Love Destiny

Love Destiny
KUNJUNGAN ADOFF



Sudah dua hari lamanya Crystal terbaring lemas diatas ranjang. Arnold benar – benar membatasinya agar tidak bergerak dan melakukan kegiatan apapun.


Demi memastikan gadisnya itu benar – benar beristirahat dan makan dengan teratur Arnold rela melakukan pekerjaannya dirumah, sambil menemani Crystal diranjang.


Dokter Robert dan asistennya yang masih berada dikediaman Arnold juga masih rutin mengecek kondisi Crystal tiap satu jam sekali.


“ Dok…saya titip Crystal dulu…”, pinta Arnold sebelum dia keluar untuk menerima panggilan telepon yang terlihat sangat penting.


“ Baik tuan, percayakan pada saya…”, ucap dokter Robert menunduk patuh.


Sudah sepuluh menit berlalu namun Arnold belum juga kembali kedalam kamar membuat dokter Robert menghela nafas panjang. Beberapa kali dia terlihat melihat layar ponselnya dan mulai membalas satu persatu pesan yang masuk.


Drrtttt….


Ponsel dokter Robert bergetar, saat melihat Crystal masih terlelap dokter Robertpun berjalan keluar sambil membiarkan pintu kamar terbuka, agar pada saat Crystal bangun dia bisa tahu.


Tanpa disadari dokter Robert, sedari tadi ada seekor serigala putih yang memantau pergerakannya.


Melihat pintu kamar sedikit terbuka dan dokter Robert terlihat fokus menerima telepon, perlahan namun pasti serigala putih tersebut berjalan mengendap – endap masuk kedalam kamar Crystal.


Derit…....


Srekkk…..


Rrrrrr……


Rrrrrr…...


Perlahan Adoff berjalan mendekat kearah ranjang dimana Crystal terbaring lemas. Dilihatnya majikannya itu masih tertidur lelap dengan wajah pucat.


Setelah bebrapa saat mengamati wajah Crystal, Adoff mulai naik keatas ranjang dan sedetik kemudian dia sudah menerkam Crystal, memeluk erat tubuh munggil gadis itu agar hangat.


Tidak ada keganasan dan tatapan membunuh di wajah Adoff, yang ada hanya tatapan kecemasan seperti seekor induk serigala yang sedih melihat anaknya sakit.


Crytal yang terbangun oleh ulah Adoff terlihat terpana untuk sesaat, kemudian gadis itu mengerjapkan kedua matanya dengan cepat tanpa bereaksi.


Dia masih terdiam, mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Saat tangannya menyentuh bulu putih, lembut dan hangat, Crystal baru menyadari jika yang memeluknya kali ini adalah Adoff.


“ Adoff !!!...”, guman Crystal kegirangan.


Adoffpun mulai mengarahkan moncongnya ke leher Crystal dan menjilatinya. Crystal yang terlihat kegelianpun segera mengusap – usap kepala Adoff dengan gemas.


“ Adoff…akhirnya kamu datang juga...aku kangen…”, ucap Crystal sambil memeluk Adoff dengan erat.


Crystal pun mulai bermain bersama Adoff. Serigala putih tersebut terlihat gembira melihat majikannya tersebut sudah bisa tersenyum lebar.


Saat mencoba berdiri, Crystal yang kehilangan keseimbangan tubuhnya jatuh kelantai marmer yang dingin hingga jarum infuse yang ada ditangannya terlepas.


Namun, Adoff dengan reflex langsung meloncat turun dan berbaring dilantai sehingga tubuh munggil Crystal tidak sampai mencium lantai.


Rrrrr…rrrr…….


“ Kemana orang – orang bodoh itu ?!!!...kenapa gadis ini ditinggalkan sendirian ?!!!...”, batin Adoff  marah.


Serigala putih tersebut terus mendesah dengan wajah lesu dia mulai bangkit dan menjilati cakarnya yang tajam sambil duduk.


“ Terimakasih Adoff….”, ucap Crystal sambil menciumi wajah Adoff  dengan gemas.


Crystla yang masih terduduk dilantai didekati oleh Adoff yang seakan – akan mengisyaratkan agar Crystal naik kepunggungnya.


Meski sedikit ragu, Crystal akhirnya naik kepunggung Adoff yang membungkuk. Setelah berada diatas tubuhnya, Adoff segera melompat keatas ranjang, kembali menunduk agar Crystal bisa turun dan mulai berbaring diatas ranjang.(dalam adegan ini bayangkan tubuh Adoff sebesar serigala yang ada dalam film Twiligh jadi bisa dinaiki )


Sambil mengatur nafasnya, Crystal kembali memeluk tubuh Adoff dengan erat dan menjadikan perutnya sebagai alas kepalanya.


Tiba – tiba udara dalam kamar terasa sangat dingin dan ada pandangan tajam yang menusuk bercampur rasa membunuh yang sangat kental, membuat insting hewan buas sang serigala putih bangkit.


Adoff melirik kearah pintu kamar dimana terlihat seorang laki – laki dengan wajah yang sangat gelap karena kesal menatapnya dengan tajam.


Serigala putih tersebut tiba – tiba gemetaran dan ingin segera menjauh dari tempat ini saat ini juga.


Menghadapi wajah dingin tuannya, Adoff ingin segera pergi, namun saat serigala putih tersebut melirik gadis yang terbaring lemas yang bersandar ditubuhnya dia tak tega.


Ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi Adoff. Apakah dia harus mengikuti perintah tuannya ataukan gadis tetap menghangatkan tubuh gadis itu yang terlihat sudah terlelap dalam dekapannya.


Perlahan Arnold berjalan mendekat, mengambil kepala Crystal dari tubuh Adoff dan memindahkannya keatas bantal.


Begitu kepala Crystal sudah beralih, perlahan Adoff mulai turun dari atas ranjang saat melihat tatapan membunuh yang diarahkan Arnoild kepadanya.


Sambil menunduk, serigala putih tersebut mulai berjalan keluar dari dalam kamar bertepatan dengan dokter Robert yang masuk kedalam kamar.


Raut cemas dokter Robert tergambar jelas diwajahnya saat mendapati jarum infus ditangan Crystal tercabut dan mengeluarkan darah.


Dengan gerakan lembut, dokter Rober kembali menancapkan jarum infus ketangan Crystal dan memberikan plester agar jarum tersebut tidak kembali tercabut.


Crystal yang merasa tidurnya sedikit terganggu mulai mencari kehangatan dan menelusupkan kepalanya mendekat ketubuh Arnold yang terbaring disisinya.


Melihat hal itu, dokter Robert melalui isyarat matanya bergerak menjauh dari ranjang dan menutup pintu kamar secara perlahan agar tidak menimbulkan suara.


Arnold membetulkan posisi tidurnya dan menjadikan lengan kirinya alas kepala Crystal, membetulkan selimut yang membungkus tubuhnya dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


Perlahan, kedua mata Arnold ikut tertutup saat dia menghirup aroma tubuh Crystal yang sangat menenangkan. mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang kacau akibta kondisi gadisnya yang masih belum juga membaik.


Setelah hampir dua jam tertidur, Crystal mulai membuka matanya secara perlahan dan sedikit terkejut melihat Arnold tertidur sambil memeluknya.


" Tunggu....bukannya tadi aku tidur ditubuh Adoff....kenapa sekarang berganti Arnold....", batin Crystal binggung.


Saat ini Crystal mencoba melepas pelukan Arnold, tetapi lengan kokoh itu malah memeluk tubuhnya semakin erat.


Tak lama kemudian, lengan kokoh itu melingkar di pinggang ramping Crystal membuat tubuh gadis itu terbawa kedalam pelukan dingin namun terasa hangat bagi Crystal.


Mata Arnold yang tadinya tertutup akhirnya terbuka, menampilkan iris hitam yang sangat pekat dan gelap.


Tatapannya tampak menyapu wajah Crystal dan tangan besarnya mulai mengelus wajah sang gadis dengan lembut, seolah memegang sebuah gelas kaca yang mudah pecah.


" Apa yang kau rasakan ?....", tanya Arnold dengan tatapan cemas.


" Tubuhku terasa lemas...", ucap Crystal sendu.


" Istirahatlah....", perintah Arnold sambil menarik tubuh gadisnya agar kembali tertidur dalam dekapannya.


Crystal yang tak memiliki tenaga akhirnya hanya bisa pasrah menuruti keinginan Arnold yang sudah menepuk - nepuk punggungnya pelan untuk menina bobokannya.