Love Destiny

Love Destiny
Epson 318



Keesokan harinya Rafael memutuskan untuk keluar dari kamar, ia lebih baik mencari keberadaan Felly sendiri.


Dena yang melihat putranya keluar dari kamar menatap sang putra yang memasang wajah datar nya, Dena menghampiri Rafael dan mengelus punggung lelaki itu.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dena.


"Hmmmmm, aku baik-baik saja mom." Jawab nya, Dena tahu Rafael sedang berbohong.


"Kamu mau kemana kak?" Tanya Dena.


"Aku mau mencari Felly mom." Jawab nya jujur, Dena hanya bisa mengiyakan saja. Toh dia juga tidak tinggal diam.


Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat kecelakaan, saat tiba disana El menatap laut yang terlihat tenang.


"Kau begitu terlihat tenang setelah menyembunyikan sumber kebahagiaan ku." Gumam Rafael.


"Aku harus mencari nya kemana setelah ini." Lirih nya frustasi.


"Tuan muda anda disini." Sapa seseorang.


"Apa sudah ada tanda-tanda keberadaan Felly?" Tanya El.


"Maaf tuan, kami masih berusaha keras untuk mencari nona muda." Ucap orang itu, yang tak lain adalah orang kepercayaan tuan James.


"Kau berada disini." Ucap tuan James, membuat El menoleh.


Ah lelaki itu, lelaki yang membuat wanita cantik dan ceria terlahir di dunia ini. Tuan James menggunakan kacamata hitam, mungkin untuk menutupi wajah sedihnya.


"Ya, aku disini." Jawab El, tuan James menoleh dan tersenyum tipis. Hatinya menolak untuk tersenyum, tapi tuan James tidak bisa menunjukkan kesedihan nya di hadapan Rafael juga terlihat menyedihkan.


"Tenanglah Rafael, Felly pasti akan baik-baik saja." Ucap tuan James.


"Apa kau bisa setenang itu?" Tanya Rafael, tuan James tertawa kecil.


"Bohong jika aku tenang dan santai saat kehilangan putriku, tapi apakah aku harus menunjukkan kesedihan ku dihadapan kau dan istriku yang terlihat sangat menyedihkan." Ucap tuan James.


"Aku kira kau tenang-tenang saja." Ucap Rafael, tuan James menoleh menatap El.


"Felly sudah seperti bom waktu bagi diriku dan mommy nya, kepergian Felly membawa keh*ncuran bagi aku dan Alicia El." Ucap tuan James.


"Maafkan aku." Lirih Rafael.


"Kau tahu setelah belasan tahun aku terpisah dengan Felly, dan kebahagiaan tiba-tiba muncul saat Felly kembali kedalam pelukan kami. Namun takdir berkata lain mungkin ini sebuah ujian untuk mengetahui sesayang apa kami kepada putri kami." Ucap tuan James.


"Maaf aku tidak bisa menjaga Felly." Lirih Rafael, lihatlah kedua lelaki datar tanpa ekspresi itu terlihat begitu menyedihkan.


Yang satu sedih kehilangan putrinya dan satunya lagi sedih karena kehilangan wanita yang menjadi sumber kebahagiaan nya, kenapa mereka justru terlihat lucu jika sedang seperti ini.


"Ini bukan salahmu, kecelakaan ini juga saat Felly tidak sedang bersama dengan mu." Ucap tuan James.


Meskipun saat kejadian Felly tidak bersama dengan El, tetap saja lelaki itu merasa bersalah. Andai El bisa lebih menjaga Felly mungkin ini tidak akan terjadi.


...


Di sebuah rumah sakit Devika baru saja terbangun dari tidurnya, ia menatap ruangan yang serba putih itu.


Kepalanya terasa sakit dan pusing, gadis itu mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Saat mengingat semua yang terjadi air matanya menetes, Felly sahabatnya yang hilang.


"Fe_felly." Lirih nya, membuat Devin yang kebetulan sedang menjaga Devika menoleh.


"Sayang kamu sudah sadar." Ucap Devin mengecup kening Devika.


"Pi dimana Felly Pi, Felly baik-baik aja kan Pi Felly gak kenapa-napa kan." Ujar nya, Devin dan Samuel saling pandang.


"Sayang tenanglah Felly baik-baik saja." Ucap Samuel mencoba menenangkan Devika.


"Aku ingin bertemu Felly dimana Felly, antar aku untuk menemui Felly Pi." Pinta Devika, tentu saja Devin dan Samuel terlihat bingung.


"Sayang kamu harus sembuh dulu oke, biar nanti Felly yang menemui kamu." Ucap Samuel.


"Devika." Panggil Kyra.


"Ra Felly ra, dimana Felly." Tanya nya.


"Devika kamu tenang ya, Felly pasti akan di temuin kok kamu tenang." Ucap Kyra, membuat Samuel menatap Kyra tajam.


"Felly belum ketemu kan Ra." Lirih Devika.


"I_iya Felly belum ketemu." Ucap Kyra, Samuel menarik tangan Kyra untuk keluar dari ruang rawat Devika.


"Ish, Sam kamu apa-apaan si." Pekik Kyra.


"Kamu yang apa-apaan Ra, kenapa kamu kasi tau Devika kalau Felly belum ketemu." Ucap Samuel.


"Devika harus tahu itu Sam, Devika harus sadar kalau apa yang aku dan Devika lakuin itu salah." Ucap Kyra.


"Felly itu teman baru kamu Ra, harus nya kamu bisa lebih jaga perasaan Devika. Bukan malah menyudutkan dia." Ucap Samuel, membuat Kyra mengernyit.


"Aku harus jaga perasaan Devika gimana si Sam? Ini semua salah aku dan salah Devika, kita salah karena bawa mobil kebut-kebutan!" Ucap Kyra.


"Aku gak nyangka ya kamu malah bikin Devika lebih merasa bersalah." Ucap Samuel.


"Dan aku lebih gak nyangka kalau kamu egois, kamu boleh sayang sama Devika boleh Sam gak ada yang larang. Tapi pernah gak kamu mikir gimana perasaan mom and dad nya Felly, Felly itu anak satu-satunya juga harapan satu-satunya tuan James dan nyonya Alicia Samuel!" Tegas Kyra, Samuel diam ya cinta nya kepada Devika membuat Samuel tidak mempedulikan orang lain. Ia hanya mengutamakan Devika, entahlah apa yang sebenarnya terjadi kepada Samuel.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€— jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


N**: Thor Felly kemana dah ngumpet lama amat πŸ˜’


A: Felly di culik plankton kali Uun 😧


N: Gue lagi serius woy, bisa-bisanya Lo malah becanda 😭


A: Uun sabar ya, gue sengaja kasi sedih sekarang. Kalo sedih nya nanti pas puasa kan enggak lucu uun 😭


N: Jangan nanti puasa gue batal 😭


A: Mangkanya ya kan, gak lucu lagi puasa malah nangis gara-gara baca novel πŸ˜’


N: Iya juga si bener 😌


A: Sabar oke sabar 😁


N: Ngokhey😁*