Love Destiny

Love Destiny
MENDISPLINKAN KARYAWAN



Rose dan Andrew, sekretaris Abraham terlihat sangat terkejut saat melihat putri bungsu bosnya itu datang kekantor tanpa pemberitahuan.


“ Papa ada kak ?...”, tanya Crystal ramah.


“ Ada non…silahkan masuk…”, ucap Rose ramah dan mulai membukakan pintu ruang kerja Abraham.


“ Bukankah itu tangan kanan Arnold…”, bisik Andrew kepada Rose.


“ Kurasa hubungan mereka cukup baik hingga orang kepercayaan Arnold mengikutinya…”, jawab Rose santai dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


Andrew hanya berdecih sebal karena Rose tidak bisa diajak bergosip. Biasanya wanita itu paling senang yang namanya gossip atau berhibah, namun tidak dengan Rose.


Baginya hal tersebut tidak penting dan membuang – buang waktu saja. Apalagi hal yang dibicarakan oleh semua orang bukanlah hal yang bermutu dan kebanyakan merupakan hoax.


“ Papa…”, teriak Crystal manja sambil menghampiri meja kerja sang papa.


“ Kenapa datang ….kan sudah papa bilang tidak usah…”, ucap Abraham sambil mendesah.


“ Aku ingin bersih – bersih kantor…”, ucap Crystal sambil memeluk Abraham dari belakang kursi kerjanya.


“ Mulai besok, selesai kuliah aku akan kemari…”, ucap Crystal sambil mengecup pipi sang papa dan melenggang keluar.


“ Dasar keras kepala…”, ucap Abraham sambil geleng – geleng kepala.


Abraham pun segera menginstruksikan Rose dan Andrew agar memberikan semua hal yang diperlukan putrinya selama berada dikantor dan membuatnya merasa nyaman.


Abraham sangat paham apa yang dimaksud dengan “ bersih – bersih ” yang diucapkan oleh putrinya tadi.  Dia hanya berharap Crystal tidak terlalu keras terhadap mereka.


Namun apapun yang akan diputuskan oleh putrinya tersebut, Abraham akan selalu mendukung sepenuhnya.


Karena jujur saja Abraham sangat gembira saat mengetahui Crystal ingin mengurus perusahaan atas kemauannya sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun.


Saat ini semua orang yang suda masuk dalam catatan Santoso sedang berada dalam ruang CEO yang selama ini selalu kosong tanpa ada yang menempati.


Ya…Abraham telah memberikan sebagian besar sahamnya untuk Crystal hingga posisi CEO itu dialah yang menempati.


Meski Leony sering data g keperusahaan, kakak Crystal tersebut juga tidak berani menempati ruangan yang dikhususkan untuk sang adik.


Dia biasanya akan berada dalam satu ruangan dengan Abraham, hanya terpisah meja kerja saja. Untuk alasan yang sebenarnya hal itu, tidak ada yang tahu.


Leony hanya beralasan jika lebih nyaman berada satu ruangan dengan sang papa, jika ada yang ingin ditanyakan dia bisa langsung bertanya tanpa harus keluar dari ruangan.


Selain sepuluh orang karyawan yang dipanggil, Santoso juga berada disana. Semua orang terlihat sangat pucat dengan keringat dingin yang mengucur ditubuhnya saat mendapati tatapan tajam dan dingin dari Crystal.


Crystal mengamati satu persatu karyawan yang berdiri dihadapannya dengan intens. Tatapannya sangat tajam, seperti seeekor elang yang sedang mengintai mangsanya.


“ Beri mereka semua SP 1 sekarang…seminggu kemudian jika tidak ada perubahan, langsung beri SP 2…jika masih tetap tidak berubah…langsung pecat…”, perintah Crystal tegas.


“ Aku memang tidak pernah kesini, namun aku punya mata dan telinga disini. Jika Pak Abraham akan toleran dengan sikap kalian, namun aku tidak. Bagi kalian yang merasa tidak  setuju dengan caraku, bisa angkat kaki dari perusahaan detik ini juga…”, ucap Crystal dengan penuh penekanan.


“ Dan untuk Anda Bapak Santoso, sebaiknya mulai disiplinkan karywan anda mulai detik ini. Apalagi hari ini anda membuat kesalahan sangat besar kepada saya…”, ucap Crystal penuh ancaman.


“ Baiklah, semua orang bisa kembali bekerja sekarang, kecuali pak Santoso…”, ucap Crystal sambil mengeluarkan map yang ada dalam tasnya.


Setelah semua karyawan kembali ketempatnya masing – masing, Santoso segera duduk dikursi yang ada dihadapan Crystal dengan wajah pucat pasi.


“ Sebaiknya suruh keponakanmu segera mengembalikan semua dana yang digelapkannya, jika tidak, aku tidak akan segan – segan untuk melaporkannya kepihak berwajib…”, ucap Crystal tegas.


" Anda tidak lupa kan jika masih punya hutang besar di masa lalu...Jika hal sekecil ini tidak bisa segera anda bereskan, maka jangan salahkan saya jika nyawa seluruh keluarga anda jadi taruhannya... ", ucap Crystal dengan suara penuh ancaman.


Tubuh Santoso langsung bergetar mendengar ancaman anak bosnya itu. Jika dulu dia masih bisa hidup karena kebaikan dari Abraham yang mengingat jasa perjuangan dirinya dalam membesarkan perusahaan.


Namun tidak dengan sekarang, Crystal kali ini pasti tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Dan akan mulai mengawasi semua gerak – geriknya, membuat Santoso harus ekstra hati – hati dalam bertindak saat ini.


“ Panggil semua kepala bagian sekarang !!!...”, perintah Crystal sambil mulai mengutak atik laptop yang ada dihadapannya.


“ Baik nona. Jika tidak ada yang lain, saya undur diri dulu…”, ucap Santoso gugup.


Setelah berada diluar ruangan, Santoso baru bisa bernafas dengan lega. Emily yang sedari tadi mengikuti Crystal masuk kedalam perusahaan merasa jika dia seperti tidak mengenali nonanya itu.


Meski sebulan terakhir dia sering dibuat syok dengan perubahan yang ada dalam diri Crystal, namun hari ini dia seperti melihat orang yang berbeda.


Bahkan aura yang dikeluarkan oleh gadis ini sama kuatnya dengan aura yang dikeluarkan oleh Arnold, sangat dominan dan kejam.


“ Emily…apa kau menyadari ada yang aneh selama kita berkeliling tadi ?...”, tanya Crystal tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada dihadapannya.


“ Di loby, ada  seorang pria disudut ruangan yang memiliki gelagat mencurigan dan sudah menatap kita sejak kita masuk….”, ucap Emily Ingin tahu respon Crystal, meski dia sangat tahu siapa sebenarnya pria itu.


“ Dan dilantai tiga serta lantai enam, ada pria berkacamata, pria yang sama mengintai kita secara sembunyi – sembunyi…selanjutnya, tidak ada yang mencurigakan kecuali tingkah  Pak Santoso yang tadi menemani kita , terlihat beberapa kali beliau mencoba memberikan isyarat dengan jarinya setiap kita masuk kedalam suatu ruangan baru…”, ucap Emily menjelaskan apa yang dilihat dan dirasakannya.


Crystal tersenyum lebar, ternyata instingnya masih tajam. Apa yang disebutkan oleh Emily tersebut semuanya dia tahu.


Dia hanya ingin memastikan kehebatan tangan kanan Arnold yang terlihat biasa namun mematikan ini.


“ Untuk orang yang diloby, aku juga pernah melihatnya saat kita ke club NT terakhir kali. Dan aku rasa kamu kenal…siapa dia ?...”, Crystal langsung menembak Emily hingga membuat wanita itu sedikit gelagapan.


“ Dia Enrico, sepupu tuan muda…”, ucap Emily sedikit gugup saat Crystal langsung menembaknya ditempat.


“ Bagaimana hubungan mereka ?...”, tanya Crystal santai.


“ Tidak terlalu baik. Kakeknya adalah adik nyonya besar yang didepak dari keluarga Lincoln…”, ucap Emily secara gamblang.


Jika melihat dari ucapan Emily, Crystal bisa menebak apa yang diinginkan Enrico berada di Abraham Group hari ini.


“ Beritahu Arnold, jika sepupunya  ingin bermain keras dengannya…”, meski Emily tidak terlalu paham apa yang dimaksud Crystal, tapi diapun segera mengirimkan pesan tersebut kepada bosnya.


Hanya hitungan detik setelah dirinya mengirimkan pesan, Arnold langsung menghubunginya. Melihat bosnya menghubungi, Emily minta ijin untuk keluar ruangan.


Crystal yang sebenarnya ingin mengetahui bagaimana respon Arnold tentang peringatannya, terpaksa harus menunda rasa penasarannya karena semua kepala divisi yang tadi dipanggilnya sudah datang.