
Suasana café yang tidak terlalu ramai, music yang menenangkan jiwa dan semilir angin yang berhembus siang ini membuat rasa penat yang ada seakan menguar entah kemana.
Ketiga sahabat yang sudah lama tak bersua tersebut terlihat berbincang dengan riang gembira. Mereka membicarakan semua hal yang ada.
Mulai dari obrolan ringan seputar kegiatan sehari – hari hingga gossip artis dan orang penting di negeri ini tidak ada habisnya jika dikulik menjadi bahan gibahan mereka siang hari ini.
Crystal yang pada awalnya masih tersenyum lebar tiba – tiba saja mulai berkeringat dingin waktu merasakan perut bagian bawahnya terasa sangat sakit.
Pada awalnya dia berusaha untuk menahan rasa sakit tersebut agar kedua sahabatnya tidak khawatir. Namun suara rintihan yang sedari tadi berusaha untuk ditahannya akhirnya lolos juga dari bibir mungilnya, membuat Vely dan Lea menatap Crystal dengan wajah cemas.
“ Kamu kenapa ?...”, tanya Vely cemas.
Dia segera menghapus keringat yang muncul dikening Crystal dengan tisu yang ada diatas meja. Sementara itu Crystal terus saja memegangi perutnya sambil merintih kesakitan.
“ Cepat, kita haru bawa Crystal kerumah sakit sekarang !!!...”, ucap Lea panik saat melihat wajah Crystal semakin bertambah pucat.
Diapun segera membantu Crystal berdiri dan menuntunnya masuk kedalam mobil. Vely dan Lea semakin panik saat melihat darah mengalir di kaki Crystal.
Bukan hanya keduanya yang terlihat panik, Crystalpun mulai menangis waktu melihat darah segar semakin banyak mengalir dikakinya.
“ Tenang…jangan panik…semua akan baik – baik saja…”, ucap Vely berusaha membesarkan hati Crystal sambil membantunya duduk di kursi penumpang.
Crystal hanya mengangguk sambil berderai air mata. Saat ini dia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada kehamilannya yang baru memasuki usia lima bulan itu.
Setelah Crystal dan Vely sudah masuk kedalam mobil, Lea segera memacu kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Arnold yang mendapatkan kabar dari Vely jika sang istri mengalami pendarahan langsung bergegas menuju rumah sakit tempat dimana Crystal berada dengan perasaan kacau.
Dalam hati Arnold bertekad, ini terakhir kalinya dia melepaskan sang istri sendirian tanpa pengawasan langsung darinya.
Lain kali, dia sendirilah yang akan langsung menemani sang istri kemanapun Crystal pergi hingga istrinya itu melahirkan.
Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk sehingga dapat membahayakan nyawa istri dan anak yang ada dalam kandungannya.
Sesampainya dirumah sakit, Arnold segera berlari menuju ruang rawat dimana istrinya berada dengan wajah sangat cemas.
Emily dan dua orang bodyguard yang bersamanya hanya mampu mengikutinya dari belakang sambil mengawasi sekitarnya, memastikan bahwa ruangan yang dipergunakan oleh nyonya mudanya aman dan merupakan ruangan yang terbaik yang ada dirumah sakit tersebut.
Wajah Lea dan Vely langsung pucat begitu Arnold memasuki ruang rawat sang istri dengan wajah penuh amarah melihat Crystal tergolek lemas diatas ranjang rumah sakit.
“ Jangan marahi mereka…aku tidak apa – apa…”, ucap Crystal lirih.
Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Arnold saat memasuki ruang rawat inapnya itu, Crystal sangat yakin jika suaminya itu akan langsung mendamprat sahabatnya yang dianggap telah lalai menjaganya hingga hal buruk tersebut terjadi.
Mendengar ucapan Crystal, Arnoldpun mulai memejamkan kedua matanya dengan tangan terkepal, berusaha menahan emosi yang mulai menguasai dirinya.
Setelah agak tenang, diapun segera bergegas duduk disamping ranjang sang istri yang terbujur lemas diatas ranjang.
“ Mulai sekarang, kamu tidak diijinkan untuk pergi tanpa aku dampingi… ”, ucap Arnold dengan tatapan tajam.
“ Menurutlah !!!...”, Arnold kembali berkata dengan tegas waktu sang istri hendak menginterupsi ucapannya.
Melihat suara suaminya sedikit bergetar, Crystal sadar jika suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya. Dengan satu tangannya yang bebas, Crystal mengusap kepala Arnold dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mendengar ucapan istrinya, Arnold tidak bisa menahan rasa harunya. Diapun menatap sang istri dengan kedua mata berkaca – kaca sambil beberapa kali mengecup punggung tangan Crystal dengan penuh perasaan.
Semua orang yang ada dalam ruangan ikut terharu melihat adengan yang ada dihadapan mereka saat ini. Vely dan Lea sekarang mengerti kenapa Arnold begitu protektiv terhadap sahabatnya itu.
Jika jadi Arnold, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suami Crystal tersebut melihat betapa lemahnya kandungan sahabatnya itu.
Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Crystal terpaksa harus dirawat kembali sekitar dua sampai tiga hari di rumah sakit hingga kondisinya benar – benar pulih.
Hal tersebut dilakukan demi menghindari hal buruk terjadi mengingat betapa lemahnya kandungan Crystal saat ini.
Arnoldpun mulai memindahkan pekerjaannya dirumah sakit sambil menunggui sang istri. Abraham dan Selvi yang mendapatkan kabar jika sang putri kembali masuk rumah sakit langsung datang untuk menjenguk.
“ Bagaimana keadaan cucu nenek ?...”, tanya Selvi begitu masuk kedalam ruang rawat Crystal dengan wajah cemas.
“ Cucu mama baik-baik saja. Maaf sudah kembali membuat mama khawatir…”, ucap Crystal dengan mata berkaca – kaca.
“ Sudah mama bilang, jangan kecapekan dan makan yang aneh – aneh dulu…”, omel Selvi sambil mengusap peluh didahi Crystal dengan telapak tangannya.
Mendengar ucapan sang mama Crystal baru sadar jika dirinya tadi sempat mencoba jus semangka nanas milik Lea tadi saat berada di cafe.
“ Apa gara – gara minuman tadi aku jadi pendarahan…”, batin Crystal gelisah.
Melihat raut wajah sang putri yang sedikit mencurigakan, Selvipun memicingkan satu matanya menatap Crystal yang sudah mulai salah tingkah ditatap sang mama sedemikian rupa.
“ Apapun itu…tolong, jangan ulangi lagi…”, ucap Selvi pelan.
Dia tidak mau Arnold mendengar ucapannya terhadap Crystal yang hanya mengangguk dengan wajah penuh rasa bersalah.
“ Baiklah…kandunganmu itu lemah, jadi harus benar – benar kamu jaga. Vitamin dari dokter juga jangan sampai telat diminum…”, Selvi kembali mengomeli Crystal panjang kali lebar.
Karena merasa bersalah, Crystalpun hanya diam sambil mengangguk mendengar semua nasehat yang diucapkan oleh sang mama.
Arnold hanya bisa menghembuskan nafas lega melihat bagaimana Selvi mengomeli sang istri dengan kalimat yang sedari tadi sudah hendak dia ucapkan.
“ Untung ada mama yang mewakiliku hingga ku tak perlu marah kepadanya…”, batin Arnold puas.
Tampaknya tidak berhenti di Selvi saja, Elisabeth yang mendengar Crystal masuk rumah sakit karena pendarahan langsung melakukan panggilan video.
Nenek Arnold tersebut memberikan nasehat yang cukup panjang kepada Crystal dan tentunya juga memarahi sang cucu yang dianggap tidak becus menjaga sang istri hingga hal buruk tersebut terjadi.
Keduanya hanya bisa memasang telingga lebar – lebar mendengarkan petuah yang diberikan oleh mertua dan nenek tersayangnya.
“ Arnold, jaga istrimu baik – baik…jika masih bandel, hubungi mama…”, ucap Selvi tajam.
Crystal hanya bisa nyegir kuda mendengar ucapan sang mama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan sang suami yang berada disamping terlihat tersenyum puas melihat mertuanya mendukung tindakannya.
“ Tentu saja ma…aku akan jaga istri dan anakku dengan sepenuh hati…”, ucap Arnold berjanji.
Mendengar ucapan sang menantu, Abraham dan Selvipun merasa sangat lega. Dia sangat berharap Crystal dan bayi yang ada dalam kandungannya itu akan tetap sehat hingga waktu melahirkan telah tiba.