati Casandra tersenyum penuh kemenangan. Tampaknya rencana yang telah dibuatnya dengan Enrico perlahan – lahan menunjukkan hasil sesuai dengan apa yang diinginkannya.
“ Baguslah jika mereka masih bertengkar. Aku harap Enrico bisa membuat hubungan keduanya semakin renggang…”, batin Casandra puas.
Sesampaianya didalam apartemen yang dituju, Vreyanpun segera membantu Casandra untuk naik kelantai lima, tempat unitnya berada.
Didalam apartemen, Casandrapun segera mengemukakan rencananya. Meski sedikit merasa aneh kenapa Casandra menginginkan obat perangsang dengan dosis yang sangat kuat, namun Vreyan yang sudah terlanjur berjanji untuk membantu gadis tersebut akhirnya hanya bisa menurutinya saja.
“ Sebaiknya, untuk pengambilan obat tersebut kamu lakukan sendiri dan langsung berikan kepada orang yang sudah ada disini…”, perintah Casandra sambil memberikan secarik kertas kepada Vreyan berisi nama dan tempat orang yang Vreyan kira adalah klien dari Casandra.
“ Baik nona…”, ucap Vreyan patuh.
Setelah membereskan semua barang - barang Casandra, Vreyanpun segera undur diri untuk segera menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.
Tanpa mereka sadari, Arnold sedari tadi sudah mengamati interaksi keduanya dari balik layar ponselnya dengan wajah memerah menahan amarah.
Sesuai dugaannya, Vreyan yang memang sangat dekat dengan Casandra, tanpa lelaki tersebut sadari telah dipergunakan oleh gadis itu untuk mengkhianati dirinya.
“ Baik, aku ikuti permainanmu !!!...kita lihat, siapa yang akan menang disini !!!...”, guman Arnold geram.
Crystal yang baru saja kembali untuk mengambil berkas yang ketinggalan didalam apartemen sedikit terkejut mendengar gumanan suaminya.
“ Permainan apa ?...dengan siapa ?...”, tanya Crystal yang tiba – tiba sudah berada dibelakang tubuh Arnold sambil mengamati layar ponsel yang sedang diamatinya.
Tidak ingin kembali membohongi sang istri yang sudah melihat cctv di dalam apartemen Casandra, Arnoldpun mulai menjelaskan semuanya.
Crystal hanya bisa mengangguk – anggukkan kepala setelah mendengar penjelasan sang suami tentang semua rencana yang Casandra buat untuknya.
Dirinya tidak terlalu terkejut jika Casandra memiliki niat buruk terhadap dirinya, karena dimasa lalu gadis tersebut memang menjadi semua otak dibalik semua peristiwa yang terjadi pada dirinya, tanpa semua orang sadari.
“ Ok. Mari masuk dalam sandiwara yang telah mereka buat untukku…”, ucap Crystal santai.
Arnold cukup terkejut melihat sang istri dengan santainya menanggapi semuanya, seolah - olah perbuatan Casandra ini bukan lah hal yang aneh bagi Crystal.
“ Tapi kamu harus hati – hati, bagaimanapun juga Enrico itu lebih licik dari apa yang sudah kamu bayangkan…”, ucap Arnold mengingatkan.
“ Bukankah kamu akan datang menolongku jika ternyata sesuatu diluar kendaliku…”, ucap Crystal dengan senyum menggoda.
“ Sayang…”, Arnoldpun langsung mengingit gemas hidung istrinya yang dianggapnya tak serius menanggapi uacapannya.
“ Ya sudah, aku balik kantor dulu ya…”, ucap Crystal sambil mengecup pipi Arnold sekilas dan langsung melenggang pergi meninggalkan suaminya yang masih terlihat gemas terhadapnya.
Setelah kepergian istrinya Arnoldpun segera menyuruh anak buahnya yang sedari tadi sudah berada didalam apartemen untuk memberikan informasi yang telah didapatkannya.
“ Baiklah…sekarang kamu awasi Vreyan !!!...”, perintah Arnold tajam.
Entah kenapa Arnold merasa misi yang diberikan Casandra kepada Vreyan tidak lah sesimple seperti apa yang mereka bicarakan.
Bagaimanapun juga, Arnold yang sudah bekerja sama dengan keduanya tentunya cukup paham dengan pola pikir dan pergerakan mereka.
Setelah mendapatkan perintah dari Arnold, salah satu pasukan bayangan itupun langsung pergi menghilang dari hadapan sang bos untuk menjalankan misinya.
Perlahan Arnold mulai membuka amplop coklat yang baru saja diterima. Untuk kesekian kalinya dirinya kembali tertampar atas fakta yang berhasil diungkapnya.
Diapun meremas kuat kertas yang baru saja dia terima. Arnold merasa dirinya sangat bodoh hingga berulang kali berhasil di bohongi oleh Casandra seperti ini.