Love Destiny

Love Destiny
HARI YANG CERAH



Suasana hati Arnold hari ini sangat bagus setelah karena dia sudah bisa memiliki sang istri seutuhnya lewat penyatuan yang mereka lakukan pagi ini.


Meski tak menampilkan senyum di wajahnya, namun aura yang terpancar disekitarnya cukup membuktikan bahwa laki – laki tersebut dalam suasana hati yang bahagia.


Hal itu tentu saja membuat semua orang ikut berbahagia, dan mereka semua berharap agar kebahagiaan tersebut bisa berlangsung selamanya hingga suasana rumah tidak kembali menjadi suram.


Hal itu berbeda dengan Crystal yang  pagi ini terlihat sangat lesu dan tak bertenaga. Bagaimana tidak, pagi ini Arnold membuatnya benar – benar kelelahan dengan olah raga pagi yang dilakukan oleh suaminya itu.


Belum habis disitu, pada saat mandi suaminya itu minta tambah lagi. Meski menolak keras, namun tubuhnya yang seakan mengkhianatinya membuat Crystal terpaksa mengikuti nafsu suaminya yang dirasa sangat tinggi itu.


Sambil menahan rasa sakit diarea intinya, Crystal berjalan turun sambil tertatih karena perutnya kembali keroncongan. Padahal satu jam yang lalu Crystal baru saja selesai sarapan dan memakan camilan yang dibawa pelayan kedalam kamar.


Tapi tampaknya asupan kalori yang masuk kedalam tubuhnya tidak sebanding dengan tenaga yang dia keluarkan karena keganasan Arnold pagi ini.


Crystalpun berjalan perlahan  menuju meja makan sambil meringis, menahan rasa sakit yag ada. Namun dia tetap berusaha tersenyum agar tidak membuat semua orang khawatir, terutama Elisabeth yang terlihat duduk manis dimeja makan.


“ Jika tiap hari kaya gini, bisa remuk nich badan….”, guman Crystal sedikit jengkel.


Elisabeth dan Emily yang tanpa sadar mendengar gumanan Crystal hanya tersenyum tipis. Namun mereka kembali fokus pada makananan yang ada dihadapan mereka masing - masing sambil pura – pura tidak mendengar ucapan Crystal agar gadis itu tidak merasa malu.


“ Dasar, anak itu !!!...”, batin Elisabeth geram waktu melihat cucu menantunya sedikit kesulitan dalam berjalan akibat ulah cucu kesayangannya.


Elisabeth memandang iba kearah Crystal yang terlihat sedang menahan rasa sakit dibagian bawah tubuhnya. Diapun kemdian berbisik kepada Emily agar mengambilkan obat pereda nyeri untuk cucu menantunya itu.


“ Tuan muda hebat juga ternyata…”, batin Emily bangga.


Meski dia sudah bisa menduga jika hal ini akan terjadi, namun Emily sama sekali tak menyangka jika tuan mudanya akan seliar itu hingga membuat istrinya kesulitan untuk berjalan.


Sambil menggeleng - gelengkan kepalanya, Emilypun segera mengambil obat yang diminta oleh Elisabeth dan segera memberikannya kepada Crystal, berharap obat tersebut dapat menghilangkan rasa sakit yang untuk sementara waktu.


“ Terimakasih…”, ucap Crystal sambil tersenyum.


Diapun segera memakan obat tersebut setelah menghabiskan makanan yang ada diatas piringnya, sambil tersenyum manis kearah Elisabeth agar sang nenek tidak khawatir kepadanya.


Sementara itu, Arnold yang sedang  keluar bersama dengan Vreyan merasa telinganya terus berdengung sejak tadi akhirnya mulai memegangi telinganya dan menggosok – nggosoknya dengan tangannya, berharap denggungan tersebut segera hilang.


“ Kenapa bos ?...”, tanya Vreyan melihat Arnold terus memegangi telinganya.


“ Nggak tau…sejak tadi berdengung terus…”, ucap Arnold, kembali menggosk - nggosokkan telinga kanannya dengan jari.


“ Ada orang yang ngomongin bos tu…”, ucap Vreyan santai.


“ *Itu hanya m*itos …”, ucap Arnold tak percaya.


“ Yaelah si bos ni ya....dikasih tahu malah nggak percaya…”, ucap Vreyan santai dan kembali memfokuskan pandangannya kedepan.


Meski terlihat acuh, namun Arnold ternyata kepikiran juga dengan ucapan Vreyan tadi.  Tiba - tiba bayangan sang istri muncul dikepalanya.


" Apakah Crystal yang sedang membicarakanku ?....", batin Arnold penasaran.


Diapun segera mengambil ponseldari skau jasnya dan segera memencet tombol untuk menghubungi sang istri yang sudah dirindukannya.


“ Sayang…bagaimana kondisimu ?…”, tanya Arnold lembut.


“ Menurutmu ?...”, ucap Crystal jutek.


“ Maaf, jika aku terlalu kasar tadi…”, ucap Arnold tersenyum tipis waktu membayangkan keganasannya pagi tadi.


Cukup lama keduanya terdiam, tanpa ada satupun yang bersuara. Crystal yang masih sebal dengan kelakuan suaminya itu hanya meletakkan ponselnya disamping laptop dan kembali fokus pada benda kotak yang ada dihadapannya itu.


Arnold yang merasa jika istrinya masih marah akhirnya mencoba mengalah dan mencairkan suasana yang sempat kaku.


“ Ya sudah…kamu istirahat saja dirumah. Jika ada sesuatu atau kamu ingin apa, bisa langsung hubungi aku…”, ucap Arnold perhatian.


“ hmmm….”, hanya itu balasan Crystal sebelum telepon ditutup.


Vreyan yang melihat virus kebucinan semakin melanda bosnya hanya bisa menarik nafas dalam – dalam. Setidaknya, dia bisa ikut bahagia melihat rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Arnold hari ini.


Dalam hati, Arnold sebenarnya merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengendalikan hewan buas yang ada dalam tubuhnya hingga membuat istrinya kesakitan seperti itu.


Jika tidak melihat betapa pentingnya pertemuan hari ini, mungkin Arnold akan memilih untuk menemani Crystal dirumah saja dan memanjakannya, menebus kesalahan yang telah diperbuatanya tadi pagi.


Sementara itu didalam kamarnya, Crystal terlihat sedang sibuk menulis laporan pertanggung jawaban terhadap proyek yang dikerjakannya bersama professor Stevanus dan tim.


Dia juga mulai  mengerjakan beberapa tugas dari mata kuliah yang sedang diikutinya agar mendapatkan nilai maksimal.


“ Sial…kenapa badanku masih sakit banget…”, gerutu Crystal sambil berusaha menahan rasa nyeri yang kembali hadir.


Diapun segera mengambill ponselnya untuk menghubungi Emily dan meminta tolong kepadanya agar membawakannya obat pereda rasa nyeri.


“ Nona harus tunggu minimal dua jam dulu baru bisa minum obat lagi…”, saran Emily waktu tiba didalam kamar Crystal.


“ Ini sudah satu jam, sepertinya tidak akan ada masalah. Lagipula, aku sudah tidak  kuat menahan rasa nyeri ini…”, ucap Crystal yang langsung mengambil obat yang dibawa oleh Emily dan langsung meminumnya.


Emily hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah menghadapi sikap keras kepala Crystal tanpa bersuara. Tak lama kemudian, jemari gadis itu sudah kembali menari – nari diatas keyboard, menyelesaikan semua tugasnya yang tertunda.


 Disela - sela mengerjakan tugasnya, tak lupa Crystal juga mengecek serta membalas email yang masuk agar kinerja Alvin dan Andrew bisa maksimal.


Semua Crystal kerjakan dari rumah, dengan kondisinya yang seperti ini sangat tak memungkinkan bagi dirinya untuk keluar dan beraktivitas seperti biasa.


Andrew hanya bisa membulatkan kedua  matanya waktu melihat balasan email dari Crystal sambil menggerutu tak senang.


“ Bukankah seharusnya mereka berbulan madu saat ini...kenapa masih sibuk bekerja ?…”, gerutu Andrew sambil mencatat tugas apa saja yang diberikan oleh Crystal untuk dikerjakannya hari ini.


“ Sudah...jangan menggerutu. Cepat kerjakan sebelum kena semprot lagi....”, ucap Rose  tersenyum jail.


" Apa kamu nggak ada niat untuk membantuku gitu ?... ", tanya Andrew penuh harap.


" Tugasku juga banyak...nich...", ucap Rose sambil memperlihatkan berkas menumpuk yang ada dihadapannya.


" Semangat !!!....", ucap Rose sambil mengepalkan tangannya keatas dengan tersenyum.


Andrew hanya bisa tersenyum masam menanggapi ucapan Rose yang baginya terlihat seperti ejekan itu. Diapun segera fokus untuk mengerjakan semua tugas yang ada didepan matanya.


" Hufff...nasib - nasib punya bos gila kerja kaya gini....", ucap Andrew sambil menghembuskan nafas secara kasar.


Rose hanya bisa menatap sahabatnya itu dengan pandangan iba. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa - apa selain menyemangati rekan kerjanya itu, mengingat tugas yang harus diselesaikannya pun juga cukup banyak.


“ Ternyata nona Crystal lebih parah jika dibandingkan dengan  tuan Abraham…”, batin Rose bergidik ngeri melihat banyaknya tugas yang harus Andrew selesaikan hari ini.


Untung saja Abraham tidak memilihnya menjadi assisten Crystal waktu itu dan melimpahkan tugas tersebut kepada Andrew.


Jika tidak, maka dia akan mengalami nasib yang sama sepeerti Andrew sekarang. Mengingat Crystal termasuk orang yang perfeksionis dan tegas jika menyangkut masalah pekerjaan.