
Di sebuah perusahaan besar tepatnya di gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, seorang lelaki terlihat mengeraskan rahangnya.
Ia merasa marah saat mengetahui bahwa istrinya di peluk oleh laki-laki lain, sekalipun ia tahu kalau istri tercinta sudah memberontak dan menolak.
"Belum kapok rupanya, apa membuat keluarga mu hanc*r saja tidak cukup." Gumam nya.
Keanu Kavindra Richard, lelaki itu mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal berisi foto David yang sedang memeluk istrinya, bukan hanya foto itu juga berisi video saat Dena memberontak.
Dengan cepat Kean menyelesaikan pekerjaan nya, ia tidak sabar ingin buru-buru pulang untuk melihat keadaan istrinya.
Sementara di kediaman Richard Dena mengurung diri sejak tadi, ia tidak menyangka kalau dirinya akan di peluk lelaki lain saat status nya sudah menjadi seorang istri.
Hal itu cukup melukai hati dan harga dirinya, Dena merasa bersalah kepada Keanu. Ia tajuk jika Kean akan marah, namun kali ini Dena yakin jika Keanu pasti marah.
"De." Panggil Karen, kakak ipar nya itu tahu apa yang terjadi kepada Dena.
Karena tadi saat Dena dan Niken sampai Dena tidak berbicara apapun, dan langsung pergi ke kamar nya.
Niken menceritakan apa yang terjadi, Niken merasa bersalah karena tidak bisa membantu Dena. Ia sibuk menyembunyikan wajah Rafael dari tatapan David.
Bahkan Dena melupakan Rafael yang sejak tadi bersama Niken, sampai saat ini putranya itu sedang tidur di kamar Niken bersama dengan Nathia.
"De, ini kakak buka sayang." Ucap Karen.
Dena tetap tidak memberikan respon apapun, ia mengurung dirinya dengan keadaan gelap. Dena benci saat mengingat ia dan Keanu berlumuran darah, Dena benci saat mengingat Kean hampir kehilangan nyawa karena menyelamatkan dirinya.
Sore hari Keanu pulang dari kantor, ia melihat keadaan rumah yang begitu sepi dan tidak seperti biasanya. Kali ini Kean tidak melihat El sedang bermain, Kean berjalan menaiki anak tangga.
"Yan, kamu sudah pulang?" Tanya Karen.
"Iya kak, baru saja." Jawab Keanu.
"Syukurlah." Ucap Karen, membuat Keanu mengernyit heran.
"Loh memang nya kenapa?" Tanya Keanu.
"Dari siang tadi Dena ngurung di kamar gak mau keluar." Ucap Karen membuat mata Keanu tiba-tiba memerah, mengingat kejadian siang tadi.
(Baj*Ngan, bahkan karena kau kembali dalam hidup istri ku. kau membuat nya seperti ini. Kau membuat dia mengingat masalalu yang mengerikan, dan membuat luka mendalam di hati nya. Aku tidak akan melepaskan mu.) Batin Keanu.
"Biar aku yang membujuk nya." Ucap Kean tersenyum.
"Iya tolong ya yan, kakak gak tau lagi mau gimana. Bahkan sejak siang Dena gak mau makan." Lirih Karen.
"Iya, kakak tenang aja." Ucap Keanu.
Kini lelaki itu berjalan ke kamar nya, ia mencoba mengetuk pintu kamar Dena namun tidak ada sahutan.
"De." Panggi Kean, hal yang tidak biasa lelaki itu ucapkan. Bahkan Karen yang mendengar sampai tercengang.
"Dena buka pintunya." Ucap Keanu.
"Sayang." Panggil nya.
"Dena, buka atau aku dobrak." Ucap Keanu.
"Bee." Panggil nya lagi.
"Gimana yan?" Tanya Karen.
"Gak ada yang nyaut." Ucap Kean, membuat Karen panik.
"Terus gimana?" Tanya nya.
Keanu yang merasa marah, kesal, dan khawatir membuat emosinya meningkat. Apalagi saat tidak ada respon sama sekali dari Dena.
"Dena Anggia Putri Artadinata, buka pintunya atau aku dobrak." Teriak Keanu.
"Yan, sabar yan." Ucap Karen.
"Dena." Panggil nya lagi.
Karen bergerak cepat mencari kunci kamar cadangan milik Keanu, ia tidak ingin Kean nekat dengan mendobrak pintu kamar nya.
"Kak kenapa?" Tanya Niken, melihat wajah panik Karen.
"Si Dena gak ada respon sama sekali Niken di kamar nya, dan sekarang si Kean lagi teriak-teriak depan pintu kamar." Ucap Karen.
"Hah, serius." Ucap Niken terkejut.
Niken mengingat kembali bagaimana Dena benci menatap David yang saat itu memeluk nya, bahkan rasa simpatik Dena sudah hilang sejak saat ia tahu David anak dari Ella wanita yang menyakiti bunda nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ððĪ jangan lupa like komen dan vote nya ðð
N**: Kok gue deg-degan denger Keanu teriak ð
A: Antara khawatir dan marah jadi satu ya begitu ðĪŠ
N: Semoga Dena gak kenapa-napa ð
A: Semoga ya ð
N: Lah kan elo yg nulis, jadi gue minta Dena gak kenapa-napa ð
A: Oiya, ð eh tapi kan ot*k gue yg mikir ð
N: Iya juga ðĪŠ
A: ððð*