Love Destiny

Love Destiny
Epson 200



Di kamar Niken wanita itu langsung memberikan selimut dan bantal kepada Nathan tanpa banyak bicara, Nathan yang menerima itu merasa bingung.


"Tu_tunggu ini apa nih maksudnya?" Tanya Nathan.


"Tidur di luar." Ucap Niken datar.


"What?" Pekik Nathan tidak percaya.


"Apa, kenapa mau protes?" Sinis Niken membuat Nathan terbelalak, kenapa Niken jadi menyeramkan seperti ini.


"Sa_sayang aku gak ngapa-ngapain beneran, aku gak macem-macem kok cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cinta." Ucap Nathan mencoba merayu.


"Aku gak peduli, mau kamu yang tidur di luar atau aku yang tidur di luar." Ujar Niken menatap tajam suaminya.


Nathan sedikit berfikir, dan ia tidak mungkin membiarkan istrinya kecil nya keluar dari kamar. Susah payah Nathan mengambil hati Niken selama ini, masa hanya karena seperti ini ia harus memberi luka baru lagi di hati istrinya.


"Yasudah aku yang keluar, kamu disini aja. Tapi aku mau peluk kamu dulu boleh ya." Ucap Nathan.


"Gak ya gak ada peluk-peluk, intinya mulai hari ini kamu puasa dari jatah kamu." Ucap Niken lagi, semakin membuat Nathan frustasi.


"Kamu benar-benar memberikan hukuman berat." Ucap Nathan memelas.


"Gak usah sok melas gitu, wajah kamu jelek." Ucap Niken, sementara Nathan hanya mendengus saja.


"Kamu yakin nih tega biarin aku tidur di luar." Ujar Nathan.


"Yakin lah, kamu juga kan yakin buat goda-goda cewek itu." Sindir Niken.


"Sayang aku gak ngapa-ngapain cuma bilang dia cantik." Ucap Nathan membuat Niken kesal.


"Ia dia cantik, dan kamu suka udah kamu puas." Ucap Niken.


"Kamu juga bilang si barisan ganteng." Ucap Nathan.


"Ya faktanya dia memang ganteng." Balas Niken.


"Iya dia ganteng dan kamu suka, puas." Ucap Nathan membalikan perkataan Niken.


"Setidaknya aku tidak menggoda dia." Ucap Niken melengos, wanita itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara Nathan berjalan keluar kamar dengan lesu, ia benar-benar kesal karena diberikan hukuman yang benar-benar menyiksa nya.


Sementara di kediaman Alexander tepatnya kediaman Tio dan tata, seorang lelaki tengan duduk di hadapan istri nya yang memegang panci pink berukuran kecil.


Rasanya ia terkena karma karena selalu meledek Kean yang berkata ia takut jika Dena akan melempar panci pink terhadap nya, dan saat ini istrinya lah yang sedang memegang panci pink.


"Tadi aku dengar kamu bilang rasa sayange rasa cinta." Ucap tata, membuat Tio mendongak.


"Enggak, kamu salah dengar kali." Balas Tio mencoba mengelak.


"Kamu kira aku Bud*k, kamu gak pernah tuh gombalin aku kaya gitu. Tapi kenapa kamu berani gombalin cewek lain kaya gitu." Sinis tata.


"Sayang aku cuma becandaan serius, aku enggak beneran kok." Ucap Tio.


"Kamu tau enggak rasanya liat suami sendiri ngomong gitu ke cewek lain gimana, kamu mau aku geplak itu pala cewek nya pake panci pink ini." Ucap tata, membuat Tio menahan tawa nya.


"Geplak aja gak apa-apa, orang dia bukan siapa-siapa aku." Ucap Tio.


"Salah, harusnya yang aku geplak bukan dia tapi pala kamu." Ucap tata sukses membuat Tio terbelalak.


"Yang benar saja, kamu tega buat bikin suami tampan kamu benjol." Ujar Tio.


"Kalau gak mau benjol ya jangan main gombalin cewek sembarangan, untung laki gue Lo. Untung gue cinta, kalau kaga udah gue geplak hidung Lo dari tadi." Ucap tata, membuat Tio menarik tubuh istrinya.


"Lepas ya, gak ada peluk-peluk." Kesal tata.


"Aku enggak serius sayang, aku cuma becanda. Buat dapetin kamu aja susah yakali aku mau berpaling gitu aja kan gak lucu." Ucap Tio, membuat tata mendecih.


"Kamu pas aku lagi ngamuk doang romantis nya, besok-besok aku mau ngamuk tiap hari aja biar di romantisin." Sindir tata.


"Mana ada, tiap hari aku romantis sama kamu." Ucap Tio.


"Enggak, aku gak mau tidur kepisah sama kamu." Ucap Tio menolak.


"Tapi aku gak mau tidur satu kamar, aku takut tengah malam kamu bikin aku lupa sama rasa kesal aku." Ucap tata melepaskan pelukan suaminya, ia berjalan masuk kedalam kamar meninggalkan Tio yang masih duduk di sofa.


"Yakali gue harus main solo." Gumam Tio frustasi, ia benar-benar bingung harus berbuat apa agar tata mau memaafkan nya.


Dan di kediaman Matthew lebih tepatnya kediaman Chika dan Devin, kini lelaki itu sedang memelas agar Chika tidak menghukum nya.


Devin begitu terkejut saat Chika meminta Devin untuk tidur di kamar putrinya yaitu Devika, namun Chika tidak menghiraukan suaminya.


"Ini balasan dari hukuman yang dulu kamu kasi ke aku, sampai bikin jalan aku kaya pinguin abis sun*t." Ucap Chika.


"Kenapa gak dikasi hukuman yang sama si." Kesal Devin.


"Ya enggak lah, keenakan kamu kalau begitu. Bukan kamu yg dihukum malah aku yang kena hukum nantinya." Ucap Chika.


"Sayang aku gak mau pisah kamar." Ucap Devin.


"Kalau gak pisah kamar tangan Lo gak punya ad*b Devin, nanti paginya pinggang gue tiba-tiba encok." Ucap Chika.


"Ya gak apa-apa lah buat suami." Ucap Devin.


"Gak ya gak, Lo mah kebiasaan suka anu gak ngomong. Gak bisa pokonya malam ini Lo tidur di kamar Devika." Ucap Chika.


"Devika emak nya ngeselin banget." Adu Devin kepada putrinya.


"Diem ih, sana keluar." Ucap Chika, kini wanita itu pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian nya.


Sementara Devin menggerutu kesal karena harus berpuasa, dan ia berjanji kalau Chika sudah tidak marah lagi ia akan menggempur istrinya tanpa ampun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: Segini dulu ya guys, Mon maap kalau kalian kurang puas 😌


N: Gak apa-apa Thor, jangan terlalu maksain ya 🤗


A: Makasi Uun Lo emang terdabest 😂


N: Uuuuwwww🤗😂


**A: 😂😂😂***