Love Destiny

Love Destiny
MAWAS DIRI



Keesokan harinya, Crystal bangun dengan wajah yang segar dan ceria, mengingat hari ini dia akan pergi kekampus membuat hatinya bahagia.


Sambil tersenyum lebar dia mulai melakukan olah raga ringan ditemani iringan musik dari group band asal negeri ginseng favoritnya, agar tubuhnya kembali fit.


Sekitar lima belas menit Crystal menggerakkan tubuhnya hingga berkeringat. Setelah tubuhnya sudah lebih fresh dari sebelumnya diapun menghentikan aktivitasnya, berjalan menuju nakas, membuka tutup botol dan meminum air putih yang ada dalam botol hingga habis tak bersisa sambil meluruskan kakinya di atas sofa.


Crystal rebahan  diatas sofa sambil memainkan ponselnya, menunggu keringat yang ada ditubuhnya kering terlebih dahulu baru mandi.


Setelah keringat yang ada ditubuhnya mulai mengering, Crystalpun segera berjalan santai menuju kamar mandi sambil bersenandung riang.


Dinginnya air dari shower yang mengalir ke tubuhnya  perlahan mulai merilekskan otot – otot tubuh yang sempat kaku waktu olah raga tadi, membuat tubuhnya menjadi lebih segar.


Cukup lama dia berada didalam kamar mandi, memastikan semua bagian tubuh sudah bersih dan wangi. Setelah selesai, Crystal segera menuju walk in closet dan mulai memilih pakaian yang akan dikenakannya.


“ Kurasa…aku akan memakai yang ini saja…”, gumannya sambil menyambar celana kain warna abu – abu dipadu padankan dengan blouse pendek warna senada dengan hiasan kerut di bagian lengan dan lehernya.


Setelah rapi, Crystalpun segera menuju meja rias dan mulai merias wajahnya tipis seperti sebelum dirinya tinggal dikediaman Arnold.


Crystal yang tidak mau terlalu ribet dalam berdandan hanya memakai pelembab, bedak tipis dan lipglos yang dioles tipis dibibir munggilnya.


“ Sempurna…”, gumannya puas saat melihat kecantikan alaminya terpancar jelas dipantulan cermin yang ada dihadapannya.


Tak lupa dia memakai cardigan warna hitam polos untuk melapisi bagian luar blousenya agar lekuk tubuhnya tidak terlalu kentara. Hal in untuk melindungi dirinya dari amarah sang tunangan yang sangat possesif.


Setelah memastikan semua berkas yang akan dibawa kekampus lengkap semua, Crystal kembali berjalan kearah meja rias, merapikan sedikit rambutnya yang berantakan dan segera menuju rak sepatu untuk memakai sepatu kets warna merah dan mengambil tas ransel yang ada diatas sofa, bersiap untuk keluar dari dalam kamar.


“ Kampus…I’m coming…..”, guman Crystal sambil tersenyum tipis.


Dengan senyum lebar yang mengembang diwajahnya, Crystal mulai berjalan menuruni tangga, bergegas menuju meja makan karena perutnya sudah meronta - ronta minta diisi.


Rambut ekor kudanya terlihat bergoyang – goyang seiring dengan pergerakan tubuhnya.  Saat sudah sampai dibawah, Crystal tersenyum kecut saat mendapati sahabatnya itu sudah duduk manis di depan meja makan.


“ Ada apa dengannya…kenapa dia berpenampilan seperti itu….”, batin Adisty terkejut melihat penampilan Crystal tanpa make up membuat kecantikan alami gadis itu terpancar jelas disana.


Adisty masih berpikir bahwa Crystal akan terus mengikuti saran yang diberikannya untuk mempertahankan penampilan jelek dan menjijikkan yang selama enam bulan terakhir ini dipakainya.


Tapi apa sekarang, sahabatnya itu berpenampilan normal lagi seperti biasa. Bahkan aura cantik yang terpancar dari wajahnya terasa lebih kuat jika dibandingkan dengan sebelumnya.


“ Kenapa kamu berpenampilan seperti itu…”, tanya Adisty sedikit tak terima jika sahabatnya itu kembali cantik lagi


“ Memang ada apa dengan penampilanku…ada yang salah…”, ucapku sambil bergerak memutar, untuk mencari apa ada yang salah dari pakaian yang kukenakan.


“ Bukan bajumu…tapi, mana make up yang biasa kamu pakai…”, ucap Adisty sedikit kesal


“ Aku sudah tidak memakainya lagi karena kata tunanganku…aku lebih cantik yang seperti ini….bukan begitu sayang…”, ucap Crystal sambil mengerling nakal kearah Arnold.


“ Iya…kamu cantik hari ini ”, ucap Arnold lembut.


Jantung Arnold berdetak dengan kencang saat tiba – tiba Crystal bergelayut manja dilengannya. Meski terkejut dengan ulah tunangannya itu, tapi tidak dapat dipungkiri jika hati Arnold cukup bahagia dengan tingkah manja Crystal saat ini.


“ *Tunggu…”


“ sejak kapan hubungan mereka sedekat itu…”,*


“ Apa  aku ketinggalan sesuatu…”


“ tidak….”


“ Ini tidak boleh terjadi….”



Dia kembali melirik dua sejoli yang terlihat berbincang mesra di depan meja makan, mengacuhkan dirinya yang berada disana, seoalah – olah dirinya tak ada.


Hal itu tentu saja membuat Adisti bertambah geram. Namun kekesalan dalam hatinya seketika hilang saat melihat dua orang laki – laki tampan berjalan menuju kearah meja makan.


“ Belum mulai kan sarapannya….”, ucap Mike tersenyum lebar.


Mikepun segera mengambil tempat duduk didepan Arnold dan Crystal bersama tamu yang diajaknya pagi ini untuk sarapan bersama dikediaman adik iparnya itu.


Diapun segera memperkenalkan penyanyi dari negeri ginseng tersebut pada Arnold dan semua orang yang ada disana.


“ oh my god…ada kookie disini…”, batin Crystal kegirangan.


Diapun melayangkan senyum super lebarnya dihadapan cowok korea yang ada didepannya itu. Crystal sama sekali tak menyangka bahwa dia akan bertemu biasnya dirumah ini.


"  Kena kamu….aku ingin lihat bagaimana reaksi Arnold melihat semua ini…”, batin Adisty bahagia saat melihat aura gelap diwajah Arnold melihat sang tunangan tersenyum lebar untuk laki – laki lain.


Jika saja Crystal tidak ingat ada iblis disampingnya, mungkin sekarang dia sudah berlari mendekat dan memeluk biasnya itu dengan erat. Berfoto dan minta tanda tangan di album yang berisi semua informasi mengenai cowok yang biasa dipanggil kookie itu.


“ Tunggu…sepertinya ada yang salah…”, batin Crystal mulai gelisah saat tiba - tiba merasakan hawa dinggin disampingnya.


Senyum lebar yang tadi menghias wajahnya seketika hilang berganti kepanikan yang terlihat disana waktu mendapati Arnold sudah menatapnya dengan tajam.


aura membunuh begitu kental disana, seolah ingin menerkamnya hidup - hidup saat ini juga membuat nyali Crystal langsung menciut.


Dalam diam, Crystalpun mulai mengingat – ingat kehidupannya terdahulu. Dalam ingatan tersebut tampak jelas amarah tunangannya itu saat melihat foto – fotonya bersama group band asal negeri ginseng yang beranggotakan tujuh cowok tampan itu.


Dan akibat kejadian itu, selain mendapat cambukan di punggungnya, Crystal juga dilarang untuk keluar dari dalam kamar selama seminggu dengan penjagaan yang sangat ketat diluar kamarnya.


Bahkan ponselnya juga disita agar tunangannya itu tidak kembali kembali berbuat ulah dan mencoba untuk melarikan diri dari rumah. Mengingat kenangan pahit itu, tanpa sadar tubuh Crystal mulai merinding ketakutan.


Arnold yang menyadari perubahan yang ada dalam diri tunangannya itu berusaha untuk menenangkannya dengan cara mengusap lembut kepala Crystal.


“ Makanlah…bukankah sebentar lagi kamu akan kekampus…”, ucap Arnold lembut.


Diapun segera mengambilkan Crystal beberapa potong ayam saos mentega, kentang goreng, serta sayuran dan meletakkannya diatas piring tunangannya itu, tanpa menghiraukan pandangan aneh yang dilayangkan semua orang terhadapnya.


Melihat pemandangan mesra dihadapannya, darah Adisty mulai mendidih. Dia sangat geram, bagaimana mungkin rencana yang sudah disusunnya dengan sangat rapi bisa gagal total seperti ini.


Dia sangat mengetahui dengan jelas bahwa sahabatnya itu sangat tergila – gila dengan salah satu member group band yang dipanggil kookie itu.


Tapi, ini…kenapa dia bisa setenang itu dan hanya diam saja. Padahal diawal Adisty sangat yakin rencananya kali ini akan berhasill saat melihat senyum lebar sahabatnya itu begitu biasnya duduk dihadapannya.


Adisty menyangka, bahwa Crystal akan langsung lari kearah biasnya dan berteriak histeris serta minta foto bersama.


Seperti yang dia lakukan dulu saat mereka menghadiri konser group band tersebut langsung di korea. Betapa hebohnya Crystal saat melihat biasnya diatas panggung.


“ Jika tahu akan gagal total seperti ini, semalam aku tidak akan sudi untuk tidur dengan Mike.... .”, batinnya geram.


Crystal melihat amarah yang terpancar jelas disorot mata Adisty tersenyum puas dalam hati karena secara perlahan dia akan membuat Adisty merasakan apa yang dulu dia rasakan.


Untung saja tadi dirinya tidak terlalu implusif dan masih bisa mengontrol diri, jika tidak, dia tidak tahu nasib buruk apa yang bakal ia alami.


“ Kurasa aku harus lebih waspada lagi mulai sekarang, karena alur yang terjadi tidak semuanya sama dengan kehidupanku sebelumnya….”, batin Crystal mulai mawas diri saat menyadari bahwa kejadian saat ini tidak terjadi dalam kehidupan sebelumnya.


Sedikit perbedaan meski ada yang sama dalam esensi peristiwanya.