Love Destiny

Love Destiny
MEMANCING KEMARAHAN IBLIS KECIL



Sikap formal dan dingin yang ditampilkan oleh Casandra dihadapan semua orang seketika lenyap dan berubah menjadi lebih hangat.


Tatapan matanyapun  juga berubah menjadi lebih lembut saat manik coklatnya itu menatap ke arah  Arnold. Ada jejak kekaguman yang sangat besar disana.


“ Arnold…aku sudah menyelesaikan semua permasalahan yang muncul di ibukota. Aku akan membicarakan detailnya denganmu, malam ini…”, ucap Casandra sangat lembut.


Tentu saja perubahan itu membuat Crystal sedikit terkejut, namun dia berupaya untuk mengacuhkan semua itu dan menenangkan hatinya.


“ Terimakasih…”, ucap Arnold acuh dan kembali mengarahkan pandangan matanya kearah Crystal yang berdiri disampingnya.


“ Apa hanya itu yang ingin kamu ucapkan?...apakah kamu tidak ada keinginan untuk memberiku hadiah ?...”, Casandra mengedipkan satu matanya mengoda.


Tanpa banyak bicara, Arnold segera melirik Emily agar segera mengeluarkan sebotol anggur yang sudah berumur puluhan tahun dari dalam tas yang dibawanya.


“ Wow…anggur yang sangat indah. Aku sudah berkeliling dunia mencari yang jenis ini, namun sangat langkah. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya ?...”,  Casandra menerima sebotol anggur merah tersebut dengan mata berbinar.


Melihat Arnold melirik Emily, Casandra hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya sambil berdecak tak senang.


“ Kamu menyiksa Emily untuk mencari ini?...”, ucap Casandra tak percaya.


Mereka bertigapun mulai berbincang dengan akrab, meski pandangan Arnold tak pernah lepas dari Crystal. Namun semua itu tak disadari oleh Crystal yang sedikit larut dalam pikirannya.


HIngga suara derap langkah kaki yang cukup berisik menuju ruang tamu membuat semua orang yang berada disana seketika menoleh dan melihat siapa yang datang.


“ Nona Casandra !!!....kapan anda datang ?!!!...”, teriak Vreyan gembira dan  berlari mendekat.


“ Belum lama ini…oya, aku dengar kamu mulai belajar olah raga tinju?...apa kamu mau sparing denganku ?...”, tanya Casandra bersemangat.


“ Yakin ?...”, Vreyan tersenyum mengejek.


“ Sangat yakin!!!...kali ini aku pasti akan mengalahkanmu !!!...”, ucap Casandra congkak.


Mereka berduapun langsung terbahak, namun sedetik kemudia telingga kedua terasa sakit saat Elisabeth menjewer daun telinga keduanya dengan keras.


“ Dasar anak nakal!!!…baru tiba sudah ingin bertarung !!!...kamu itu wanita !!!...dan kamu juga Vreyan, jangan selalu menanggapinya !!!...”, Elisabeth mengeluh dengan ekspresi kesal , tapi dalam nada suaranya sama sekali tidak tersirat kemarahan.


Setelah capek mengomeli keduanya,  wanita tua itu berjalan sambil menggeleng – gelengkan kepalanya,menuju dapur untuk melihat persiapan makan malam.


Melihat keduanya hendak bertarung di bagian tenganh ruang tamu, Crystal mengikuti Arnold duduk di sofa yang ada didekat meja kayu jati dengan ukiran naga di empat kaki meja.


Sedangkan Casandra sudah mempersiapkan kuda – kudanya untuk bertarung melawan Vreyan yang terlihat baru saja melepas jaket kulit berwarna hitam yang sedari tadi dipakainya.


Sejak pertemuan tadi Casandra sudah menyiratkan bahwa hubungan dirinya dengan Elisabeth, Arnold, Emily, dan Vreyan sangatlah dekat dan membiarkan Crystal sadar jika tidak ada tempat untuk dirinya di kediaman utama ini.


Itulah yang dulu dilakukan Casandra kepadanya, terus menekan Crystal hingga gadis itu tidak percaya diri dan merasa putus asa, sendirian dan terisolasi dalam keramaian.


Namun itu adalah Crystal yang dulu, yang masih bodoh dan lugu serta kehilangan jati diri karena otaknya telah dicuci oleh Adisty.


Tapi setelah bangkit dari kematian, Crystal hanya perlu memegang satu orang untuk mengendalikan dan membuatnya tunduk kepadanya, yaitu Arnold.


Crystal menyangga dagunya ditangan dan mulai menatap Arnold untuk melaksanakan ide yang melintas dikepalanya.


“ Sayang…aku ingin makan kuaci…”, guman Crystal pelan.


Arnold yang yang sedikit melamun tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Crystal hingga gadis itu kembali berkata untuk menarik atensi tunangannya.


“ Aku ingin makan kuaci, tapi jemari tanganku sangat lelah seharian menari diatas keyboard. Bisakah kau mengupaskannya untukku ?...please… ”, ucap Crystal dengan tatapan puppy eyes andalannya.


Meski Arnold merasa ada yang aneh dari sikap yang ditunjukkan oleh tunangannya itu, namun entah kenapa dia sangat senang dengan sikap manja yang di tunjukkan Crystal kepadanya. Seakan hal itu sudah dinanti - nantikannya sejak lama.


Sementara itu, Vreyan sedikit terganggu saat mendengar ucapan Crystal barusan. Sebagai orang yang ahli dalam ilmu beladiri, pemuda itu tentunya memiliki penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam.


Meskipun dia sedang bertarung sambil berdebat dengan Casandra, dia mendengar dengan sangat jelas sekali setiap kata yang diucapkan oleh Crystal kepada Arnold.


“ Beraninya dia !!!...dia benar – benar ingin tuan muda melakukan sesuatu seperti itu !!!...”, guman Vreyan sambil mengertakan giginya dengan keras.


Gerakan pemuda itu  tiba – tiba kacau dan kemarahan yang sempat ditahannya sedari tadi akhirnya tak terbendung, darahnya kembali mendidih mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Crystal.


“ Vreyan !!!...jangan gegabah !!!...”, Casandra melotot untuk menghentikan langkah Vreyan yang hendak mendekat ke tempat dimana Crystal dan Arnold berada.


“ Nona…, kenapa anda mencoba menghentikan saya ?...apa anda tidak mendengar semua yang diucapkannya tadi ?...dan anda tidak marah sama sekali ?....”, Vreyan menghentakkan tangannya dengan kasar.


“ Dengan status Arnold sebagai tuan muda pewaris keluarga Lincoln, sangat normal baginya untuk memiliki beberapa wanita disisinya…”, ucap Casandra sok bijak.


“ Tapi nona…wanita ini berbeda…”, Vreyan membantah dengan cemas.


Mendengar ucapan Vreyan, ekspresi wajah Casandra berubah menjadi dingin dan ada sirat ketidak senangan disana, namun semua itu ditekannya kuat – kuat dan berusaha untuk kembali tenang.


“ Apanya yang berbeda ?...Vreyan, ingat ini…dia sama sekali tidak berbeda dengan wanita lainnya. Dan kamu tidak perlu melakukan kesalahan yang tidak perlu untuknya !!!...”, ucap Casandra sambil menenangkan  hatinya yang mulai bergejolak.


Vreyan ingin membantah, namun melihat raut wajah Casandra yang suram pada akhirnya dia terdiam meski hatinya terasa sangat dongkol.


“ Bagaimana bisa ?....”


“ Tuan muda sudah mengupas dua genggam kuaci untuknya…”


“ Dan…wanita iblis itu masih belum puas !!!...”


“ bagaimana bisa tangan tuan muda yang lembut digunakan untuk mengupas biji kuaci yang sangat kecil itu…”, batin Vreyan penuh amarah.


Pada awalnya  Vreyan tidak terlalu perduli dengan Crystal karena menganggap bahwa tuan mudanya hanya menjadikannya sebagai mainan saja, jika sudah bosan maka akan segera dibuangnya.


Tapi siapa yang tahu jika Arnold benar – benar membawa Crystal untuk menemui Elisabeth dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya.Mengetahui hal tersebut, Vreyan merasa dirinya hampir meledak karena marah.


Sementara itu, Crystal memperhatikan dengan intens Arnold mengupas kuaci tersebut satu persatu. Jari – jari ramping itu memaksa membuak kuaci dengan cepat dan menjatuhkannya kedalam mangkok porselen putih kecil yang indah.


Semakin banyak Arnold mengupas, dia semakin terlihat menggoda dan sexy. Crystal merasa dunia sangat tidak adil.


Bagaimana ada makhluk yang sangat sempurna seperti ini. Dia bisa terlihat begitu mempesona dan menakjubkan hanya dengan mengupas kuaci.


Merasakan ada yang menatapnya, Arnold segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan mengangkat kepalanya.


Crystal yang sedang menatap jemari Arnold yang tiba – tiba berhenti bergerak untuk mengupas kuaci merasa tidak senang.


“ Kenapa dia berhenti ?...ini masih belum cukup !!!...”, batin Crystal sedikit kesal.


Tanpa menunggu persetujuan, Arnold dengan cepat menyambar bibir munggil Crystal dan mengecupnya singkat. Mata Crystal terbuka lebar dan berkedip – kedip dengan cepat, mencerna apa yang barus saja terjadi.


“ Siapa yang mengijinkanmu…menatapku seperti itu…”, ucap Arnold dengan suara rendah.


Saat mengucapkan hal itu, bibir Arnold masih sedikit menempel dibibir Crystal. Melihat gadisnya masih bengong Arnoldpun kembali mengecup bibir munggil itu beberapa kali sebelum akhirnya ********** dengan lembut.